Radio Solopos, SOLO — Para guru SMP Negeri 9 Surakarta mendapatkan pembekalan penting terkait perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) melalui kegiatan pelatihan Guru Cakap Digital: Optimalisas AI untuk Pembelajaran Efektif.
Pada hari pertama, Rabu (19/11/2025), guru mendapat pelatihan dasar-dasar AI yang menghadirkan narasumber Noer Atmaja, Master Trainer AI Ready ASEAN.
Pelatihan ini digelar untuk meningkatkan literasi digital dan kesiapan guru menghadapi transformasi pendidikan berbasis teknologi.
Dalam sesi pelatihan tersebut, Noer Atmaja menjelaskan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) merupakan teknologi yang memungkinkan komputer belajar seperti manusia, bukan sekadar mengikuti perintah yang sudah diprogram.
“AI bukanlah sihir. Ia belajar dari contoh dan semakin berkembang jika datanya semakin banyak,” tegas Noer, yang juga penyiar Radio Solopos ini.
Para guru diperkenalkan pada konsep dasar perbedaan antara program komputer tradisional dan AI. Program biasa hanya mengikuti aturan yang telah ditentukan, sementara AI mampu menganalisis pola, mengenali objek baru, memahami suara, hingga membuat prediksi.
Noer juga memaparkan bagaimana proses AI bekerja melalui tiga tahap utama yakni pengumpulan data, belajar dari data, serta membuat prediksi dan evaluasi ulang.
“AI dapat melihat, mendengar, dan mengambil keputusan berbasis pola. Hal inilah yang menjadikannya relevan di dunia pendidikan,” ujarnya.
Dalam materinya, Noer menyampaikan perjalanan evolusi AI sejak tahun 1956 saat istilah ini pertama kali diperkenalkan. AI terus berkembang pesat mulai dari kemampuan mengalahkan juara catur dunia (1997), memahami gambar (2012), menghasilkan konten kreatif (2018), hingga mampu memproses berbagai bentuk data seperti teks, suara, dan gambar secara bersamaan pada 2020.
Meski begitu, Noer menegaskan bahwa AI bukanlah teknologi sempurna. AI tidak memiliki kesadaran, tidak selalu memahami makna konten yang dihasilkannya, dan bisa membawa bias dari data latihannya. Karena itu, literasi etika AI menjadi bagian penting dalam materi pelatihan.
“AI wajib digunakan dengan tanggung jawab. Guru harus memahami risiko misinformasi, bias, hingga privasi, agar tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi,” jelasnya.
Pelatihan juga menyoroti AI Generatif (GenAI), teknologi yang populer dalam aplikasi seperti ChatGPT, Gemini, dan berbagai generator gambar. Para guru dijelaskan bagaimana AI generatif bekerja, mulai dari proses training hingga bagaimana AI menghasilkan teks, visual, hingga kode pemrograman baru berdasarkan prompt yang diberikan.
Noer memberikan contoh pemanfaatan GenAI untuk keperluan pendidikan, seperti membuat soal latihan otomatis, menyusun modul pelajaran, merangkum materi panjang, menghasilkan ilustrasi pembelajaran, dan membantu guru menyiapkan evaluasi.
“AI Generatif dapat meningkatkan efisiensi dan kreativitas guru, tetapi tetap perlu verifikasi fakta dan pengawasan manusia,” kata Noer.
Kegiatan pelatihan ini mendapat perhatian besar dari para guru. Mereka diajak memahami bahwa AI bukan sekadar tren, melainkan teknologi yang akan memengaruhi cara belajar, mengajar, dan berkomunikasi.
“Bukan AI yang membentuk masa depan, tetapi bagaimana kita memilih menggunakannya,” pesan Noer Atmaja dalam penutup sesi.
Dengan pelatihan ini, SMPN 9 Surakarta berharap para guru mampu menjadi pelopor literasi AI di sekolah, serta mampu mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan secara bijak ke dalam proses pembelajaran.
