Radio Solopos, SOLO — Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja.
Tidak lagi identik dengan pembelajaran sastra dan budaya secara konvensional, FIB UNS kini mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI), media digital, dan industri kreatif ke dalam pengembangan akademiknya.
Dekan FIB UNS, Dwi Susanto, mengatakan perkembangan teknologi telah mengubah cara pembelajaran bahasa dan budaya sehingga perguruan tinggi perlu menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman dan dunia industri.
“Sekarang era AI, media baru, dan teknologi komunikasi berkembang sangat cepat. Inovasi akademik di bidang bahasa dan kebudayaan harus bisa disejajarkan dengan perkembangan tersebut sekaligus menjawab kebutuhan pasar kerja,” ujarnya dalam Talkshow Selasar di Radio Solopos, Senin (25/5/2026).
Menurut dia, transformasi tersebut diwujudkan melalui pengembangan kurikulum yang mengarah pada industri kreatif, penerjemahan digital, pengembangan gim, media streaming, sinematografi, fotografi, hingga pariwisata berbasis budaya.
Dwi menjelaskan anggapan bahwa lulusan ilmu budaya hanya berkutat pada sastra, puisi, atau sejarah sudah tidak lagi sesuai dengan kebutuhan saat ini.
Lulusan FIB memiliki peluang karier yang semakin luas seiring berkembangnya industri kreatif dan teknologi.
Tujuh Prodi
Saat ini FIB UNS memiliki tujuh program studi (prodi) jenjang sarjana, yakni Sastra Indonesia, Sastra Inggris, Sastra Arab, Sastra Daerah, Ilmu Sejarah, Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok, serta Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang yang mulai menerima mahasiswa baru pada tahun ini.
Masing-masing prodi dikembangkan sesuai kebutuhan dunia kerja. Prodi Sastra Inggris, misalnya, tidak hanya fokus pada penerjemahan teks, tetapi juga mendukung kebutuhan industri gim, animasi, dan konten digital.
Sementara itu, Prodi Sastra Indonesia mengembangkan kompetensi mahasiswa melalui mata kuliah sinematografi, alih wahana, fotografi, periklanan, hingga Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).
Untuk Prodi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok, FIB UNS menyediakan program double degree yang memungkinkan mahasiswa menempuh pendidikan selama dua tahun di UNS dan dua tahun di perguruan tinggi mitra di China.
“Kami sudah mengirim 31 mahasiswa. Setiap tahun kuotanya sekitar 20 mahasiswa dan mereka mendapatkan dua gelar serta dua ijazah,” kata Dwi.
Ia menambahkan, Prodi Ilmu Sejarah juga terus dikembangkan untuk mendukung sektor pariwisata dan industri kreatif berbasis sejarah serta budaya.

Peluang Kerja
Dwi menegaskan prospek kerja lulusan FIB sangat beragam, mulai dari akademisi, peneliti, jurnalis, diplomat, penerjemah, hingga profesional di perusahaan multinasional.
Menurutnya, kemampuan bahasa asing yang menjadi ciri khas FIB merupakan modal penting dalam menghadapi persaingan kerja global.
Karena itu, mahasiswa ditargetkan telah menguasai keterampilan bahasa pada semester awal sebelum masuk ke bidang peminatan yang lebih spesifik.
Mahasiswa juga memperoleh pengalaman dunia kerja melalui program magang yang disesuaikan dengan minat dan profil lulusan masing-masing.
“Kalau tertarik jurnalistik bisa magang di media. Kalau tertarik fotografi bisa di lembaga yang sesuai. Jadi mahasiswa benar-benar mendapatkan pengalaman kerja secara langsung,” ujarnya.
Selain itu, seluruh program studi di FIB UNS telah terakreditasi Unggul. Empat program studi juga telah memperoleh akreditasi internasional, yakni Sastra Daerah, Sastra Indonesia, Sastra Inggris, dan Ilmu Sejarah.
Dwi mengungkapkan tingkat kelulusan tepat waktu di FIB mencapai lebih dari 70 persen.
Bahkan beberapa program studi mendekati angka 80 persen melalui pendampingan akademik dan penentuan topik penelitian sejak semester enam.
Minat Tinggi
Tingginya minat masyarakat terhadap FIB UNS terlihat dari jumlah pendaftar yang terus meningkat setiap tahun.
Berdasarkan data penerimaan mahasiswa baru, Prodi Sastra Inggris menjadi program studi dengan jumlah peminat tertinggi, mencapai sekitar 1.400 pendaftar untuk kuota sekitar 80 mahasiswa. Disusul Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok serta Sastra Indonesia.
Dwi menilai tingginya minat tersebut menunjukkan bahwa ilmu budaya tetap relevan di tengah perkembangan teknologi karena mampu beradaptasi dengan kebutuhan industri kreatif dan pasar kerja global.
Ia menegaskan budaya lokal tidak hanya diposisikan sebagai warisan yang dilestarikan, tetapi juga dikembangkan menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi dan daya saing.
“Budaya lokal sekarang tidak hanya dilestarikan, tetapi juga diolah menjadi produk kreatif yang bisa diterima pasar nasional maupun global,” katanya.
Melalui penguatan kompetensi bahasa, budaya, dan teknologi, FIB UNS berupaya mencetak lulusan yang adaptif terhadap perkembangan zaman serta memiliki daya saing di tingkat nasional maupun internasional.
