Radio Solopos, SOLO —Usaha kain lukis Nasrafa asal Solo berhasil mengembangkan berbagai produk fashion dan kerajinan berbasis lukisan tangan hingga menembus pasar internasional.
Owner Nasrafa, Yani Mardiyanto, mengatakan usaha yang dirintis sejak 20 Januari 2012 tersebut dibangun untuk memberdayakan pelukis muda di Solo yang memiliki kemampuan melukis namun belum memiliki wadah untuk berkarya dan memperoleh penghasilan.
“Saya melihat banyak anak muda di Solo yang memiliki bakat melukis tetapi belum tersalurkan. Karena itu saya mengajak mereka berkarya dan berbisnis,” ujar Yani dalam Talkshow Selasar UMKM Radio Solopos Rabu, (1/7/26).
Awalnya, Nasrafa hanya memproduksi jilbab lukis yang terinspirasi dari tren jilbab polos yang banyak digunakan masyarakat.
Produk tersebut mendapat sambutan positif, termasuk dari pembeli luar negeri seperti Malaysia dan Singapura yang ditemui Yani saat mengikuti berbagai pameran kerajinan nasional.
Produk
Menurut Yani, masukan dari buyer dan pelanggan kemudian mendorong Nasrafa melakukan diversifikasi produk.
Saat ini, Nasrafa telah memiliki sedikitnya 14 jenis produk berbasis lukisan tangan.
“Selain jilbab lukis, sekarang ada payung lukis, tas pandan lukis, tas goni kulit lukis, syal lukis hingga berbagai produk kerajinan lainnya,” katanya.
Beberapa produk Nasrafa bahkan telah diekspor ke berbagai negara, termasuk Jepang.
Salah satu produk yang paling dikenal adalah payung lukis yang pernah dipesan hingga ratusan unit untuk kebutuhan suvenir acara pernikahan.
Yanni mengatakan usaha tersebut dirintis dengan modal awal sekitar Rp12 juta untuk membeli bahan baku, rak penyimpanan, dan menggaji pelukis selama dua bulan.
Meski tidak memiliki kemampuan melukis secara langsung, Yani mengaku fokus pada pengelolaan usaha dan pemberdayaan para seniman agar dapat berkarya secara produktif.
“Yang terpenting adalah bagaimana mengoordinasikan dan menyalurkan potensi para pelukis agar mereka bisa berkembang bersama,” ujarnya.
Selain memanfaatkan media kain, Nasrafa juga mulai mengembangkan karya lukis pada berbagai media lain seperti furnitur dan anyaman.
Pengembangan produk dilakukan dengan menyesuaikan tren pasar serta permintaan konsumen.
Pasar International
Untuk memperluas pasar ekspor, Yanni mengaku aktif mengikuti pameran seperti Inacraft dan Trade Expo Indonesia.
Yani mengatakan keberhasilan produk Nasrafa menembus pameran berskala nasional dan internasional didukung penerapan tujuh prinsip terintegrasi, yakni produk berkualitas, kemasan yang marketable, legalitas usaha yang lengkap, sumber daya manusia yang solid, strategi pemasaran yang tepat, tempat usaha yang representatif, serta administrasi dan pembukuan yang tertata dengan baik.
Menurutnya, pameran menjadi strategi promosi paling efektif untuk memperkenalkan produk kepada buyer dari berbagai negara.
Nasrafa juga menjalin kerja sama dengan Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional guna memperoleh pendampingan terkait strategi ekspor, komunikasi dengan buyer internasional, hingga penguatan branding produk di pasar global.
“Pameran dan pendampingan ekspor menjadi kunci kami untuk mendapatkan pasar luar negeri dan memperkenalkan produk kain lukis Indonesia ke dunia,” kata Yani.
