Radio Solopos, SOLO – Ekosdance Company berhasil mengoordinasikan sebanyak 3.900 penari dalam Festival Fulan Fehan IV di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Festival Fulan Fehan IV mengusung tema Dance for Friendship.
Sebelum tampil pada puncak festival, tim pelatih menjalani proses kreativitas dan latihan selama tiga pekan.
Produksi dan Manajemen Ekosdance Company, Putri Pramesti Wigaringtyas, mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Keduanya mendapat kepercayaan dari Pemerintah Kabupaten Belu untuk menggarap koreografi pertunjukan puncak Festival Fulan Fehan IV.
Festival tersebut melibatkan ribuan pelajar SMP dan SMA dari berbagai wilayah di Kabupaten Belu.
Sehingga akhirnya para penari dibagi ke dalam empat zona latihan sebelum dipertemukan dalam gladi resik di lokasi utama.
“Proses kreatifnya kami bagi menjadi empat zona. Nantinya seluruh penari dipertemukan di Fulan Fehan untuk menyatukan pola lantai, ragam gerak, musik, dan keseluruhan pertunjukan,” ujar Putri dalam Talkshow Selasar yang disiarkan Radio Solopos, Kamis (9/7/2026).
Tantangan
Pelatih dan koreografer Ekosdance Company, Damri Aprizal, menjelaskan tantangan terbesar selama persiapan bukan hanya mengatur ribuan penari.
Tantangan juga terletak pada penyesuaian koreografi dengan kondisi panggung alam di kawasan sabana Fulan Fehan.
Menurutnya, proses gladi resik sempat terganggu oleh kabut tebal yang membatasi jarak pandang sehingga tim kesulitan memastikan posisi para penari.
Apalagi dengan kondisi kota Atambua yang berbeda ketinggian sedikit saja bisa mempengaruhi kondisi suhu. Sehingga bisa di daerah kota bersuhu 30 derajat sedangkan berpindah sedikit sudah berubah 16 derajat.
“Pas gladi resik kami berhadapan dengan kabut. Teman-teman tidak bisa melihat visual karena tertutup kabut. Namun saat hari pelaksanaan cuaca justru cerah sehingga pertunjukan berjalan sesuai rencana,” kata Damri.
Selain kondisi cuaca, latihan juga dilakukan di empat zona berbeda dengan karakter medan yang tidak sama.
Seluruh penari kemudian hanya memiliki satu kali gladi resik bersama sebelum tampil pada puncak acara.
Faktor Penting
Damri mengatakan koordinasi antarpelatih menjadi faktor penting dalam menyusun pola lantai ribuan penari.
Menurutnya, rancangan koreografi sering mengalami perubahan.
Perubahan ini memang akan terjadi setelah adanya penyesuaian dengan kondisi lapangan sehingga seluruh peserta harus mampu beradaptasi selama proses latihan.
Selain memperhatikan kondisi penari dan tantangan teknis, tim juga menyesuaikan proses latihan dengan tradisi masyarakat setempat.
Mereka menghormati ritual masyarakat dan menghargai masing-masing identitas suku yang ada di Belu, Atambua.
Festival Fulan Fehan merupakan agenda tahunan Pemerintah Kabupaten Belu yang mengangkat semangat persahabatan lintas negara karena digelar di kawasan perbatasan Indonesia-Timor Leste.
Tahun ini diikuti oleh jajaran penting seperti wali kota Darwin, perwakilan pemerintah dari Timor Leste, pejabat Kemendagri, serta kepala daerah di NTT.
Tema Dance for Friendship dipilih untuk memperkuat hubungan antardaerah maupun antarnegara melalui seni tari.
