Radio Solopos, SOLO — Bimbingan belajar (bimbel) Smart Kids di Boyolali berkembang dari inisiatif sederhana saat pandemi Covid-19 menjadi usaha pendidikan nonformal dengan ratusan siswa dan empat titik layanan.
Owner Bimbel Smart Kids, Eri Rahmawati, mengatakan usaha tersebut bermula dari permintaan wali murid yang menginginkan anaknya tetap mendapatkan pendampingan belajar ketika kegiatan sekolah dihentikan sementara akibat pandemi.
Berbekal latar belakang pendidikan guru sekolah dasar (PGSD), Eri awalnya hanya membuka les secara terbatas di rumah.
Namun, jumlah siswa terus bertambah setelah ia membagikan kegiatan belajar melalui media sosial.
“Awalnya dari satu murid, lalu bertambah karena orang tua lain juga membutuhkan. Dari situ mulai berkembang,” ujarnya dalam Talkshow Selasar UMKM di Radio Solopos, Selasa (28/4/2026).
Seiring peningkatan jumlah siswa, ia mulai merekrut tutor tambahan. Meski demikian, ia mengakui perjalanan usaha tidak selalu mudah. Salah satu tantangan utama adalah menjaga keberlangsungan jumlah siswa yang kerap fluktuatif, terutama saat masa libur sekolah atau ketika orang tua memilih mendampingi anak belajar secara mandiri di rumah.
Pada tahap awal pengembangan usaha, Eri juga melakukan berbagai upaya promosi secara konvensional, seperti menyebarkan brosur di sekolah-sekolah.
Ia bahkan menyesuaikan waktu pembagian brosur dengan jam pulang sekolah untuk menjangkau siswa dan orang tua secara langsung.
Seiring perkembangan teknologi, strategi pemasaran kemudian beralih ke media digital. Ia memanfaatkan platform seperti WhatsApp, Instagram, dan TikTok, serta membangun basis data kontak wali murid untuk promosi berkelanjutan.
“Sekarang lebih banyak memanfaatkan media sosial, terutama WhatsApp, karena lebih efektif menjangkau orang tua,” katanya.
Hingga kini, Bimbel Smart Kids telah memiliki sekitar 300 siswa dengan empat lokasi layanan di wilayah Boyolali, terutama di Ampel dan sekitarnya. Mayoritas siswa berasal dari jenjang sekolah dasar (SD), meskipun layanan juga tersedia untuk tingkat TK hingga SMA.
Dalam proses pembelajaran, Eri menekankan pentingnya menciptakan suasana belajar yang nyaman dan tidak kaku. Oleh karena itu, konsep yang diterapkan berbeda dari kelas formal, yakni dengan pendekatan berbasis rumah atau homie, seperti belajar secara lesehan serta menyediakan fasilitas sederhana berupa minuman dan camilan. Menurutnya, pendekatan tersebut penting untuk menjaga kondisi psikologis anak agar tidak jenuh setelah menjalani aktivitas belajar di sekolah.
“Kalau suasananya nyaman, anak lebih mudah menerima pelajaran dan tidak merasa terbebani,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, Bimbel Smart Kids menerapkan sistem pembelajaran kelompok kecil dengan jumlah maksimal lima siswa per kelas.
Kebijakan tersebut dilakukan untuk menjaga fokus belajar dan memastikan setiap siswa mendapatkan perhatian yang optimal dari tentor.
Selain itu, pengelompokan siswa juga disesuaikan dengan karakter masing-masing anak untuk meminimalkan gangguan selama proses belajar.
“Yang utama adalah membangun kenyamanan dulu. Kalau sudah cocok dengan gurunya, anak biasanya lebih mudah diarahkan,” katanya.
Di sisi lain, ia juga melihat adanya kecenderungan orang tua yang sepenuhnya menyerahkan proses belajar anak kepada bimbel tanpa memantau perkembangan secara langsung.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Bimbel Smart Kids menghadirkan sistem buku penghubung yang diisi oleh tutor setiap sesi pembelajaran.
Buku tersebut juga harus ditanggapi oleh orang tua sebagai bentuk komunikasi dua arah.
Eri menilai komunikasi yang baik dengan orang tua menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam mengembangkan usaha bimbel.
Melalui pendekatan tersebut, kepercayaan orang tua meningkat dan turut mendorong pertumbuhan jumlah siswa.
Ke depan, ia berkomitmen untuk terus mengembangkan Bimbel Smart Kids secara bertahap dengan tetap menjaga kualitas pembelajaran, memperkuat manajemen, serta memperluas jangkauan layanan tanpa mengabaikan kenyamanan siswa sebagai prioritas utama.
