Radio Solopos, SOLO – Kota Solo semakin bergeliat sepanjang tahun 2026, berbagai agenda diselenggarakan mulai dari festival budaya, konser musik, hingga kegiatan berbasis komunitas di tingkat kampung.
Kondisi ini dinilai efektif menggerakkan roda ekonomi kreatif sekaligus membuka peluang besar bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayani, menyatakan bahwa maraknya kegiatan di Kota Solo kini tidak lagi terbatas pada akhir pekan.
Ruang-ruang publik makin hidup berkat kolaborasi aktif antara masyarakat, komunitas, sektor swasta, dan pemerintah.
“Boleh dikatakan hampir setiap hari ada kegiatan. Semua komunitas, genre, dan lintas usia memiliki ruang untuk berkegiatan,” ujar Astrid dalam talkshow Selasar Radio Solopos Senin, (27/7/2026).
Astrid menjelaskan bahwa dampak positif dari penyelenggaraan event tidak berhenti di sektor hiburan semata.
Buktinya, inisiatif warga di tingkat lokal berhasil menumbuhkan kampung-kampung kreatif baru.
Menurutnya, ekonomi kreatif bukan sekadar urusan transaksi jual beli, melainkan wadah berkreasi yang mampu menarik minat wisatawan dan pembeli.
“Dari 17 subsektor ekonomi kreatif, saya kira semuanya ada di Solo. Mulai dari seni tari, desain, mural, hingga festival tingkat kampung,” imbuhnya.
Kualitas UMKM
Melihat pesatnya pertumbuhan UMKM Pemerintah Kota (Pemkot) Solo kini mengalihkan fokus dari sekadar mengejar kuantitas menuju peningkatan kualitas.
Pemkot berkomitmen mendorong pelaku usaha lokal agar mampu naik kelas melalui program pendampingan yang terstruktur.
Melalui Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT), pelaku usaha dapat mengakses fasilitas pendampingan legalitas, sertifikasi halal, konsultasi bisnis, hingga layanan rumah kemasan dan branding secara cuma-cuma.
“Fokus kami bukan lagi pada kuantitas, melainkan kualitas. Pelaku UMKM dapat memanfaatkan fasilitas PLUT untuk meningkatkan daya saing produk mereka,“ tegas Astrid.
Ia menambahkan, banyak pelaku UMKM yang menggantungkan omzet utamanya pada bazar dan festival harian, bahkan tanpa memiliki toko fisik.
Oleh karena itu, Pemkot Solo berkomitmen untuk terus menyisipkan bazar UMKM dalam setiap gelaran acara agar dampak ekonominya terdistribusi secara merata.
Dampak Event
Selain memacu perekonomian, pesatnya acara di Solo juga dirancang untuk menjaga keterkaitan budaya bagi generasi muda.
Pertunjukan tradisional kini dikemas lebih modern tanpa merusak nilai luhurnya, seperti pementasan wayang kulit yang dipadukan dengan tata cahaya modern serta kolaborasi wayang orang.
Di sisi lain, fasilitas seperti Solo Technopark terus dimaksimalkan sebagai pusat pelatihan, inkubasi bisnis, dan ruang kerja gratis (co-working space) bagi pengembang startup maupun wirausaha baru.
Biarpun ritme kegiatan kota semakin padat, Astrid menjamin bahwa nuansa slow living khas Solo tetap terjaga.
Wisatawan masih bisa menikmati suasana santai melalui kunjungan ke kampung wisata, belajar membatik, menabuh gamelan, hingga menikmati wisata kuliner lokal.
Meski demikian, Astrid mengingatkan bahwa tingginya frekuensi acara membawa tantangan tersendiri, terutama pada pengelolaan sampah.
Ia mengimbau seluruh penyelenggara acara, pelaku UMKM, dan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan demi keberlanjutan kota.
“PR besar kita saat ini adalah masalah sampah. Jangan sampai banyaknya event justru menimbulkan persoalan baru. Semua pihak harus memiliki kesadaran bersama untuk menjaga kebersihan Kota Solo,” pungkasnya.
