Radio Solopos, Surakarta — Kartu Pokémon kini tidak hanya menjadi barang koleksi. Di tengah meningkatnya popularitas trading card game (TCG), kartu-kartu tersebut mulai dilirik sebagian generasi Z sebagai aset alternatif yang memiliki potensi nilai ekonomi.
Ketertarikan Gen Z terhadap kartu Pokémon tidak terlepas dari faktor nostalgia. Karakter seperti Pikachu, Charizard, dan Mewtwo telah dikenal sejak masa kanak-kanak sehingga membuat aktivitas mengoleksi kartu memiliki nilai emosional tersendiri.
Selain nostalgia, perkembangan media sosial turut mendorong popularitas kartu Pokémon. TikTok, Instagram, hingga komunitas daring menjadi ruang bagi para kolektor untuk berbagi informasi mengenai kartu langka, harga, rilisan terbaru, serta perkembangan pasar.
Konten unboxing juga membuat aktivitas mengoleksi semakin menarik. Kolektor dapat merasakan pengalaman membuka booster pack dan menemukan kartu dengan tingkat kelangkaan tertentu. Fenomena tersebut turut membuat kartu Pokémon semakin dikenal di kalangan generasi muda.
Dari sisi ekonomi, nilai kartu Pokémon mengalami perkembangan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan indeks lembaga grading PSA, harga rata-rata kartu Pokémon tercatat meningkat hingga 1.350 persen sejak 2020.
Meski demikian, kenaikan tersebut tidak berarti seluruh kartu Pokémon memiliki nilai yang sama. Harga sebuah kartu dipengaruhi sejumlah faktor, seperti kondisi fisik, tingkat kelangkaan, karakter yang ditampilkan, edisi, kualitas cetakan, dan tingkat permintaan dari kolektor.
Perkembangan tersebut juga tidak terlepas dari pertumbuhan industri trading card game (TCG). Pasar TCG diperkirakan mencapai US$8,4 miliar pada 2025 dan berpotensi meningkat menjadi US$16,9 miliar pada 2035. Pokémon menjadi salah satu merek yang memiliki pangsa cukup besar dalam pasar kartu global.
Bagi sebagian Gen Z, kartu Pokémon tidak hanya dipandang berdasarkan nilai jualnya. Ilustrasi dan karakter yang telah menemani mereka sejak kecil membuat kartu tersebut tetap memiliki nilai sentimental, meskipun kemudian ikut berkembang menjadi bagian dari pasar koleksi.
Namun, menjadikan kartu Pokémon sebagai aset alternatif tetap memiliki risiko. Harga kartu dapat berubah mengikuti kondisi pasar dan tingkat permintaan. Pemahaman mengenai kondisi kartu, tingkat kelangkaan, serta perkembangan pasar menjadi hal penting sebelum seseorang memutuskan untuk mengoleksinya dengan tujuan ekonomi.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa budaya koleksi dapat berkembang mengikuti perubahan zaman. Bagi Gen Z, kartu Pokémon yang dahulu dikenal sebagai bagian dari permainan kini juga menjadi bagian dari tren koleksi dan ekonomi kreatif.
