Radio Solopos, PEKALONGAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan mengusulkan bubur suro dalam Festival Bubur Suro sebagai Warisan Budaya Takbenda.
Usulan ini muncul setelah penyelenggaraan festival bubur suro tahun 2026 berhasil menarik ribuan pengunjung.
Festival tersebut akhirnya resmi ditutup di Lapangan Leo, Krapyak, pada hari Minggu (12/7/2026).
Penutupan tersebut dihadiri oleh Kepala Bank Indonesia Tegal Dimala, jajaran MES, Sekretaris Daerah Kota Pekalongan, Forkopimda, dan berbagai mitra lainnya.
Festival ini juga menjadi ajang pelestarian tradisi, penguatan ekonomi syariah, dan ketahanan pangan di Kota Pekalongan.
Wali Kota Pekalongan H.A. Afzan Arslan Djunaid atau kerap disapa dengan panggilan Aaf mengatakan Festival Bubur Suro mengalami perkembangan.
Perkembangan ini dianggap terus terjadi sejak pertama kali diselenggarakannya pada Tahun 2019.
Menurut Aaf, perkembangan tersebut terlihat dari konsep pelaksanaan, lokasi penyelenggaraan, sampai dengan adanya peningkatan jumlah masyarakat yang mengikuti festival.
Tahun ini jumlah bubur yang berhasil dibagikan kepada masyarakat meningkat dari 3.000 porsi menjadi 5.000 porsi.
Peningkatan jumlah bubur tersebut menjadi penanda bahwa telah terjadi bentuk komitmen pelestarian tradisi yang bisa menggerakkan ekonomi dan gotong royong warga.
“Saya mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat. Antusiasme masyarakat tahun ini luar biasa. Mudah-mudahan Festival Bubur Suro terus kita lestarikan sebagai warisan budaya Kota Pekalongan. Bahkan, kami telah mengusulkan Bubur Suro dan Soto Tauto sebagai Warisan Budaya Takbenda agar semakin dikenal luas,” ujar Aaf.
Pelestarian Budaya
Aaf mengapresiasi dukungan dari berbagai pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Festival Bubur Suro 2026.
Pihak-pihak yang turut berpartisipasi di antaranya adalah Bank Indonesia, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Kospin Jasa Syariah, panitia, dan masyarakat.
Kolaborasi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung keberhasilan festival dan membantu dalam upaya pelestarian budaya daerah.
Selain menjadi bagian dari kegiatan budaya, festival tersebut juga dimanfaatkan untuk menghimpun dana wakaf masyarakat.
Dana yang terkumpul pada tahun ini mencapai sekitar Rp68 juta dan akan dipergunakan untuk mendukung pengembangan Biosalin.
Biosalin adalah bibit padi tahan air payau yang telah diterapkan di lahan pertanian Kota Pekalongan.
Aaf berharap semangat gotong royong yang muncul dan tumbuh melalui Festival Bubur Suro dapat terus dipertahankan.
Harapan tersebut diiringi dengan adanya upaya memperkuat pelestarian budaya, mendukung ketahanan pangan, dan mengembangkan ekonomi syariah yang ada di Kota Pekalongan. (NA).
