Radio Solopos, SOLO — Pernah merasa pikiran tidak berhenti bekerja meski tubuh sedang beristirahat? Atau merasa lelah menghadapi sekolah, pekerjaan, pertemanan, media sosial, hingga berbagai tuntutan masa depan? Perasaan seperti ini semakin sering dibicarakan anak muda melalui istilah overthinking dan burnout.
Di tengah kehidupan yang serba cepat, anak muda menghadapi berbagai tekanan sekaligus. Target pendidikan atau pekerjaan, persoalan finansial, hubungan sosial, ekspektasi keluarga, hingga paparan media sosial dapat membuat waktu untuk benar-benar beristirahat terasa semakin sedikit.
Namun, rasa lelah atau banyak pikiran tidak selalu berarti seseorang mengalami gangguan mental. Burnout, stres, kecemasan, dan gangguan mental merupakan hal yang berbeda, meski beberapa gejalanya dapat terlihat mirip.
Data Kesehatan Mental Anak Muda di Indonesia
Perhatian terhadap kesehatan mental anak dan remaja bukan tanpa alasan. Data Indonesia–National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) yang dilakukan pada 2021 terhadap remaja usia 10–17 tahun menunjukkan bahwa 5,5 persen remaja mengalami gangguan mental dalam 12 bulan sebelumnya.
Survei tersebut juga menemukan bahwa 34,9 persen remaja mengalami gejala masalah mental yang belum memenuhi kriteria diagnosis gangguan mental. Gangguan kecemasan menjadi gangguan yang paling banyak ditemukan, dengan prevalensi 3,7 persen.
Data tersebut merupakan survei nasional representatif pertama mengenai prevalensi gangguan mental pada remaja Indonesia. Artinya, tidak semua anak muda yang mengalami tekanan psikologis otomatis memiliki gangguan mental, tetapi kelompok yang mengalami gejala tetap membutuhkan perhatian dan dukungan.
Data Terbaru dari Cek Kesehatan Gratis
Gambaran yang lebih baru juga muncul dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan.
Dalam laporan Kemenkes pada Maret 2026, sekitar 7 juta anak yang telah menjalani skrining CKG menunjukkan bahwa 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak memiliki gejala kecemasan, sedangkan 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi.
Kemenkes kembali melaporkan pada September 2026 bahwa pelaksanaan CKG telah mengidentifikasi sekitar 35.000 anak atau 1,08 persen dengan gangguan jiwa. Pada kelompok dewasa, sekitar 186.000 orang teridentifikasi mengalami gangguan depresi dan kecemasan. Angka-angka tersebut merupakan hasil skrining, sehingga tidak dapat disamakan begitu saja dengan diagnosis klinis.
Kenapa Anak Muda Bisa Merasa “Capek Terus”?
Tekanan pada masa remaja dan dewasa muda dapat datang dari berbagai arah.
WHO menyebut faktor seperti tekanan untuk menyesuaikan diri dengan teman sebaya, pencarian identitas, pengaruh media, kondisi sosial-ekonomi, serta masalah dalam hubungan dapat memengaruhi kesehatan mental remaja.
Di sisi lain, kehidupan digital juga menjadi bagian dari keseharian anak muda. Laporan WHO Eropa berdasarkan survei terhadap hampir 280.000 anak muda usia 11, 13, dan 15 tahun di 44 negara dan wilayah menunjukkan prevalensi penggunaan media sosial bermasalah meningkat dari 7 persen pada 2018 menjadi 11 persen pada 2022. Data ini bukan data khusus Indonesia, tetapi memberikan gambaran mengenai salah satu tantangan kesehatan mental di lingkungan digital.
Overthinking Tidak Sama dengan Banyak Berpikir
Istilah overthinking sering digunakan untuk menggambarkan kebiasaan memikirkan sesuatu secara berulang-ulang, misalnya terus memikirkan kesalahan yang sudah terjadi atau terlalu khawatir mengenai sesuatu yang belum terjadi.
Memikirkan masalah sebenarnya merupakan bagian normal dari kehidupan. Yang perlu diperhatikan adalah ketika kekhawatiran atau pikiran tersebut terasa sulit dikendalikan dan mulai mengganggu tidur, konsentrasi, kegiatan sekolah atau pekerjaan, serta hubungan dengan orang lain.
Karena itu, jangan buru-buru memberi label pada diri sendiri hanya berdasarkan konten kesehatan mental di media sosial.
Burnout Bukan Sekadar “Lagi Capek”
Burnout juga sering digunakan dalam percakapan sehari-hari ketika seseorang merasa kelelahan akibat aktivitas yang terus-menerus.
Dalam konteks pekerjaan, WHO mengklasifikasikan burnout sebagai fenomena pekerjaan yang muncul akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. Burnout ditandai antara lain dengan rasa kehabisan energi, semakin menjauh atau memiliki perasaan negatif terhadap pekerjaan, serta berkurangnya efektivitas profesional.
Karena definisi tersebut spesifik pada konteks pekerjaan, rasa lelah setelah sekolah, kuliah, atau menjalani aktivitas sehari-hari tidak otomatis berarti burnout.
Jangan Tunggu Sampai Kondisi Mengganggu Aktivitas
Menjaga kesehatan mental tidak harus menunggu seseorang mengalami kondisi yang berat.
Mengenali perubahan pada diri sendiri, menjaga pola tidur, mengambil jeda dari aktivitas, membatasi paparan hal yang membuat semakin tertekan, serta berbicara dengan orang yang dipercaya dapat menjadi bagian dari menjaga kesejahteraan mental.
Kemenkes juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan perubahan yang berlangsung secara konsisten, termasuk gangguan tidur, rasa lemas berulang, mudah tersinggung, kecemasan berlebihan, dan kesulitan berkonsentrasi.
Jika kondisi tersebut terus berlangsung dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, berbicara dengan tenaga profesional dapat membantu mendapatkan penilaian dan dukungan yang sesuai.
Anak Muda Tidak Harus Menghadapi Semuanya Sendirian
Kesehatan mental bukan sekadar persoalan “kurang kuat” atau “terlalu banyak berpikir”. Setiap orang dapat mengalami tekanan, dan mencari dukungan merupakan bagian dari upaya menjaga diri.
Kemenkes saat ini juga menyediakan layanan Healing119 secara gratis melalui 119 ekstensi 8 untuk dukungan psikologis dan membantu menghubungkan masyarakat dengan pertolongan yang sesuai.
Sobat Solopos, merasa lelah, khawatir, atau membutuhkan jeda bukan berarti gagal. Di tengah dunia yang terus meminta kita bergerak cepat, memberi ruang untuk berhenti sejenak juga merupakan bagian dari menjaga diri.
