Radio Solopos, SOLO— Di tengah padatnya jadwal sekolah dan tekanan akademik anak-anak, sebuah sanggar lukis di kawasan Pajang, Solo, Jawa Tengah hadir sebagai ruang pelepas penat.
Berdiri sejak 2003, Sanggarku Bobbo tak sekadar mengajarkan teknik menggambar tetapi memposisikan seni sebagai terapi untuk menjaga kesehatan emosional anak.
Owner Sanggarku Bobbo, Taufik Esnani, mengatakan sanggar yang dirintisnya berawal dari kegiatan sosial mengumpulkan anak-anak kampung untuk belajar melukis bersama.
Seiring waktu, minat masyarakat meningkat hingga akhirnya berkembang menjadi jasa pendidikan seni lukis anak.
“Sekarang ini anak-anak banyak yang stres dengan pelajaran sekolah. Target akademik makin tinggi. Seni lukis menjadi selingan dan penyeimbang supaya jiwa anak tetap sehat,” ujar Taufik dalam Talkshow Selasar UMKM di Radio Solopos, Senin (2/3/2026).
Menurutnya, pendekatan di Sanggarku Bobbo berbeda dari kursus formal pada umumnya.
Tidak ada kurikulum baku maupun target prestasi. Sistem pembelajaran dilakukan secara personal, menyesuaikan tingkat dan karakter masing-masing anak.
Ia menekankan pentingnya membedakan antara bakat dan minat. Anak yang tidak berbakat tetapi memiliki minat kuat tetap bisa berkembang jika dibimbing dengan tepat.
Sebaliknya, bakat tanpa pendampingan tidak akan menghasilkan prestasi optimal.
“Yang utama anak happy dulu. Kalau sudah senang, prestasi akan mengikuti,” katanya.
Mayoritas peserta didik berasal dari jenjang playgroup hingga SD. Taufik menilai usia dini merupakan fase paling efektif untuk menumbuhkan kepekaan rasa melalui seni.
Ia bahkan menyebut anak yang terbiasa menggambar manual cenderung memiliki sensitivitas dan kepedulian lebih tajam dibanding anak yang sepenuhnya belajar melalui teknologi digital.
Di tengah gempuran dunia digital, Sanggarku Bobbo tetap bertahan dengan mempertahankan metode menggambar manual.
Menurut Taufik, kepekaan terhadap warna, gradasi, dan detail tidak bisa sepenuhnya tergantikan oleh teknologi.
Nama Bobbo sendiri terinspirasi dari majalah anak legendaris Bobo. Namun, Taufik memodifikasinya menjadi singkatan yang bermakna kreatif, yakni “bisa orek-orek dan bisa otak-atik” (Bobbo), sebagai simbol kebebasan berkreasi.
Selain mengelola sanggar, Taufik juga aktif menjadi guru seni di sejumlah taman kanak-kanak di Solo serta kerap dipercaya sebagai juri lomba mewarnai anak di wilayah Soloraya.
Ia mengakui menjadi juri bukan hal mudah karena harus mempertimbangkan aspek teknis sekaligus psikologis anak.
Sanggarku Bobbo membuka kelas setiap Senin hingga Sabtu pukul 16.00 WIB di Cokrotinggi No.13, Makamhaji, Pajang, Solo.
Pendaftaran dibuka secara langsung (open house), dan anak bisa langsung mengikuti kelas setelah mendaftar.
Dengan pendekatan berbasis kebahagiaan anak, Sanggarku Bobbo membuktikan bahwa seni bukan sekadar soal hasil akhir atau gelar juara, melainkan proses membangun rasa, empati, dan keseimbangan emosi sejak dini.
