Radio Solopos, KARANGANYAR — Usaha oleh-oleh khas Tawangmangu, Bakpia Lawu Eco, berhasil bangkit dari keterpurukan saat pandemi Covid-19 dan kini memperluas jangkauan pasar hingga wilayah Soloraya.
Generasi kedua pemilik usaha, Cory Ariani, menjadi sosok di balik transformasi bisnis keluarga tersebut melalui strategi pemasaran digital dan inovasi produk berbasis hasil pertanian lokal.
Cory menjelaskan usaha bakpia tersebut dirintis oleh orang tuanya sejak 2010 sebagai pelengkap menu di rumah makan keluarga di kawasan Tawangmangu.
Awalnya, produk bakpia hanya memiliki satu varian rasa, yakni ubi ungu.
Seiring waktu, usaha tersebut berkembang hingga akhirnya terdampak pandemi pada 2020 yang memaksa operasional berhenti dan karyawan dirumahkan.
“Waktu pandemi, tidak ada penjualan offline sama sekali. Dari situ saya berpikir bagaimana usaha ini tetap berjalan. Akhirnya saya mulai dari nol lagi lewat penjualan online dan mengajak kembali karyawan yang belum bekerja,” ujarnya dalam talkshow Selasar UMKM Radio Solopos, Kamis (30/4/2026).
Konsumen Nasional
Ia mengaku memulai pemasaran secara daring dengan memanfaatkan jejaring komunitas dan media sosial.
Strategi tersebut dinilai efektif untuk menjangkau konsumen secara nasional, terutama saat mobilitas masyarakat terbatas.
Seiring berjalannya waktu, penjualan kembali merambah offline melalui sistem titip jual di berbagai toko oleh-oleh.
Menurut Cori, saat ini sekitar 60% hingga 80% penjualan justru berasal dari jalur offline.
Produk Bakpia Lawu Eco telah dipasarkan di sejumlah toko oleh-oleh di wilayah Solo hingga sekitarnya, bahkan sempat menjangkau Salatiga dan Ambarawa.
Tak hanya mengandalkan strategi pemasaran, inovasi produk juga menjadi kunci perkembangan usaha tersebut.
Cori mengembangkan varian rasa bakpia dengan tetap mengusung bahan dasar hasil pertanian lokal, seperti ubi, singkong, talas, dan pisang.
Saat ini, Bakpia Lawu Eco memiliki sembilan varian rasa, di antaranya ubi ungu, labu kuning, kacang hijau, singkong keju, talas durian, ubi madu original, ubi madu jahe, ubi madu kurma, hingga pisang cokelat.
“Konsepnya tetap mengangkat hasil panen khas Tawangmangu tapi dengan rasa yang menyesuaikan selera konsumen,” jelasnya.
Dalam menjaga kualitas produk, Cori menegaskan pentingnya konsistensi dan keterlibatan langsung pemilik usaha dalam proses produksi.
Turun Langsung
Ia mengaku turun langsung melakukan pengawasan kualitas setiap hari guna memastikan produk tetap terjaga.
Meski demikian, perjalanan bisnis tersebut tidak lepas dari tantangan. Selain keterbatasan modal, Cori juga sempat mengalami kerugian akibat pembelian alat produksi yang tidak sesuai harapan. Ia menyebut pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting dalam mengelola usaha.
“Risiko dalam bisnis pasti ada. Yang penting bagaimana kita tetap bisa bangkit dan melanjutkan usaha,” katanya.
Ke depan, Cori berencana mengembangkan produk turunan serta memperluas pasar, termasuk menghadirkan bakpia sebagai bagian dari paket snack box dan mengolah produk makanan sehat berbasis bahan lokal.
Ia pun membagikan pesan bagi pelaku UMKM agar berani memulai usaha dan konsisten dalam menjalankannya. “Harus berani keluar dari zona nyaman dan siap menghadapi berbagai risiko,” ujarnya.
