Radio Solopos, SOLO — Usaha kuliner rumahan Kroket Mbak Lis di Kota Solo mampu bertahan hampir 10 tahun di tengah persaingan bisnis makanan berkat konsistensi menjaga kualitas rasa dan pelayanan kepada pelanggan.
Owner Mbak Lis Snack & Lunch Box asal Tipes, Solo, Melati Pujisari, mengatakan usaha tersebut awalnya dirintis sang ibu sejak 2016 dengan menjual kroket secara titip jual di warung-warung.
“Awalnya memang kroket, dititipkan dari warung ke warung,” kata Melati dalam talkshow Selasar UMKM Radio Solopos.
Melati mulai ikut mengembangkan usaha keluarga itu pada 2018 setelah berhenti bekerja dan fokus menjadi ibu rumah tangga. Saat itu, ia membantu memasarkan produk karena proses pembuatan kroket dinilai cukup rumit dan membutuhkan waktu lama.
Menurut dia, kroket menjadi produk andalan sekaligus ciri khas usaha Mbak Lis Snack & Lunch Box. Selain kroket, usaha tersebut juga memproduksi risol mayo, aneka snack, hingga lunch box.
“Banyak pelanggan yang dari tahun 2016 sampai sekarang masih pesan, terutama untuk kroket,” ujarnya.
Ia mengatakan usaha mereka mulai berkembang pesat saat pandemi Covid-19. Promosi melalui media sosial dan pemasaran langsung ke kantor-kantor dinilai efektif memperluas jangkauan pelanggan.
“Naiknya memang pas corona. Waktu itu promosi lewat media sosial, lalu menawarkan juga ke kantor-kantor,” katanya.
Melati menuturkan menjaga kualitas menjadi prinsip utama yang selalu diterapkan dalam usaha keluarga mereka. Meski harga bahan baku terus naik, mereka tetap mempertahankan kualitas rasa dan bahan makanan.
“Dari awal ibu selalu pesan, yang penting jual rasa dan kualitas. Orang yang pernah mencoba pasti balik lagi,” ucapnya.
Tak hanya menjaga kualitas produk, pelayanan kepada pelanggan juga menjadi perhatian utama. Hingga kini, sebagian pesanan masih diantar sendiri demi memastikan kondisi makanan tetap baik saat diterima pelanggan.
Menurut Melati, pengalaman menggunakan jasa pengiriman pernah membuat bentuk makanan rusak sehingga mengecewakan pelanggan.
“Pernah pakai jasa kirim, tapi makanannya jadi rusak. Akhirnya lebih memilih diantar sendiri,” katanya.
Tak Mulus
Perjalanan usaha tersebut tidak selalu berjalan mulus. Pada masa awal merintis usaha, Melati mengaku kerap mengalami penolakan saat menawarkan produk ke warung maupun calon pelanggan.
Selain itu, ia juga pernah mengalami kerugian karena makanan yang diproduksi tidak habis terjual. Namun kondisi tersebut justru dijadikan sarana promosi dengan membagikan produk kepada tetangga maupun calon pelanggan.
“Kalau tidak habis ya dibagikan saja. Anggap promosi supaya orang tahu rasanya,” ujarnya.
Kroket Mbak Lis kini dipasarkan mulai Rp3.000 per buah, baik dalam kondisi siap santap maupun makanan beku. Pemesanan sementara dilakukan melalui WhatsApp dan ke depan direncanakan kembali dipasarkan melalui e-commerce.
Melati menilai mental pantang menyerah menjadi modal penting bagi pelaku UMKM untuk bertahan dan berkembang.
“Yang penting jangan menyerah dan jangan mengecewakan pelanggan,” katanya.
