Radio Solopos, SOLO — Owner Puri Grafika, Dwi Joko Wibisono mengajak sekolah berkolaborasi sebagai mitra dalam menciptakan ekosistem magang dan penyerapan tenaga kerja yang lebih efektif.
Hal itu disampaikan Dwi Joko dalam Talkshow Selasar UMKM Radio Solopos, belum lama ini.
Menurut Dwi Joko, hingga saat ini masih terdapat kesenjangan antara dunia pendidikan dengan dunia industri, khususnya sektor UMKM.
“Siswa SMA maupun SMK membutuhkan tempat magang dan penampungan lulusan, tetapi sering kali sekolah kesulitan menemukan mitra yang sesuai dengan kompetensi siswa,” ujarnya.
Praktik Magang
Menurut Dwi Joko, minimnya akses UMKM terhadap sekolah maupun dinas terkait menjadi salah satu penyebab faktor penghambat kerja sama tersebut.
Ia memaparkan, Kota Solo memiliki sekitar 17.962 UMKM yang mampu menyerap 72.555 tenaga kerja, menjadikannya salah satu sektor unggulan di Jawa Tengah, khususnya pada bidang perdagangan, akomodasi, serta makanan dan minuman.
“UMKM sebenarnya bisa menjadi laboratorium nyata bagi siswa untuk belajar kewirausahaan, kreativitas, kemandirian, hingga pengalaman mengelola usaha,” katanya.
Berdasarkan data statistik tahun 2026, Kota Surakarta memiliki 821 lembaga pendidikan formal dan nonformal dari berbagai jenjang pendidikan.
Potensi tersebut dinilai dapat menjadi modal besar untuk mempertemukan kebutuhan sekolah dan pelaku usaha.
Dwi Joko menilai selama ini sekolah dan UMKM masih berjalan sendiri-sendiri dalam membangun kemitraan.
Sekolah berharap UMKM dapat menerima siswa magang, sementara UMKM membutuhkan peserta magang yang siap berkontribusi.
“Kadang pelaku UMKM justru harus mengajari dari awal sehingga dianggap kurang efektif dan menyita waktu. Padahal jika dikelola dengan baik, magang bisa memberikan manfaat bagi kedua belah pihak,” ujarnya.
Persepsi Output Magang
Ia juga menekankan pentingnya penyamaan persepsi antara sekolah, siswa, dan orang tua mengenai tujuan dan output dari magang.
“Sebelum penempatan magang, sekolah perlu mengumpulkan siswa dan orang tua untuk menjelaskan proses dan konsekuensinya sehingga tidak terjadi kesalahpahaman di lapangan,” ungkapnya.
Untuk mewujudkan kolaborasi tersebut, Dwi Joko mendorong adanya forum pertemuan rutin antara sekolah dan pelaku UMKM yang difasilitasi pemerintah daerah maupun organisasi terkait.
Ia optimistis hubungan yang dibangun secara bertahap akan menghasilkan kerja sama yang lebih kuat, baik untuk program magang maupun penyaluran tenaga kerja di masa mendatang.
