Radio Solopos, SOLO — Usaha jajanan cimol dengan merek Cimol Bojot Sedulur di kawasan Grogol, Sukoharjo, menunjukkan pertumbuhan pesat meski baru dirintis sekitar satu bulan.
Mengandalkan inovasi rasa dan strategi pemasaran daring, produk ini bahkan telah meraih top rating di platform pemesanan makanan.
Owner Cimol Bojot Sedulur, Nidaul Urwatul, mengatakan usahanya mulai berjalan saat Ramadan 2026.
Dalam waktu singkat, respons pasar cukup tinggi hingga produk kerap habis sebelum tengah malam.
“Produksi kami selalu baru dan langsung habis. Bahkan sekitar pukul 23.00 WIB sering kali sudah sold out,” ujarnya dalam Talkshow Selasar UMKM di Radio Solopos, Kamis (16/4/2026).
Ia menjelaskan, tingginya permintaan tidak hanya datang dari pembelian langsung tetapi juga dari platform daring seperti ShopeeFood dan GrabFood.
Bahkan, dalam waktu kurang dari satu bulan, produknya telah mendapatkan penilaian tinggi dari konsumen di marketplace.
Cimol Bojot Sedulur diproduksi di wilayah Tanjung Anom, Kuarasan, Grogol, Sukoharjo.
Berawal dari Kebiasaan
Lokasi tersebut menjadi pusat produksi sekaligus penjualan offline meski pembelian tetap disarankan melalui pemesanan terlebih dahulu karena keterbatasan stok harian.
Nida mengungkapkan, ide usaha ini muncul dari kebiasaan dirinya dan suami yang gemar mencoba jajanan.
Dari pengalaman tersebut, mereka kemudian mengembangkan resep cimol dengan inovasi tekstur yang tetap kenyal meski tidak dalam kondisi panas serta isian keju lumer di dalamnya.
“Ciri khasnya ada pada kejunya yang lumer di dalam dan teksturnya tidak keras. Jadi saat digigit langsung terasa meledak di mulut,” katanya.
Selain varian goreng, Cimol Bojot Sedulur juga menawarkan menu kuah dengan pilihan rasa seperti creamy cheese dan tambahan chili oil. Harga produk dibanderol mulai Rp13.000 untuk pembelian langsung dan sekitar Rp18.000 melalui platform daring.
Segmentasi pasar usaha ini cukup luas, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Tingkat kepedasan dapat disesuaikan sehingga produk dinilai ramah untuk berbagai kalangan.
Dalam pengembangannya, Nida juga mulai memasarkan produk dalam bentuk frozen food yang dapat bertahan lebih dari satu minggu di dalam freezer. Produk ini ditujukan untuk memperluas distribusi, termasuk rencana kerja sama dengan pelaku usaha frozen food lainnya.
Di sisi legalitas, ia menyebut proses sertifikasi halal tengah berlangsung untuk sembilan produk yang dimiliki, tidak hanya cimol tetapi juga varian lain seperti tahu walik dan olahan pisang.
Selain fokus pada produksi, Cimol Bojot Sedulur juga mulai memperluas pemasaran melalui partisipasi dalam kegiatan Car Free Day serta rencana bergabung dalam berbagai event UMKM di Solo Raya.
Ke depan, pelaku usaha ini menargetkan ekspansi pasar melalui sistem distribusi dan pembukaan cabang, seiring meningkatnya permintaan dari konsumen di wilayah Solo dan sekitarnya.
Dengan pertumbuhan cepat dalam waktu singkat, Cimol Bojot Sedulur menjadi contoh bagaimana inovasi produk, pemanfaatan platform digital, dan konsistensi kualitas dapat mendorong UMKM berkembang di tengah persaingan pasar kuliner.
