Radio Solopos, SOLO — Usaha oleh-oleh berbasis olahan seafood, Omah Oleh-Oleh Gembongan, mampu menembus pasar luar kota hanya dalam waktu tiga tahun dengan mengandalkan inovasi produk dan ketekunan menjaga kualitas.
Usaha yang dirintis oleh Budi Prastiwi tersebut kini telah dipasarkan di berbagai wilayah Solo Raya hingga luar daerah seperti Yogyakarta, Wonosobo, dan Probolinggo.
Owner Omah Oleh-Oleh Gembongan, Budi Prastiwi, mengatakan usaha tersebut berawal dari keinginannya mengisi waktu setelah memasuki masa pensiun.
Ia mengaku terbiasa aktif sehingga memilih berwirausaha sebagai aktivitas produktif.
“Awalnya saya berpikir nanti setelah pensiun mau apa. Karena tidak bisa diam, akhirnya mencoba berdagang,” ujarnya dalam Talkshow Selasar UMKM di Radio Solopos, Senin (20/4/2026).
Sejak dirintis pada 2021, usaha tersebut terus berkembang dengan menghadirkan berbagai produk olahan seafood seperti keripik ikan (kriwak), belut, kulit ayam, cumi, baby crab, hingga kerang dan patin.
Beberapa produk bahkan menjadi best seller, seperti kulit ayam, cumi, dan baby crab.
Menurut Prastiwi, inovasi menjadi kunci utama dalam mengembangkan usaha. Ia menghadirkan konsep camilan sehat yang dapat dikonsumsi sebagai makanan ringan sekaligus lauk.
Selain itu, ia juga mengembangkan produk baru berupa sambal mete sebagai alternatif dari sambal pecel yang sudah lebih dulu populer di pasaran.
Sambal mete tersebut dinilai memiliki cita rasa lebih gurih dan mendapat respons positif terutama dari konsumen luar daerah.
Dalam proses pengembangan produk, Prastiwi mengaku menghadapi berbagai kendala, salah satunya menjaga kerenyahan produk agar tidak melempem.
Ia juga melakukan inovasi pada kemasan yang awalnya sederhana menjadi lebih modern sehingga mampu memperpanjang masa simpan hingga delapan bulan.
“Dulu kemasan sederhana hanya bertahan dua minggu. Sekarang dengan kemasan baru bisa sampai delapan bulan,” katanya.

Dari sisi pemasaran, produk Omah Oleh-Oleh Gembongan kini telah tersebar di berbagai toko oleh-oleh di Solo Raya dan sebagian wilayah luar kota.
Selain itu, usaha tersebut juga telah memiliki dua outlet, yakni di Kartasura dan kawasan Pajang, Surakarta.
Untuk bahan baku, Prastiwi menjalin kerja sama dengan pemasok dari Rawa Pening guna memastikan ketersediaan bahan secara rutin.
Penentuan Harga
Hubungan jangka panjang dengan pemasok dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas produksi.
Harga produk yang ditawarkan berkisar Rp20.000 hingga Rp35.000 per kemasan, tergantung jenis dan bahan baku yang digunakan.
Penentuan harga disesuaikan dengan karakteristik bahan, terutama untuk produk berbasis seafood yang cenderung lebih mahal.
Meski menghadapi tantangan seperti kenaikan harga bahan dan kemasan, Prastiwi mengaku tetap mempertahankan harga jual agar tetap terjangkau bagi konsumen.
Ia juga menekankan pentingnya bergabung dalam komunitas UMKM untuk meningkatkan kapasitas usaha. Melalui komunitas tersebut, pelaku usaha dapat memperoleh pelatihan, berbagi pengalaman, serta memperluas jaringan pemasaran.
Ke depan, Prastiwi berencana menambah varian produk baru, salah satunya olahan jemblem tape yang saat ini masih dalam proses perizinan.
Dengan konsistensi inovasi dan strategi pemasaran yang adaptif, Omah Oleh-Oleh Gembongan membuktikan bahwa usaha yang berawal dari aktivitas pengisi waktu dapat berkembang menjadi bisnis yang menjangkau pasar lintas daerah.
