Radio Solopos, PEKALONGAN — Wakil Wali Kota Pekalongan, Balgis Diab, mendorong seluruh Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) di Kota Pekalongan agar tidak hanya hadir secara administratif.
Koperasi Merah Putih harus benar-benar aktif dan mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat serta pertumbuhan ekonomi daerah.
Hal tersebut disampaikan Balgis seusai menghadiri kegiatan Ngaji Bareng tentang Koperasi bertema “Refleksi 1 Tahun Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) di Kota Pekalongan” di Rumah Dinas Wali Kota Kota Pekalongan, Jumat (15/5/2026) malam.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengapresiasi semangat para pengurus dan Forum KKMP se-Kota Pekalongan yang selama satu tahun terakhir terus berupaya menjalankan koperasi di masing-masing wilayah kelurahan.
“Alhamdulillah kali ini ada kegiatan ngaji bareng dengan tema Refleksi 1 Tahun KKMP yang ada di Kota Pekalongan. Saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh Forum KKMP di Kota Pekalongan ini,” ujarnya.
Menurutnya, momentum refleksi satu tahun tersebut menjadi kesempatan penting untuk melakukan evaluasi sekaligus menyusun langkah strategis agar keberadaan koperasi semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.
Ia menyebut ada beberapa harapan besar yang ingin dicapai melalui kegiatan refleksi tersebut, mulai dari peninjauan ulang program kerja, lahirnya inovasi baru, hingga memastikan seluruh KKMP dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.
“Tentu harapannya dengan refleksi satu tahun ini kita bisa melakukan peninjauan kembali program-program kerja, kemudian diharapkan juga menghasilkan gagasan-gagasan baru. Saya berharap semua KKMP yang ada di Kota Pekalongan ini bisa berjalan dengan baik dan keberadaannya insyaallah bisa dirasakan berkah serta manfaatnya bagi seluruh masyarakat,” terangnya.
Dorong Inovasi
Lebih lanjut, Balgis menegaskan koperasi saat ini harus mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Oleh karena itu, KKMP didorong tidak hanya bergerak di sektor simpan pinjam, melainkan juga menghadirkan layanan yang benar-benar dibutuhkan warga di lingkungan masing-masing.
Menurutnya, berbagai kebutuhan sosial masyarakat seperti penyediaan perlengkapan hajatan, alat kegiatan masyarakat, hingga penyewaan perlengkapan penunjang acara bisa menjadi peluang usaha koperasi yang produktif dan bermanfaat.
“Program koperasi ini tidak hanya melulu koperasi simpan pinjam saja, tetapi setiap kelurahan harus melihat dan mencermati dengan baik apa saja yang menjadi kebutuhan masyarakat. Misalnya kebutuhan sewa gelas, piring untuk hajatan, kegiatan pengajian, ataupun sound system, itu juga nanti bisa dibantu oleh koperasi. Jadi ada inovasinya,” jelasnya.
Ia menilai inovasi berbasis kebutuhan warga menjadi salah satu kunci agar koperasi dapat tumbuh sehat, dipercaya masyarakat, sekaligus mampu meningkatkan kemandirian ekonomi di tingkat kelurahan.
Terkait perjalanan satu tahun KKMP di Kota Pekalongan, Balgis mengungkapkan sejauh ini pelaksanaannya berjalan cukup baik.
Meski demikian, karena usia koperasi yang masih relatif muda, proses penyesuaian terhadap aturan dan regulasi masih terus dilakukan.
“Selama satu tahun ini sebenarnya kalau kendala tidak ada. Tetapi mungkin karena masih seumur jagung, jadi masih melakukan penyesuaian-penyesuaian koperasi KKMP ini sesuai aturan dan regulasi yang sedang berjalan,” ungkapnya.
Ia optimistis dengan regulasi yang kini semakin jelas dan lengkap, seluruh KKMP akan mampu bergerak lebih maksimal pada tahun kedua pelaksanaannya.
“Di tahun ini sudah terbentuk semua peraturannya, maka kita tinggal langsung menjalankan koperasi ini. Harapannya di tahun kedua ini betul-betul nanti tidak hanya lebih dari 50 persen yang berjalan, tetapi bisa 100 persen berjalan,” tambahnya.
Kesenjangan Nyata
Sementara itu, narasumber kegiatan, Ahmad Subagyo, menyampaikan refleksi satu tahun KKMP menjadi momentum penting untuk melihat sejauh mana ekspektasi masyarakat terhadap koperasi telah terwujud di lapangan.
Menurutnya, berdasarkan survei kecil yang dilakukan terhadap para pengurus KKMP di Kota Pekalongan, masih terdapat kesenjangan yang cukup tinggi antara harapan dan realita di masyarakat.
“Harapannya begitu sangat besar, tapi kenyataannya belum seperti apa yang diinginkan,” ujarnya.
Selain itu, ia menilai tantangan terbesar masih berada pada aspek kemampuan teknis pengurus dalam mengelola manajemen dan bisnis koperasi. Oleh sebab itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia dinilai menjadi perhatian penting agar koperasi dapat berkembang lebih profesional dan inovatif.
Subagyo juga mendorong KKMP agar mampu menggali potensi unggulan lokal Kota Pekalongan seperti sektor batik dan perikanan untuk dijadikan kekuatan ekonomi berbasis masyarakat.
Selain itu, koperasi diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi lokal sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat secara mandiri melalui semangat gotong royong dan swadaya.
“Melalui kegiatan refleksi ini, kami berharap keberadaan KKMP benar-benar menjadi sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat yang adaptif, inovatif, serta mampu memperkuat ketahanan ekonomi warga di tingkat kelurahan,” tukasnya. (NA)
