Radio Solopos, SOLO — Kerajinan rajut handmade masih memiliki peluang pasar tersendiri di tengah maraknya produk massal.
Hal tersebut dibuktikan oleh Eka Riyani, perajin rajut yang mengembangkan usaha kerajinan tas dan aksesori rajut melalui merek Etalaseheartmade.
Riyani mengatakan keterampilannya merajut bermula dari hobi saat masih kuliah.
Pada awalnya ia hanya membuat produk rajut untuk mengisi waktu luang tanpa niat menjadikannya sebagai usaha.
Namun minat dari teman-temannya yang mulai memesan produk membuatnya berpikir untuk menjual hasil karyanya, terutama pada masa pandemi Covid-19.
“Awalnya hanya coba-coba sebagai hobi. Tapi lama-lama ada teman yang memesan, akhirnya saya mulai menjualnya,” ujar Riyani dalam Talkshow Selasar UMKM di Radio Solopos, Senin (16/3/2026).
Seiring waktu, produk yang dihasilkan semakin beragam. Selain tas rajut, ia juga membuat sepatu bayi, topi, boneka rajut atau amigurumi, gantungan kunci, hingga aksesori lainnya sesuai pesanan pelanggan.
Namun, tas rajut menjadi produk yang paling diminati pasar.
Dalam proses produksi, Riyani menggunakan beberapa teknik dasar rajut seperti chain (rantai), single crochet, dan double crochet.
Untuk menghasilkan satu tas rajut berukuran sekitar 30×30 sentimeter, ia membutuhkan waktu sekitar tiga hari pengerjaan.
Harga Bervariasi
Harga produk rajut yang dijual bervariasi tergantung model dan bahan.
Untuk tas rajut, harga berkisar Rp175.000 hingga Rp210.000 jika dibeli langsung dari perajin, sedangkan di toko bisa mencapai sekitar Rp283.000.
Sementara produk lain seperti bottle holder dari teknik makrame dijual mulai Rp35.000.

Dalam pemasarannya, Riyani memanfaatkan berbagai saluran penjualan, mulai dari media sosial, marketplace, hingga menitipkan produk di toko kerajinan.
Saat ini produknya dipasarkan di beberapa toko kerajinan di Yogyakarta dan Medan. Ia juga kerap mengikuti kegiatan pameran atau bazar di Solo seperti Mangkunegaran Night Market dan Solo Art Market.
Menurutnya, salah satu tantangan dalam menjalankan usaha kerajinan handmade adalah persaingan dengan produk rajut yang diproduksi secara massal dengan harga lebih murah.
Meski demikian, ia menilai pasar untuk produk handmade tetap ada, terutama bagi konsumen yang menghargai nilai kerajinan tangan dan keunikan desain.
Dalam kondisi penjualan ramai, usaha rajut yang dijalankannya mampu menghasilkan omzet sekitar Rp3 juta hingga Rp4 juta per bulan.
Namun, pada periode penjualan sepi, pendapatan bisa turun hingga sekitar Rp500.000 per bulan.
Ke depan, Riyani bersama rekannya juga berencana mengembangkan konsep toko bersama bagi para perajin melalui merek “Rikala”.
Konsep tersebut diharapkan dapat menjadi wadah bagi produk kerajinan tangan dari berbagai perajin lokal agar memiliki ruang pemasaran yang lebih luas.
