Radio Solo Pos, SOLO – Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Solo sukses menyelenggarakan festival kebudayaan bertajuk “Sukaria Jawa Jawi Solo”.
Berlangsung dari Selasa (23/6/2026) hingga Minggu (28/6/2026) di Dalem Joyokusuman, acara ini mengubah wajah situs bersejarah menjadi ruang publik yang segar dan sangat diminati oleh generasi muda tanpa menghilangkan identitas aslinya.
Kepala UPTD Museum Disbudpar Kota Solo, Bonita Rintyowati, mengatakan awalnya kegiatan tersebut dirancang sebagai Pekan Kebudayaan Daerah.
“Nama Pekan Kebudayaan Daerah itu terkesan ‘tua banget’ dan kurang menjual. Lalu muncul gagasan dari Mas Rendy, ‘Sukaria Jawa Jawi”,” ujar Bonita dalam talkshow Selasar UMKM Radio Solopos, Kamis (25/6/2026).
Animo Masyarakat
Konsep segar ini terbukti efektif menarik animo masyarakat lintas usia, target awal pengunjung yang dipatok 400 orang per hari terlampaui jauh sejak hari pertama.
Pada hari pertama, tercatat 528 pengunjung hadir, disusul lonjakan tajam pada hari kedua sekitar 1.800 orang. Bahkan, pada hari ketiga per jam 13.00 WIB, jumlah pengunjung sudah menyentuh angka 1.100 orang.
Founder Sukaria Jawa Jawi, Rendy Hapsanto, membeberkan rahasia kesuksesan ini terletak pada pemenuhan kebutuhan visual anak muda masa.
“Anak muda sekarang melihat sesuatu dari sisi Instagramable. Kami memanfaatkannya dengan menyediakan banyak spot foto unik di Dalem Joyokusuman agar mereka tertarik datang, berfoto, dan secara tidak langsung mulai mempelajari budaya Jawa,” kata Rendy.
Hiburan Nonstop
Daya tarik eksentrik adalah keberadaan instalasi seni kontemporer unik, seperti instalasi jerapah, gajah terbalik, lorong bunga, gunungan, hingga instalasi seni Rajamala khas Museum Radya Pustaka.
Kurator sekaligus pengisi acara, Djongko Rahardjo, menambahkan bahwa antusiasme anak muda sangat tinggi terhadap stand edukasi budaya yang interaktif, seperti ramalan wuku oleh filolog dan prosesi jamasan keris.
“Banyak anak muda yang mengaku orang Jawa tetapi tidak mengerti budayanya sendiri. Melalui event ini, kami menyentuh rasa penasaran mereka melalui visual yang menarik dan pengalaman langsung. Selain itu agar anak muda saat ini lebih dekat dan dapat langsung merasakan budayanya sendiri.” tuturnya.
Tak hanya itu, di Sukaria Jawa Jawi juga menampilkan pementasan seni tradisional seperti Kentrung dan Keroncong, festival ini juga dimeriahkan oleh pertunjukan balet di malam minggu.
Ada juga open stage dari balerina-balerina Kota Surakarta, yoga, spa tradisional, pembuatan jamu bersama Asosiasi Rempah Pawon Rempah Solo (Pareso), belajar membatik, hingga bursa pakaian pengantin (preloved) berkualitas hasil kerja sama dengan Harpi Melati Solo Raya.
Sebagai langkah strategis jangka panjang, Bonita menegaskan bahwa “Sukaria Jawa Jawi” direncanakan menjadi agenda tahunan.
Menanggapi kekhawatiran publik mengenai banyaknya event di Solo yang hanya viral di awal lalu meredup, Djongko Rahardjo optimistis festival ini akan bertahan lama.
“Untuk jangka panjang memang membutuhkan pemikiran dengan usaha yang effort. Namun, kami percaya dengan konsep matang yang terus dikembangkan sesuai perkembangan zaman, brand Sukaria Jawa Jawi akan eksis dalam jangka panjang,” pungkasnya.
