Radio Solopos, SOLO – Tren work from coffee (WFC) semakin berkembang di Kota Solo dengan memanfaatkan kafe sebagai ruang kerja.
Hal tersebut terjadi seiring dengan meningkatnya jumlah pekerja fleksibel, mahasiswa, dan pelaku industri kreatif.
Perkembangan tren tersebut mendorong pengelola kafe menghadirkan berbagai fasilitas yang mendukung kenyamanan pengunjung.
Seperti memperhatikan akses internet, area untuk bekerja, hingga menu makanan dan minuman yang beragam.
Coffee Marketing Agency Bengawan Coffee Club, Vani Putri, mengatakan tren WFC tidaklah sekadar gaya hidup atau fenomena tren sesaat.
Menurutnya, telah terjadi perubahan pola kerja yang semakin fleksibel.
Hal tersebut membuat kebutuhan akan ruang kerja di luar kantor terus meningkat.
“Menurutku ini bisa jadi permanen. Karena lihat cara kerjanya. Banyak pekerjaan yang bisa dimonitor,” ujarnya dalam Talkshow Selasar Radio Solopos, Jumat (31/7/2026).
BCC
Vina menjelaskan bahwa Bengawan Coffee Club (BCC) Adalah tempat untuk mereka ngopi bersama.
Komunitas tersebut bukan yang serius, melainkan lebih ke perkumpulan yang obrolannya saling cocok lali membentuk grup.
Perkumpulan tersebut juga tidak harus diikuti oleh seluruh anggota.
Kadang ada yang bisa diikuti sampai 12 orang, tapi juga kadang ada yang bisa hanya satu atau dua orang.
Mereka yang berada di BCC juga berasal dari profesi yang berbeda-beda, ada yang dokter, ada yang banker, ada yang dosen, ada marketing, dan ada juga yang memiliki coffee shop.
Obrolan mereka juga tidak harus satu tema yang linear, mereka membicarakan hal-hal santai dan kadang bahkan pergi melakukan aktivitas lain di luar.
Meskipun demikian, mereka belum memiliki akun secara resmi maupun kepengurusan.
Arah mereka lebih ke komunitas yang kekeluargaan.
“Kalau penambahan member itu kita nggak ngerti karena base-nya kita kekeluargaan.” Ujar Vani.
Sesuaikan Kebutuhan
Neurulogist Bengawan Coffee Club (BCC), Maisan Nafi, mengatakan setiap orang sebaiknya memilih kafe sesuai kebutuhan aktivitas yang akan dilakukan.
Menurutnya, suasana ramai maupun tenang dapat dipilih dari preferensi individu terhadap suasana.
Karena hal tersebut memengaruhi produktivitas sehingga pengunjung perlu menentukan lokasi yang sesuai sebelum berangkat.
Selain itu, ulasan di internet juga membantu untuk menemukan tempat yang sesuai untuk tiap keperluan.
Sementara itu, Vina, mengingatkan pentingnya menjaga etika selama bekerja di kafe.
Menurutnya, pengunjung perlu menghargai kepentingan pengguna kafe lain.
Hal tersebut bisa dicontohkan dari misalkan di sekitar ada yang sedang WFC maka baiknya kita tidak bersuara keras atau heboh.
Peluang Pelaku Usaha
Maisan menilai tren WFC masih memiliki prospek berkembang di Solo.
Dengan banyak dukungan oleh perguruan tinggi dan meningkatnya jumlah mahasiswa.
Menurutnya, mahasiswa sejak lama telah memanfaatkan kafe sebagai tempat mengerjakan tugas.
Maisan menjelaskan bahwa kopi memang memiliki efek pada tubuh yang bisa membuat manusia lebih mudah berkonsentrasi, mempertahankan fokus, dan lebih produktif.
”Jadi ketika kita mencium aroma kopi, enak, menenangkan, itu bisa mempengaruhi mood kita. Akhirnya ketika moodnya kita baik, lalu kita merasa tenang, stressnya akan menurun, dan kita akan ada peningkatan dopamine,” ujar Maisan.
Meningkatnya pekerja jarak jauh dan pelaku industri kreatif juga membuka peluang.
Peluang ini terbuka bagi para pelaku usaha kedai kopi untuk menyediakan fasilitas yang lebih lengkap.
Vani berpendapat bahwa hal tersebut menjadi tantangan juga peluang bagi pengelola kafe.
Supaya mereka bisa untuk terus beradaptasi dengan kebutuhan konsumen.
Penyediaan fasilitas yang mendukung aktivitas bekerja akan menjadi salah satu nilai tambah.
Di dalam upaya menarik pelanggan di tengah persaingan bisnis kedai kopi yang makin berkembang di Kota Solo.
