Radio Solopos, SOLO — Di tengah persaingan kuliner yang semakin beragam, usaha nasi bakar milik Masliatin atau yang akrab disapa Bu Atin di Kartasura mampu bertahan hingga lima tahun dengan mengandalkan cita rasa tradisional serta harga yang ramah di kantong mahasiswa.
Usaha yang dirintis secara sederhana tersebut berawal dari keinginan Bu Atin untuk memiliki usaha kuliner sendiri.
Ia mengaku awalnya hanya mencoba memasak untuk keluarga dengan resep yang diperoleh dari sang kakak di Cepu.
“Awalnya hanya coba-coba dari resep kakak yang punya usaha katering di Cepu. Saya ingin punya usaha sendiri, akhirnya dicoba dan dititipkan ke sekitar kampus,” ujar Bu Atin dalam Talkshow Selasar UMKM di Radio Solopos, Rabu (1/4/2026).
Lokasi rumah yang berada di sekitar kawasan kampus UIN Kartasura menjadi peluang pasar tersendiri. Ia mulai menitipkan produknya di area kampus hingga akhirnya mendapat respons positif dari mahasiswa.
Seiring waktu, usahanya berkembang dan sempat mengikuti kegiatan Car Free Day (CFD) di Colomadu. Produk nasi bakarnya pun semakin dikenal masyarakat.
Bu Atin menghadirkan lima varian rasa, yakni ayam, ati ayam, tuna, cumi, dan teri. Dari kelima varian tersebut, cumi menjadi menu paling diminati pelanggan.
“Yang paling laris cumi. Saya pakai cumi yang tidak terlalu kering, jadi teksturnya lebih lembut,” katanya.
Keunikan produk nasi bakar miliknya tidak hanya terletak pada pilihan lauk, tetapi juga pada tambahan telur dadar yang menjadi pelengkap, sehingga memberikan nilai lebih dibanding nasi bakar pada umumnya.
Dalam proses produksi, Bu Atin menerapkan tahapan yang cukup panjang. Persiapan lauk dilakukan sehari sebelumnya, sedangkan proses memasak nasi dimulai sejak dini hari sekitar pukul 03.00 WIB.
Nasi yang telah matang kemudian dibungkus daun pisang dan dipanggang menggunakan wajan teflon untuk menjaga aroma khas daun.
“Kalau dibakar dengan daun pisang, aromanya lebih terasa dan rasanya berbeda,” ujarnya.
Dari sisi harga, ia mempertahankan harga terjangkau, yakni Rp5.000 untuk pasar kampus dan Rp7.000 untuk penjualan umum.
Strategi tersebut dilakukan agar tetap sesuai dengan daya beli mahasiswa, meski harga bahan baku kerap mengalami kenaikan.
Menurutnya, menjaga stabilitas harga menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku UMKM, terutama saat harga bahan seperti ayam dan santan meningkat.
“Kalau harga naik, kami kurangi laba. Yang penting usaha tetap jalan dan pelanggan tidak lari,” katanya.
Dalam sehari, produksi nasi bakar berkisar antara 50 hingga 100 bungkus, tergantung permintaan. Produk tersebut didistribusikan melalui lima titik penitipan di wilayah Kartasura, dengan pasar utama mahasiswa.
Selain penjualan harian, usaha ini juga melayani pesanan dalam jumlah besar untuk berbagai keperluan seperti kegiatan kampus, acara komunitas, hingga program Jumat berkah.
Pesanan terbanyak bahkan pernah mencapai lebih dari 100 bungkus dalam satu kali pemesanan.
Meski belum memanfaatkan pemasaran digital secara optimal, Bu Atin tetap mampu mempertahankan usahanya melalui metode promosi sederhana seperti penyebaran selebaran kepada pelanggan.
Ke depan, ia berharap dapat meningkatkan kapasitas produksi serta memperluas jangkauan pemasaran agar nasi bakar sebagai kuliner tradisional semakin dikenal masyarakat luas.
Dengan konsistensi menjaga rasa, harga, dan kualitas, Nasi Bakar Bu Atin membuktikan bahwa kuliner tradisional tetap memiliki tempat di tengah modernisasi, selama pelaku usaha mampu beradaptasi dengan kebutuhan pasar.
