Radio Solopos, SOLO — Solo Batik Carnival (SBC) 2026 mengusung tema Pitulas atau akronim dari Pitulungan Lan Welas.
Tema tersebut dipilih untuk menandai perjalanan SBC yang memasuki usia ke-17 dengan mengangkat nilai gotong royong, kepedulian, dan kolaborasi semangat membangun Kota Solo.
“Pitulungan dan Welas menggambarkan aksi nyata membantu sesama yang dilandasi empati. Semangat itu menjadi dasar kolaborasi kami untuk membesarkan Kota Solo.” Ungkap Ade Sugriwa selaku CEO Solo Batik Carnival dalam talkshow Selasar Radio Solopos, Jum’at (10/7/26).
CEO Solo Batik Carnival, Ade Sugriwa, mengatakan tema Pitulas lahir dari proses kajian yang dilakukan sejak akhir 2025.
Tim SBC menelusuri berbagai potensi Industri Kecil Menengah (IKM) di Kota Solo sebelum menentukan konsep utama penyelenggaraan tahun ini.
Hasilnya, terdapat lima potensi unggulan dari lima kecamatan yang menjadi inspirasi.
Di antaranya industri shuttlecock dan blangkon di Serengan, mebel di Banjarsari, kurungan burung di Jebres, serta batik di Laweyan.
Seluruh potensi tersebut diterjemahkan menjadi desain kostum peserta SBC 2026.
Kampung Inspirasi
Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Surakarta, A. Satmaka Nugraha, mengatakan konsep tersebut sejalan dengan upaya pemerintah untuk memperkuat promosi potensi ekonomi kreatif di tingkat kampung.
“Solo Batik Carnival menjadi media untuk mempromosikan potensi kampung dan produk unggulan daerah melalui kolaborasi seni pertunjukan dan ekonomi kreatif.” ujarnya.
Menurutnya, Solo Batik Carnival menjadi media untuk mengenalkan berbagai produk unggulan daerah yang masih belum banyak diketahui masyarakat luas.
Sinergi antara seni pertunjukan dan sektor industri diharapkan mampu memperluas promosi dan melahirkan inovasi baru.
Pada penyelenggaraan tahun ini, SBC menghadirkan tiga defile utama yang terinspirasi dari shuttlecock, mebel, dan kurungan burung.
Kolaborasi Perkuat Pariwisata
Panitia memastikan koordinasi lintas instansi telah dilakukan untuk mendukung kelancaran acara.
Dinas Perhubungan, kepolisian, Satpol PP, hingga sektor kesehatan dilibatkan dalam pengamanan dan pengaturan pelaksanaan karnaval.
SBC 2026 juga mempertahankan konsep pembelajaran bagi peserta.
Seluruh peserta diwajibkan merancang sekaligus membuat kostumnya sendiri setelah mengikuti workshop selama sekitar tiga bulan.
Pelatihan meliputi pembuatan kostum, koreografi, hingga tata rias karakter.
Ade mengatakan konsep tersebut menjadi ciri khas SBC yang tidak hanya menampilkan pertunjukan, tetapi juga mencetak kreator baru di bidang seni kostum.
Penyelenggara menargetkan Solo Batik Carnival terus menjadi magnet wisata Kota Solo.
Kolaborasi lintas sektor diharapkan mampu mendukung target kunjungan wisatawan sekaligus memperkuat promosi produk unggulan daerah melalui pertunjukan budaya yang kreatif dan berkelanjutan.
