Radio Solopos, SOLO – Solo International Art Camp (SIAC) ke 5 Tahun 2026 menghadirkan 80 seniman dari 28 negara yang berkarya seni bersama di Kota Solo.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang penciptaan karya seni, tapi juga sebagai wadah pertukaran budaya antarseniman dari berbagai belahan dunia.
Ketua penyelenggara, Sulistyo Chung, mengatakan para peserta telah mulai melakukan live painting sejak pembukaan acara pada 16 Juli.
Masing-masing seniman ditargetkan menghasilkan dua karya yang dapat disaksikan masyarakat setiap hari di Gedung Wanita Solo.
Menurutnya, rangkaian kegiatan para seniman berlangsung sejak pagi hingga malam.
Para seniman mendapatkan waktu berkarya mulai dari pagi setelah sarapan hingga sore sekitar pukul 5.
Selain proses berkarya, peserta mengikuti pertunjukan seni tradisi setiap sore.
Terdapat juga sesi artist talk pada malam hari yang menjadi acara unggulan.
Sesi tersebut memberikan para seniman waktu untuk saling berdiskusi terkait konsep, material, dan ide di balik karya seni masing-masing.
“Saya berharap itu bisa diikuti oleh peminat seni, mahasiswa seni di kota Solo dan sekitarnya. Kita bisa melihat bagaimana seorang seniman profesional berkarya,” ujar Sulistyo dalam Talkshow Selasar Radio Solopos, Senin (20/7/2026).
Tidak seluruh seniman yang datang semuanya membuat lukisan.
Terdapat 8 di antaranya yang memilih untuk membuat karya seni patung.
Pertukaran Budaya
Sejumlah seniman mancanegara mengaku memperoleh banyak inspirasi dari kebudayaan Indonesia selama mengikuti kegiatan tersebut.
Jumlah para seniman yang hadir dalam kegiatan tersebut mencapai kurang lebih 80 orang dari 28 negara.
Dalam kesempatan Talkshow, selain Sulistyo terdapat 3 seniman lain yang berasal dari luar negeri.
Ketiganya yaitu Pradhumna Shresta dari Nepal, Bransha Gautier dari Serbia, dan Sandra Robinson dari Amerika Serikat.
Seniman asal Nepal, yang dipanggil sebagai Pradip, mengatakan karya yang sedang ia kerjakan memadukan unsur budaya Nepal dengan simbol-simbol yang ditemuinya di Indonesia.
Ia menilai adanya kesamaan nilai budaya di kedua negara menjadi inspirasi dalam proses kreatifnya.
“About the gods, About the temples, And the folklore. I mingle them together. The heritage, the folklore, And myth together in my canvas. To express the story of our country (Tentang dewa-dewi, tentang candi-candi, dan tentang cerita rakyat. Saya mencampurnya menjadi satu. Warisan budaya, cerita rakyat, dan mitos digabungkan di atas kanvas saya untuk mengekspresikan kisah negara kami.),” ujar Pradip.
Sementara itu, seniman asal Serbia, Bransha, mengungkapkan keramahan masyarakat Indonesia dan kekayaan seni tradisional menjadi pengalaman yang berkesan.
Menurutnya, karya seni baiknya mampu memberikan kebahagiaan kepada orang lain.
Seniman asal Amerika Serikat, Sandy, memilih untuk mengangkat isu lingkungan melalui karya yang mengkritisi penggunaan plastik.
Meski demikian, ia ingin tetap menghadirkan nuansa optimistis dan keindahan dalam setiap karya yang dibuatnya.
Promosi Seni dan Pariwisata
Sulistyo menilai penyelenggaraan Solo International Art Camp tidak hanya memberikan dampak bagi dunia seni, tapi juga mendukung promosi pariwisata di Kota Solo.
Menurutnya, para peserta aktif membagikan pengalaman mereka melalui media sosial.
Sehingga kegiatan tersebut menjadi promosi budaya yang bisa menjangkau masyarakat internasional.
Promosi ini tidak ternilai harganya dan menjadi suatu hal yang berharga.
Kegiatan ini juga dianggap menjadi transfer knowledge terkait dimana posisi seni rupa Indonesia di mata dunia.
Jikalau kegiatan seperti ini tidak dilaksanakan, maka negara kita bisa tertinggal dari negara lain di era global ini.
Ia menambahkan, seluruh karya peserta akan dipamerkan di Balekambang mulai 23 hingga 27 Juli.
Pameran tersebut juga melibatkan sejumlah seniman lokal sebagai bentuk kolaborasi dengan peserta internasional.
