Radio Solopos, SOLO — Fenomena anak Cerdas Berbakat Istimewa (CBI) atau gifted masih sering menimbulkan kebingungan di masyarakat.
Tidak sedikit anak dengan kecerdasan di atas rata-rata justru dianggap “nakal”, “pecicilan”, atau mengalami gangguan perilaku.
Hal itu terungkap dalam program Bincang Psikologi Radio Solopos, Senin (17/11/2025) malam, yang menghadirkan psikolog RS Indriati Solo Fabiola Audrey Najoan M.Psi., bersama perwakilan komunitas orang tua Parents Support Group for Gifted Children (PSGGC) Solo, Sista Saptika dan Gracia Pratiwi DK.
Menurut Fabiola, istilah anak gifted sering disalahartikan sebagai anak bertalenta seni atau juara berbagai lomba. Padahal ukuran ilmiah gifted adalah IQ minimal 130, disertai kemampuan analisis, abstraksi, dan kreativitas yang tinggi.
“Tidak semua anak gifted berprestasi di sekolah. Ada yang asinkron. Kognitifnya sangat maju, tetapi perkembangan bicara atau emosinya tertinggal,” ujarnya.
Dalam program acara Bincang Psikologi yang dipandi penyiar Radio Solopos Ardi Sarjono itu, Fabiola mengatakan banyak anak gifted justru salah diagnosis.
“Ada yang dibilang ADHD, gangguan perilaku, atau sensory issue, padahal yang terjadi adalah ketidakseimbangan perkembangan. Untuk diagnosis diperlukan observasi beberapa kali dan pemeriksaan intelijensi menggunakan skala Wechsler,” katanya.

Salah satu orang tua, Sista Saptika, menceritakan anak pertamanya yang memiliki IQ 142 sempat ditolak empat sekolah swasta.
“Dia cepat menyelesaikan tes akademik, tetapi setelah itu lari ke lapangan karena penasaran ingin melihat cara kerja pintu. Sekolah menganggapnya pecicilan,” katanya.
Anak tersebut sempat mengalami speech delay hingga usia 4,5 tahun. Namun setelah menjalani terapi, ia langsung mampu membaca ensiklopedia astronomi dan berhitung tanpa diajari.
“Kami akhirnya memilih homeschooling karena sekolah-sekolah itu belum siap menerima anak seperti dia,” imbuhnya.
Pengalaman serupa dialami Gracia Pratiwi, orang tua lainnya. Anak laki-lakinya sering dikeluarkan dari kelas karena dianggap tidak bisa diam.
Ia juga mengalami tics (gerakan wajah tak terkendali) akibat kecemasan. Setelah tes ulang, hasilnya menunjukkan sang anak termasuk gifted.
“Masalah terbesar adalah ketidaksiapan lingkungan. Teman-temannya menganggap dia aneh. Pernah saat anak-anak lain bermain bola, dia bicara soal cara kerja antena radio. Malah dibilang bohong,” tutur Gracia.
Keduanya berharap sekolah lebih memahami keberagaman perkembangan anak. Mereka tidak meminta perlakuan khusus, tetapi membutuhkan guru yang memahami kebutuhan sosial-emosional anak gifted.
“Kami hanya ingin guru melihat dari perspektif yang benar. Kalau paham, cara menangani juga lebih tepat,” kata Gracia.
Komunitas PSGGC Solo disebut berperan besar dalam memberikan edukasi kepada orang tua. Selain pendampingan, komunitas juga mendorong advokasi agar sekolah dan masyarakat lebih inklusif.
Fabiola menegaskan, anak gifted memiliki potensi besar, tetapi tanpa dukungan lingkungan yang tepat, mereka berisiko mengalami isolasi sosial, kecemasan, hingga salah arah.
“Gifted itu potensi, bukan jaminan prestasi. Tugas kita memastikan potensi itu tumbuh dengan sehat,” katanya.
