Radio Solopos, SOLO – Pembangunan Flyover Manahan-Purwosari diharapkan tidak hanya mampu mengurai kemacetan, tetapi juga bisa mempercantik wajah Kota Solo sebagai gerbang kota.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Solo, Nur Basuki, mengatakan pembangunan infrastruktur jalan di Kota Solo dilakukan dengan banyak pertimbangan.
Di antaranya seperti mempertimbangkan kelancaran lalu lintas dan aspek estetika kawasan.
Menurutnya, saat ini perubahan dimensi kendaraan yang semakin besar menjadi salah satu tantangan.
Tantangan tersebut menghambat kinerja perencanaan infrastruktur jalan.
Banyak kendaraan dengan muatan yang over melintasi jalanan yang bukan kelasnya.
Kondisi tersebut membutuhkan koordinasi antara DPUPR, Dinas Perhubungan (Dishub), dan Satlantas terutama dalam setiap pembangunan yang berpotensi memengaruhi arus lalu lintas.
“Setiap ada kegiatan pembangunan, mereka bikin andalalin. Andalalin itu analisa dampak lalu lintasnya. Ini salah satunya beban kendaraan yang mau masuk ke proyek itu apa saja, dia mau kita carikan lewat mana, arahnya dimana, kedua dia masuk bisa tidak, ini salah satu pertimbangan teknis waktu analisa dampak lalu lintas,” ujar Basuki dalam Talkshow Selasar Radio Solopos, Kamis (23/7/2026).
Perkuat Infrastruktur Pendukung
Basuki mengatakan sampai saat ini pelebaran jalan bukan menjadi pilihan utama karena tingginya nilai lahan di Kota Solo.
Sebagai alternatif, pemerintah berupaya memaksimalkan fungsi jalan yang sudah ada dengan penataan jalur lambat serta pembangunan pedestrian.
Menurutnya, pembangunan jalan ke depan akan diupayakan selalu disertai penataan fasilitas pejalan kaki agar kawasan kota menjadi lebih tertata.
Ia menjelaskan pedestrian juga dapat dimanfaatkan untuk parkir kendaraan selama tidak mengganggu ruang bagi pejalan kaki.
“Kalau dari kekuatan material yang kita pasang, sudah pakai paving 8 cm itu memang diperuntukkan untuk parkir, secara aturan boleh selama tidak mengganggu perjalanan kaki,” kata Basuki.
DPUPR selain memastikan jalan pedestrian tetap bisa berjalan, pihak mereka juga terus melakukan sapu lubang.
Pertahunnya bisa 7.000 sampai 20.000 lubang yang ditambal untuk terus menjaga kenyamanan masyarakat.
Pihak DPUPR selain mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), terus mengusahakan usulan dana ke APBD Provinsi, Dana Alokasi Khusus (DAK), bahkan Inpres Jalan Daerah (IJD).
DPUPR terus bertekat untuk membangun infrastruktur yang bisa membawa kebermanfaatan bagi masyarakat.
Libatkan Masyarakat
Basuki menambahkan pembangunan ruang publik di Kota Solo dilakukan dengan melibatkan masyarakat dan komunitas yang akan memanfaatkan fasilitas tersebut.
Salah satu contohnya ialah penyediaan ruang di bawah flyover yang dirancang setelah berdiskusi dengan komunitas skateboard.
Pelibatan para seniman lokal saat pembangunan flyover Purwosari juga demikian.
Para seniman batik yang merekomendasikan baiknya menggunakan model dan desain yang seperti apa.
DPUPR terus berusaha dalam Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) mereka untuk tetap menjaga jiwa Jawa yang dimiliki Kota Solo.
Selain itu, DPUPR juga membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan masukan serta kritik melalui layanan pengaduan pemerintah, media sosial, dan kanal pelayanan dinas.
Menurut Basuki, berbagai masukan tersebut menjadi bahan evaluasi agar pembangunan infrastruktur benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Justru berbagai masukan dari masyarakat menjadi bahan untuk memperbaiki perencanaan agar ruang publik yang dibangun benar-benar bermanfaat,” tutup Basuki.
