Radio Solopos, SOLO — Di tengah kenaikan harga bahan baku dan kemasan, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kuliner dituntut mencari strategi agar tetap kompetitif tanpa mengorbankan kualitas produk.
Hal itu dilakukan Ukhty Putri Bakery yang memilih memproduksi abon secara mandiri untuk menekan biaya produksi sekaligus menjaga kualitas produknya.
Owner Ukhty Putri Bakery, Putri Astuti, mengatakan usaha bakery yang dirintisnya sejak 2020 berawal dari hobi membuat roti dan kue secara otodidak di rumah.
Saat pandemi Covid-19 melanda, ia bersama suaminya mencoba membuat roti abon setelah terinspirasi dari produk yang dibeli kerabatnya di Solo.
Dari berbagai percobaan, pasangan tersebut berhasil menemukan formulasi roti, mayones, dan abon yang sesuai dengan karakter produk yang mereka inginkan.
Roti abon kemudian menjadi produk unggulan yang terus dipertahankan hingga sekarang.
“Awalnya hanya tantangan dari suami. Setelah dicoba ternyata cocok dan akhirnya dijual. Alhamdulillah sampai sekarang menjadi salah satu sumber rezeki keluarga,” ujar Putri dalam Talkshow Selasar UMKM di Radio Solopos, Selasa (26/5/2026).
Memasuki tahun keenam usaha, Putri mengaku tantangan terbesar bukan lagi mencari konsumen, melainkan menjaga stabilitas harga di tengah kenaikan biaya produksi.
Menurut dia, harga bahan baku, kemasan plastik, hingga kardus terus mengalami kenaikan dalam beberapa tahun terakhir.
Padahal, sebagian besar konsumennya merupakan pelanggan yang memesan dalam jumlah besar untuk berbagai acara sehingga selisih harga yang kecil sekalipun dapat menjadi pertimbangan dalam pembelian.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Putri dan suaminya memutuskan memproduksi abon sendiri mulai sekitar sebulan terakhir. Sebelumnya, bahan baku abon diperoleh dari pemasok luar.
Menurutnya, keputusan tersebut diambil setelah harga abon terus meningkat dan berpotensi mendorong kenaikan harga jual produk.
Jaga Kualitas
Putri mengungkapkan proses pembuatan abon homemade tidak berjalan mudah. Ia dan suaminya harus melakukan berbagai uji coba untuk mendapatkan rasa, tekstur, dan tingkat kerenyahan yang sesuai dengan standar produk mereka.
Selama sekitar satu pekan, resep terus disempurnakan hingga akhirnya menghasilkan abon yang dinilai memenuhi kualitas yang diinginkan.
“Dengan membuat sendiri, kami tahu bahan dasarnya, tahu kualitasnya, dan bisa menjaga standar produk tanpa bergantung pada pihak lain,” katanya.
Selain menekan Harga Pokok Produksi (HPP), langkah tersebut juga berdampak pada keberlangsungan tenaga kerja yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga.
Putri mengatakan produksi abon memberikan tambahan pekerjaan bagi timnya sehingga aktivitas produksi dapat berlangsung lebih konsisten.
“Tujuan pertama memang supaya HPP turun. Tujuan kedua supaya tim tetap bisa bekerja dan mendapatkan pemasukan,” ujarnya.
Ia menambahkan setiap produk yang dipasarkan selalu melalui tahap uji rasa, tekstur, dan daya tahan. Untuk roti abon, masa simpan sebenarnya dapat mencapai sekitar satu pekan.
Namun, pihaknya merekomendasikan konsumsi maksimal tiga hari pada suhu ruang untuk menjaga kualitas tekstur dan cita rasa.

Harga Bertahan
Di tengah persaingan usaha bakery yang semakin ketat, Putri menilai harga dan kualitas menjadi dua faktor utama yang menentukan loyalitas pelanggan.
Karena itu, Ukhty Putri Bakery berusaha mempertahankan harga selama mungkin meskipun biaya produksi terus meningkat.
Ia mengungkapkan produk abon gulung isi enam sebelumnya dijual Rp23.000 dan mampu dipertahankan selama lima tahun.
Harga tersebut baru naik menjadi Rp24.000 dalam satu bulan terakhir akibat kenaikan biaya produksi yang semakin sulit ditahan.
Selain kemasan isi enam seharga Rp24.000, tersedia pula kemasan isi delapan seharga Rp30.000 dan kemasan isi 12 seharga Rp45.000. Untuk paket isi 12 yang dilengkapi paper bag, konsumen cukup membayar Rp50.000.
Menurut Putri, strategi mempertahankan harga dilakukan karena sebagian besar konsumennya membeli dalam jumlah banyak untuk kebutuhan acara keluarga, kantor, maupun kegiatan lainnya.
“Seribu rupiah itu bisa menjadi pertimbangan bagi konsumen yang membeli ratusan paket. Karena itu kami berusaha mencari solusi lain sebelum menaikkan harga,” katanya.
Selain roti abon gulung yang menjadi produk terlaris, Ukhty Putri Bakery juga memproduksi berbagai jenis roti dan kue seperti roti gulung keju, cokelat, kacang, fudge brownie, serta berbagai produk snack box yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran pelanggan.
Ke depan, Putri berkomitmen mempertahankan prinsip usaha yang selama ini menjadi kekuatan produknya, yakni menawarkan harga yang terjangkau tanpa mengurangi kualitas.
Menurutnya, kepercayaan pelanggan hanya dapat dijaga melalui konsistensi kualitas dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan biaya produksi.
