• About Us
    • Copyright
    • Pedoman Media Siber
    • Privacy Policy
  • Accor Hotels Solo helat Appreciation Night
  • Besok, Choir Competition 2018 digelar
  • Contact Us
  • Crew
    • Abu Nadzib
    • Ardi Sardjono
    • Avrilia Wahyuana
    • Damar Sri Prakosa
    • Fira Maghfirani
    • Ika Wibowo
    • Indra Saputra
    • Iwan Buwono
    • Noer Atmaja
    • Rachmad Agunanto
    • Senja Kurnia
    • Suwarmin
    • Wahyu Panji
  • Index
  • Jadwal Acara
Radio Solopos FM
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us
No Result
View All Result
Radio Solopos FM
No Result
View All Result
Home News

BATAN Produksi Obat Pereda Sakit pada Penderita Kanker

Redaksi by Redaksi
2 March 2019
in News
0
BATAN Produksi Obat Pereda Sakit pada Penderita Kanker

Kepala Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR), Rohadi Awaludin pada acara bincang sehat di Hotel UNS Inn, Solo, Sabtu (02/03/2019).

SoloposFM – Para pengidap penyakit kanker kini dapat bernafas lega, karena rasa sakit yang selama ini dirasakan dapat dikurangi dengan Samarium (Sm) 153 EDTMP yakni sebuah radiofarkama yang dihasilkan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Hal ini disampaikan oleh Kepala Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR), Rohadi Awaludin pada acara bincang sehat di Hotel UNS Inn, Solo, Sabtu (02/03/2019).

Sebagaimana rilis yang diterima Solopos FM, Sm 153 ETDMP menurut Rohadi, merupakan produk penelitian BATAN yang bermanfaat di dunia kesehatan khususnya sebagai obat terapi paliatif atau penghilang rasa sakit pada penderita kanker. “Untuk mengurangi rasa sakit itu secara konvensional mereka biasanya menggunakan obat-obatan analgesik atau penghilang rasa sakit seperti morphin. Namun hal ini tidak bertahan lama, sedangkan apabila mengunakan Sm 153 EDTMP ini bisa bertahan 1-2 bulan,” ujarnya.

Kelebihan lainnya, tambah Rohadi, produk ini tidak menimbulkan efek ketagihan dan fly seperti bila menggunakan morphin, sehingga penderita kanker dapat beraktifitas dengan normal. Melalui PT. Kimia Farma, produk ini telah dipasarkan kepada beberapa rumah sakit agar dapat dimanfaatkan masyarakat secara luas.

Untuk memenuhi kebutuhan radiofarmaka di dalam negeri, Rohadi menjelaskan, pihaknya terus melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk meningkatkan penguasaan teknologi nuklir khususnya dalam memproduksi radiofarmaka. “Selain Sm 153 EDTMP, BATAN juga menghasilkan kit radiofarmaka MIBI yang digunakan untuk mendeteksi fungsi jantung, kit radiofarmaka MDP yang difungsikan untuk mengetahui adanya kanker tulang primer maupun metastase tulang, kit radiofarmaka DTPA untuk mengetahui fungsi ginjal dan MIBG bertanda I-131 untuk terapi kanker neuroendokrin,” tambahnya.

Dalam memproduksi radiofarmaka tersebut, tutur Rohadi, beberapa kendala yang dihadapi yakni produk ini mempunyai sifat radioaktif yang memiliki waktu paruh yang pendek. Akibatnya produk harus segera digunakan setelah dibuat dan tidak disimpan dalam waktu yang lama.

“Untuk itulah, diperlukan perencanaan produksi yang sangat cermat dengan memperhatikan sarana pengangukutan yang cepat khususnya untuk daerah luar Jakarta. Saat ini produksi radiofarmaka dilakukan di Jakarta,” jelasnya.

Agar produk radiofarmaka ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang membutuhkannya, Rohadi berharap, fasilitas kedokteran nuklir di Indonesia diperbanyak, mengingat sampai saat ini baru ada 14 fasilitas kedokteran nuklir. Dari jumlah itupun beberapa diantaranya masih menghadapi kendala pengoperasian yakni Sumber Daya Manusia (SDM) dan peralatan.

“Kami berharap pihak Kementerian Kesehatan memberikan perhatian yang lebih terhadap kondisi fasilitas kedokteran nuklir, khususnya dalam pengembangan SDM dan pemenuhan peralatan. Ada gagasan bahwa beberapa rumah sakit akan dijadikan sebagai pusat penanganan kanker (oncology center),” tuturnya.

Manager Pengembangan Bisnis Organik, Kimia Farma, Wida Rahayu mengatakan, pihaknya berharap produk radiofarmaka yang dihasilkan BATAN mampu bersaing dengan produk impor. Selain itu yang terpenting adalah kontinuitas ketersediaan produk dan stabilitas harga dapat dijaga.

“Secara teknis diharapkan kedepannya akan muncul produk inovatif di bidang kesehatan dari hasil penelitian dan pengembangan antara BATAN dengan Kimia Farma,” ujar Wida.

Menurutnya, untuk memenuhi kebutuhan radiofarmaka yang terus meningkat, diperlukan peningkatan kapasitas dan kualitas produk serta membuat strategi agar ketersediaan radiofarmaka dapat terjamin. “Kami berharap BATAN dan Kimia Farma akan terus berupaya meningkatkan kualitas produknya melalui inovasi yang berkesinambungan dan meningkatkan kapasitas produknya agar kontinuitas produk terjaga,” pungkasnya.

[diupload oleh Avrilia Wahyuana]

Tags: KANKERkesehatanobatbatan

Studio Streaming

Radio Streaming

Recent Posts

  • Warga Laweyan Solo Dapat Hadiah Umrah Iftar Ramadan dari Lorin Group Solo
  • Tirta Ampera Boyolali Perkuat Layanan, Pengaduan Pelanggan Kini Terintegrasi Digital
  • Dana Transfer Pusat Turun Rp1,5 Triliun, Sumanto: Pemprov Jateng Harus Kreatif Gali Potensi PAD
  • Fokus Kolaborasi Pemerintah Pusat–Daerah, Penanganan Rob Pekalongan Masuk Tahap Evaluasi Ulang
  • DPRD Jateng Bahas Raperda Penyelenggaraan Standardisasi Jalan dan Garis Sempadan

Category

  • Lifestyle
  • Opini
  • News
  • Program
  • Event
  • Podcast
  • Galery Foto

Site Links

  • Log in
  • Entries feed
  • Comments feed
  • WordPress.org
  • Copyright
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • About Us

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.