Radio Solopos, SOLO — Di tengah maraknya gelato dan es krim modern dengan beragam inovasi rasa, Es Puter Jadul di Colomadu, Kabupaten Karanganyar, memilih mengandalkan nostalgia sebagai daya tarik utama.
Strategi tersebut mampu menarik pelanggan, khususnya kalangan dewasa yang ingin kembali mengenang masa kecil mereka melalui jajanan tradisional.
Owner Es Puter Jadul, Afrodita Primera, mengatakan ide usaha tersebut berangkat dari keyakinannya bahwa makanan tidak hanya berkaitan dengan rasa, tetapi juga menyimpan kenangan yang melekat dalam ingatan seseorang.
“Makanan itu tidak hanya soal rasa. Ada nostalgia di dalamnya. Ada kenangan yang muncul ketika seseorang mencicipi makanan tertentu,” ujarnya dalam Talkshow Selasar UMKM Radio Solopos, Kamis (4/6/2025).
Menurut Dita, es puter merupakan salah satu jajanan yang memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat Indonesia.
Karena itu, di tengah gempuran produk es krim modern, pihaknya memilih mempertahankan konsep tradisional dengan sentuhan varian rasa yang lebih sesuai dengan selera masa kini.
Es Puter Jadul menawarkan berbagai varian rasa, seperti cokelat, vanila, cookies and cream, durian, kopyor, kelapa muda, stroberi, alpukat, dan jeruk.
Resep Tradisional
Meski menghadirkan inovasi rasa, bahan dasar yang digunakan tetap mempertahankan resep tradisional berbahan santan dan gula asli tanpa pemanis buatan.
“Yang kami ubah hanya variannya. Bahannya tetap sama. Orang sudah tahu seperti apa rasa es puter, sehingga yang kami lakukan adalah menghadirkan pilihan rasa yang lebih beragam,” katanya.
Dita mengungkapkan mayoritas pelanggan Es Puter Jadul justru berasal dari kalangan dewasa. Banyak di antaranya datang bersama keluarga untuk menikmati kembali jajanan yang populer pada era 1980-an hingga 1990-an.
Bahkan, sebagian pelanggan memilih menikmati es puter dengan rasa original tanpa tambahan topping meskipun tersedia secara gratis.
Mereka ingin mendapatkan sensasi rasa yang sama seperti yang pernah dinikmati pada masa kecil.
“Banyak yang tidak mau pakai topping. Mereka maunya rasa original karena ingin merasakan kembali seperti waktu kecil dulu,” ujarnya.
Menurut Dita, pelanggan yang datang tidak sekadar membeli produk, tetapi juga membeli pengalaman dan kenangan masa lalu yang sulit ditemukan pada produk kuliner modern.
“Yang dibeli bukan hanya produknya, tetapi juga nostalgianya. Sedikit banyak kami membantu mereka menghidupkan kembali kenangan masa kecil,” kata dia.
Untuk memperkuat identitas tersebut, Es Puter Jadul menghadirkan gong kecil yang identik dengan penjual es puter tradisional.
Identitas itu dipasang di gerai sebagai penanda sekaligus pengingat bagi pelanggan terhadap jajanan yang pernah akrab di masa lalu.
Saat ini Es Puter Jadul beroperasi di kawasan rest area SPBU Bolon, Colomadu, Kabupaten Karanganyar.
Ala Hong Kong
Di lokasi yang sama, Dita juga mengembangkan usaha kuliner wonton atau pangsit ala Hong Kong yang disajikan dengan kuah maupun chili oil sebagai pelengkap pilihan menu bagi pelanggan.
Di tengah persaingan usaha kuliner yang semakin ketat, Dita meyakini kualitas produk menjadi faktor utama untuk mempertahankan kepercayaan pelanggan.
Karena itu, pihaknya tetap menjaga kualitas bahan baku meski sempat menghadapi kenaikan harga kelapa dan sejumlah bahan produksi lainnya.
“Kualitas tidak bisa bohong. Orang mungkin datang karena penasaran, tetapi mereka akan kembali kalau kualitasnya tetap terjaga,” ujarnya.
Es Puter Jadul dijual dengan harga Rp7.000 untuk dua scoop dan Rp10.000 untuk tiga scoop. Harga tersebut masih dipertahankan agar tetap terjangkau bagi pelanggan di tengah kenaikan sejumlah biaya produksi.
Masyarakat yang ingin menikmati Es Puter Jadul dapat berkunjung ke rest area SPBU Bolon, Colomadu. Informasi mengenai produk dan aktivitas usaha dapat diakses melalui akun Instagram @wontonmawon_bolon.
Gerai tersebut buka setiap hari pukul 08.00 WIB hingga 22.00 WIB. Khusus Senin dan Selasa, operasional berlangsung pukul 09.00 WIB hingga 21.00 WIB untuk memberikan waktu berkumpul bersama keluarga bagi para karyawan.
