Radio Solopos, SOLO — Pemerintah Kabupaten Karanganyar menyiapkan sejumlah strategi untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan memperkuat posisi daerah tersebut sebagai destinasi unggulan di Jawa Tengah. Upaya itu dilakukan melalui pengembangan wisata tematik, penguatan akses transportasi, peningkatan keselamatan, serta penyelenggaraan berbagai kegiatan wisata.
Arah pembangunan pariwisata tersebut mengacu pada Peraturan Bupati Karanganyar Nomor 6 Tahun 2025 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Karanganyar Tahun 2026–2045.
Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Karanganyar mengembangkan empat kelompok kerja atau pokja untuk mendorong inovasi pariwisata. Keempatnya berfokus pada sport tourism, ecoculture, wellness, dan enthusiasm. Pendekatan tersebut diarahkan untuk menghadirkan pengalaman wisata yang lebih beragam dan menarik bagi pengunjung.
Penguatan akses menuju kawasan wisata juga menjadi salah satu prioritas. Pemerintah daerah mendorong perluasan layanan bus Batik Solo Trans (BST) hingga Terminal Makuthoromo, Karangpandan. Wisatawan dari Solo nantinya dapat melanjutkan perjalanan menggunakan layanan shuttle lokal menuju sejumlah destinasi, seperti Candi Cetho, Candi Sukuh, dan Tawangmangu.
Selain aksesibilitas, aspek keselamatan wisata turut menjadi perhatian. Seluruh armada jip wisata direncanakan menjalani registrasi resmi dan pemeriksaan kelayakan atau ramp check secara berkala. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan keamanan wisatawan saat menjelajahi medan di lereng Gunung Lawu.
Dalam pengelolaan kawasan wisata, PUD Aneka Usaha Karanganyar menjalin kerja sama dengan Perum Perhutani KPH Surakarta. Kolaborasi tersebut mencakup pengelolaan kawasan seluas 7,9 hektare yang meliputi jalur pendakian Puncak Lawu via Cemoro Kandang, Taman Saraswati, serta kawasan alam dan religi Pringgodani.
Karanganyar juga mendorong pengembangan wisata berbasis kegiatan atau event-driven tourism. Waduk Jlantah, misalnya, diarahkan menjadi lokasi kegiatan berkala melalui Jlantah Fair. Kegiatan lain, seperti Lawu Motocamp dan Megalithic Trail Adventure, turut dikembangkan untuk menarik wisatawan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.
Di tingkat desa, pengelolaan destinasi wisata berbasis alam dan paralayang, seperti Desa Segorogunung dan Desa Petung, didorong agar semakin profesional melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Melalui berbagai strategi tersebut, Pemkab Karanganyar berupaya memperkuat daya saing pariwisata sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.














