Radio Solopos, SOLO – UMKM kuliner Cireng Endud mengandalkan kualitas produk sebagai strategi utama memperluas pasar di Kota Solo.
Pada awalnya usaha kuliner ini berkembang di Yogyakarta.
Owner Cireng Endud, Piar, mengatakan mempertahankan cita rasa menjadi prioritas meski harga bahan baku terus mengalami kenaikan.
Menurutnya, kualitas produk yang tetap terjaga mampu membangun loyalitas pelanggan sehingga penyesuaian harga tidak menjadi persoalan bagi konsumen.
Cireng Endud sendiri mendapatkan inspirasi rasa dari nama kucing.
Karena kedua owner walaupun memiliki cabang lokasi yang berbeda, tetapi sama-sama berupa cat lovers.
Sekaligus menjadi tekat, bahwa bukan hanya kucing tapi isian cireng mereka juga penuh dan gendut.
Varian Rasa
Piar menjelaskan bahwa Cireng Endud pada awalnya hanya memiliki satu varian, yakni ayam pedas.
Seiring dengan meningkatnya permintaan konsumen, usaha tersebut kemudian mulai mengembangkan berbagai varian baru seperti melted cheese dan ayam original.
Varian Melted Cheese muncul karena banyak permintaan varian rasa untuk anak-anak yang tidak menyukai pedas.
Sedangkan varian ayam original muncul karena permintaan konsumen yang menginginkan rasa lain dari ayam pedas.
Penambahan menu tersebut dilakukan berdasarkan kebutuhan pelanggan.
Yang memiliki keinginan pilihan rasa berbeda untuk berbagai kalangan usia dan selera.
Kemungkinan kedepannya, tim Cireng Endud untuk mengembangkan varian rasa baru masih ada.
Akan tetapi saat ini mereka masih berkonsep pada R&D untuk mengembangkan kebutuhan.
“Kalau untuk menambah varian kita kemungkinan ada. Tapi kita masih konsep R&D dulu, masih mengembangkan kebutuhan. Kita masih mengandalkan tiga varian ini dulu. Karena ketiga varian ini yang paling banyak diminati oleh kalangan.” Ujar Piar dalam Talkshow Selasar UMKM Radio Solopos, Kamis (30/7/2026).
Perluas Pasar Solo
Owner cireng Endud cabang Solo, Nina, mengatakan pembukaan gerai di Solo menjadi langkah memperkenalkan produk kepada masyarakat.
Masyarakat Solo rupanya masih banyak yang belum mengenal cireng isi premium.
Stigma yang beredar dalam masyarakat Solo masihlah cireng isi seribuan yang mungkin sering ditemui di gerobakan.
Menurut Nina, tantangan utama bukan pada persaingan usaha.
Namun justru dari usaha untuk membangun kebiasaan masyarakat mencoba produk baru.
Ia menilai pengalaman pertama pelanggan menjadi faktor penting karena banyak konsumen akhirnya kembali membeli setelah mencicipi produknya.
“Yang penting mulai dulu. Jangan terlalu banyak berpikir siapa yang akan membeli. Kalau produknya enak dan kualitasnya konsisten, pelanggan akan datang sendiri,” kata Nina.
Gerai di Solo beroperasi setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 21.00 WIB, dengan jam operasional lebih panjang saat pelaksanaan Solo Night Market.
Nina mengaku bahwa selama Solo Night Market, dirinya bisa baru tutup pukul 23.00 WIB.
Selain menjual produk siap santap, Cireng Endud juga menyediakan produk beku (frozen) yang dapat diolah sendiri konsumen.
Strategi Pemasaran
Piar menjelaskan pihaknya tidak berfokus mengikuti berbagai kegiatan bazar atau pameran.
Keputusan itu muncul setelah diadakan evaluasi efektivitas strategi.
Menurutnya, usaha kini lebih diarahkan untuk membangun pelanggan loyal.
Para pelanggan tersebutlah yang nantinya dengan sukarela merekomendasikan produk kepada orang lain.
Sistem tersebut lebih mirip dengan getok tular, dimana setelah satu orang mencoba dirinya akan memberikan rekomendasi ke orang dekatnya yang lain untuk ikut mencoba.
Selain menerima pembelian di Yogya dan Solo, Cireng Endud juga bisa melakukan pengiriman ke luar kota dengan thermal bag dan via paxel.
Di sisi lain, media sosial turut membantu mereka memperkenalkan Cireng Endud kepada masyarakat.
Review dari pelanggan mampu meningkatkan minat publik terhadap produknya.
Meski demikian, Piar mengaku tidak khawatir jika produknya ditiru pelaku usaha lain.
Karena kualitas rasa dan proses produksi menjadi identitas khas yang sulit ditiru.
Sehingga hal tersebut tetap akan bertahan sebagai keunggulan utama dari Cireng Endud.
