Radio Solopos, SOLO — Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) batik modern Galeri Batik Ardev mampu memproduksi lebih dari 3.000 potong pakaian setiap bulan dengan mengandalkan pemasaran online, inovasi motif, serta strategi membaca tren pasar anak muda.
Owner Galeri Batik Ardev, Ary Yulianto, mengatakan usaha tersebut dirintis setelah dirinya memutuskan keluar dari pekerjaan di sektor perbankan pada 2017.
Awalnya, ia hanya mencoba bisnis fashion sebagai reseller sebelum akhirnya fokus mengembangkan usaha batik pada 2018.
“Awalnya saya tidak punya passion di dunia batik. Setelah resign juga sempat bingung mau ngapain. Kebetulan ada teman yang mengajari bisnis ini dan akhirnya saya coba sampai cocok,” ujar Ary dalam Talkshow Selasar UMKM di Radio Solopos, Senin (4/5/2026).
Ary menilai perkembangan bisnis online yang meningkat pesat sebelum pandemi Covid-19 menjadi peluang besar untuk mengembangkan usaha batik. Untuk membaca tren pasar, ia memanfaatkan Pinterest, Google Trends, hingga optimasi SEO agar produknya mudah ditemukan konsumen di market place.
Menurutnya, pasar batik saat ini menuntut pelaku usaha lebih adaptif terhadap selera konsumen, khususnya generasi muda. Karena itu, Galeri Batik Ardev lebih mengutamakan motif modern, kombinasi warna, serta model pakaian yang mengikuti tren dibanding menonjolkan filosofi motif klasik.
“Kami lebih mengutamakan matching warna dan motif sesuai selera pasar anak muda sekarang. Jadi lebih ke kombinasi modern dan abstrak,” katanya.
Produk Galeri Batik Ardev didominasi batik printing dengan motif hasil modifikasi sendiri maupun hasil kolaborasi bersama pengrajin di Sragen. Motif parang dipadukan dengan unsur abstrak dan grafis menjadi salah satu ciri khas produknya.
Selain motif modern, Ary juga menyediakan layanan custom ukuran dan model pakaian. Konsumen dapat memesan seragam keluarga hingga model pakaian tertentu dengan tambahan biaya sekitar Rp20.000 hingga Rp50.000 tergantung tingkat kerumitan desain.
“Kalau ada pembeli membawa contoh model pakaian, nanti kami konsultasikan dengan penjahit apakah memungkinkan atau tidak untuk dibuat,” ujarnya.
Dalam satu bulan, Galeri Batik Ardev memproduksi lebih dari 3.000 potong pakaian yang terdiri atas kemeja, blus, dan rok batik. Harga produk dipasarkan mulai sekitar Rp150.000 hingga Rp200.000 per potong untuk kategori kemeja.
Ary menjelaskan setiap bulan pihaknya menargetkan peluncuran dua hingga tiga motif baru. Motif yang kurang diminati pasar akan dievaluasi dan tidak lagi diprioritaskan dalam produksi.
Saat ini, warna gelap seperti hitam dan terakota menjadi tren yang paling banyak diminati konsumen. Sementara warna-warna cerah mulai dikurangi karena mengalami penurunan minat pasar sejak akhir 2025.
Dalam pemasarannya, Galeri Batik Ardev mengandalkan market place, iklan digital, konten media sosial, serta pemberian voucher promosi.
Meski sempat mengalami penurunan penjualan hingga sekitar 75% saat awal pandemi Covid-19, Ary mengaku usahanya mampu bertahan melalui strategi flash sale dan pemasaran online.
“Waktu pandemi penjualan sempat turun drastis. Cara bertahannya waktu itu dengan flash sale dan memperbanyak penyebaran link produk,” katanya.
Di tengah persaingan bisnis online fashion yang semakin ketat, Ary menyebut tantangan terbesar UMKM saat ini adalah kenaikan biaya admin market place, perang harga, hingga risiko desain produk yang mudah ditiru kompetitor.
“Biaya admin market place sekarang semakin besar dan aturan makin ketat. Selain itu, desain yang sedang laku juga mudah ditiru kompetitor,” ujarnya.
Meski demikian, Galeri Batik Ardev tetap berkembang dan kini melibatkan sekitar 10 hingga 12 orang dalam proses produksi maupun operasional usaha, mulai dari penjahit, admin, hingga tim konten.
Ary berharap usahanya tidak hanya berkembang secara bisnis, tetapi juga mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
“Yang paling penting bagi saya selama menjalankan usaha ini adalah bisa membuka lapangan kerja untuk orang-orang sekitar,” katanya.
Ary juga menekankan bahwa membangun usaha membutuhkan mental yang kuat dan keberanian menghadapi risiko.
Menurutnya, seseorang tidak perlu menunggu semuanya sempurna untuk memulai bisnis, karena pengalaman dan proses akan menjadi pembelajaran utama dalam menjalankan usaha.
“Usaha terbaik adalah usaha yang dilakukan. Tidak usah terlalu banyak berpikir dulu, jalani saja dulu prosesnya,” ujarnya.
Dengan terus berinovasi mengikuti perkembangan tren dan kebutuhan pasar, Galeri Batik Ardev berharap dapat memperluas jangkauan pasar sekaligus mendorong minat generasi muda untuk tetap mengenakan batik dalam berbagai aktivitas sehari-hari.
