Radio Solopos, SOLO — Berawal dari usaha rumahan pada 2017, Pukis Badran kini berkembang menjadi salah satu oleh-oleh khas Solo dengan beragam inovasi rasa dan kemasan.
Owner Pukis Badran, Renata Zuraifi, mengatakan nama Pukis Badran dipilih karena mudah diingat sekaligus diambil dari kawasan tempat usaha tersebut pertama kali berdiri.
Ia mengaku memilih berjualan pukis setelah melihat jajanan tradisional itu banyak diminati masyarakat.
Namun, menurutnya, pukis memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk yang lebih higienis dan bernilai jual lebih tinggi.
“Dari situ saya punya ide membuat beberapa inovasi hingga lahirlah Pukis Badran,” ujarnya dalam Talkshow Selasar UMKM Radio Solopos, Selasa (15/7/2026).
Renata mengatakan proses menemukan varian rasa pukis hanya memakan waktu dua pekan yaitu varian reguler Pukis Badran yang tetap dipertahankan sejak pertama kali diluncurkan.
Saat ini terdapat 12 varian reguler, dengan rasa Original, Meises, dan Keju menjadi yang paling diminati.
Sementara itu, beberapa varian musiman seperti Pukis Mochi, Pukis Kurma, dan Pukis Bolognese dihadirkan untuk melengkapi pilihan konsumen.
Selain berinovasi pada produk, Renata juga memberi perhatian pada kemasan.
Menurutnya, kualitas tidak hanya ditentukan oleh rasa, tetapi juga tampilan produk.
Karena itu, proses desain kemasan dikerjakan bersama sang suami yang berprofesi sebagai desainer grafis.
Validasi Lewat Kompetisi
Perjalanan bisnis Pukis Badran tidak selalu mudah.
Saat pertama kali dijual di Selasar Paragon pada 2017, banyak konsumen menganggap harganya terlalu mahal dibanding pukis yang dijual di pasar.
Renata kemudian memilih mengikuti berbagai kompetisi kuliner dan bisnis.
Menurutnya, penghargaan dari para juri profesional menjadi bukti bahwa produknya memiliki kualitas berbeda.
Ia menyebut kemenangan dalam kompetisi Blue Band menjadi titik balik Pukis Badran menjadi produk oleh-oleh khas Solo.
Kemasan pun dirombak agar lebih menarik dan sesuai kebutuhan pasar.
Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah saat mengikuti Kompetisi Kecap Bango pada 2019.
Berbekal inovasi pukis dengan topping daging sapi, ia berhasil lolos hingga babak final dan menjadi salah satu dari lima pemenang nasional.
Hadiah sebesar Rp100 juta berhasil dibawa pulang.
Ketahanan Produk
Selain menghadirkan inovasi rasa, Pukis Badran juga mengembangkan produk agar tetap empuk hingga tiga hari.
Ide tersebut muncul dari pengalaman pribadi saat anaknya membutuhkan bekal praktis untuk dibawa ke sekolah.
Meski produknya mampu bertahan hingga tiga hari, Renata menegaskan seluruh pukis yang dijual merupakan produksi hari itu.
Produk tidak dijual kembali pada hari berikutnya demi menjaga kualitas yang diterima konsumen.
Ia juga memilih tidak melayani pengiriman ke luar kota maupun sistem waralaba.
Keputusan itu diambil karena ingin memastikan kualitas produk tetap terjaga saat diterima pelanggan.
Menurut Renata, menjaga kualitas jauh lebih penting dibanding memikirkan persaingan dengan pelaku usaha lain.
Ia memilih terus mengevaluasi produknya setiap hari agar tetap sesuai dengan harapan konsumen.
