• About Us
    • Copyright
    • Pedoman Media Siber
    • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Crew
    • Ardi Sardjono
    • Fira Maghfirani
    • Hadiyawan Arto Buwono
    • Ika Wibowo
    • Indra Saputra
    • Noer Atmaja
    • Rachmad Agunanto
    • Senja Kurnia
    • Wahyu Panji
  • Index
  • Jadwal Acara
Radio Solopos FM
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us
No Result
View All Result
Radio Solopos FM
No Result
View All Result
Home Lifestyle

Selain Kos dan Kampus, Anak Muda Butuh Rumah Ketiga!

Fitriana Afifaturahmah

Redaksi Radio Solopos by Redaksi Radio Solopos
16 September 2026
in Lifestyle
0
Selain Kos dan Kampus, Anak Muda Butuh Rumah Ketiga!

Radio Solopos, SOLO – Bagi mahasiswa yang tinggal di tempat kos, rutinitas sehari-hari kerap terjebak dalam siklus yang monoton. Hari-hari didominasi oleh pergerakan antara kamar kos dan ruang kuliah. Kamar menjadi tempat beristirahat sekaligus menuntaskan berbagai beban, sementara kampus identik dengan perkuliahan, tenggat tugas, serta tuntutan akademik. Di sela padatnya rutinitas tersebut, muncul kebutuhan akan ruang alternatif untuk sekadar berganti suasana dan mengambil jeda.

Laporan WHO Commission on Social Connection yang diterbitkan pada 2025 memperkirakan sekitar 15,8 persen penduduk dunia mengalami kesepian. Pada kelompok usia 13–29 tahun, angkanya mencapai 17–21 persen. Namun, kesepian tidak selalu berarti seseorang tidak memiliki teman atau lingkar pertemanan.  Seseorang bisa saja memiliki lingkungan sosial yang aktif, tetapi tetap membutuhkan ruang untuk merasa terhubung dengan dunia luar tanpa tuntutan untuk terus-menerus bersosialisasi. Dalam konteks ini, konsep third place atau “Rumah Ketiga” dapat menjadi sarana yang mendukung terbentuknya koneksi sosial di tengah kehidupan anak muda. 

Apa Itu Rumah Ketiga?

Konsep third place pertama kali diperkenalkan oleh sosiolog Ray Oldenburg melalui bukunya, The Great Good Place (1989). Secara sederhana, third place merujuk pada ruang di luar rumah dan lingkungan utama seperti tempat kerja yang memungkinkan orang berkumpul serta berinteraksi secara informal. Kafe, taman kota, hingga ruang publik terbuka dapat menjalankan fungsi ini. Sebuah taman, misalnya, dapat berfungsi sebagai third place apabila menjadi ruang interaksi sosial yang berlangsung secara informal dan rutin.

Rumah Ketiga di Kota Solo

Di Kota Solo dan sekitarnya, sejumlah ruang publik berpotensi menjalankan fungsi sebagai third place, seperti Taman Balekambang, Koridor Ngarsopuro, dan kawasan Gatot Subroto. Kehadiran Alun-Alun UMS hingga Plaza Sriwedari juga menunjukkan adanya ruang netral yang dapat digunakan untuk belajar, berkegiatan, bertemu, atau sekadar menikmati suasana. Namun, kebutuhan terhadap Rumah Ketiga tidak selalu berarti ingin berinteraksi secara intens.

Ada yang datang untuk mencari teman bermain, ada yang cukup melakukan aktivitas bersama tanpa perlu mengenal lebih jauh, dan ada pula yang hanya ingin menikmati suasana ramai tanpa harus berbicara. Gagasan third place Ray Oldenburg melihat ruang semacam ini sebagai tempat informal untuk bertemu dan bersosialisasi. Dalam praktiknya, bentuk hubungan yang tercipta bisa sangat beragam.

Konsep weak ties yang dikembangkan Mark Granovetter menunjukkan bahwa hubungan sosial yang tidak terlalu dekat tetap dapat berperan dalam menghubungkan seseorang dengan jaringan sosial yang lebih luas. Hal ini dapat dilihat dalam komunitas Balik Dolanan Solo yang menghidupkan kembali permainan tradisional seperti gobak sodor, engklek, dakon, dan bekel. Kegiatan tersebut bersifat terbuka. Peserta dapat bermain dan menikmati kebersamaan tanpa tuntutan untuk membangun hubungan yang mendalam. Sebaliknya, sebagian orang justru nyaman berada di tengah keramaian tanpa banyak berinteraksi. Mereka memilih membaca, mengerjakan tugas, atau sekadar duduk menikmati suasana.

Gagasan tersebut berangkat dari penelitian Mark Granovetter yang dipublikasikan dalam American Journal of Sociology pada 1973. Granovetter menunjukkan bahwa hubungan yang tidak terlalu dekat tetap memiliki peran penting dalam menghubungkan seseorang dengan kelompok atau jaringan sosial yang lebih luas.

Kondisi ini berkaitan dengan konsep civil inattention Erving Goffman, yakni ketika seseorang menyadari keberadaan orang lain tanpa merasa harus terlibat dalam percakapan.

Terhubung Tanpa Kehilangan Ruang Personal

Pada akhirnya, Rumah Ketiga bukan sekadar tempat untuk mencari teman. Ruang ini memberi kesempatan bagi setiap orang untuk terhubung dengan lingkungan sekitar sesuai dengan kebutuhannya. Di tengah rutinitas kuliah dan kehidupan di kos, Rumah Ketiga dapat menjadi ruang untuk beristirahat, berkegiatan, atau sekadar menikmati suasana bersama orang lain tanpa harus selalu terlibat dalam interaksi yang intens.

Tags: kota soloradio soloposkesehatan mentalruang publikRumah Ketiga

Category

  • Lifestyle
  • Opini
  • News
  • Program
  • Event
  • Podcast
  • Galery Foto

Site Links

  • Log in
  • Entries feed
  • Comments feed
  • WordPress.org
  • Copyright
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • About Us

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.