Radio Solopos, SOLO – DPRD Jawa Tengah mendorong pembangunan yang lebih merata di seluruh wilayah Jawa Tengah pada momentum Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah.
Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dinilai menjadi kunci untuk mewujudkan pembangunan.
Yang diarahkan untuk tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi.
Akan tetapi juga mampu mempertimbangkan berbagai kondisi pemerataan kesejahteraan.
Terutama di saat tugas DPRD Provinsi Jateng adalah mengawasi dan memastikan program dan kebijakan dari pemerintah Provinsi.
Supaya dapat teraplikasikan sampai ke tingkat bawah.
Anggota Komisi A DPRD Jawa Tengah, Subandi, menjelaskan bahwa tema Hari Jadi ke-81 Jawa Tengah, Gumregut Nyawiji, memiliki makna semangat bersama.
Semangat ini harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang sama dalam membangun Jawa Tengah.
Menurut Bandi, pembangunan Jawa Tengah memiliki tantangan yang kompleks karena terdiri dari 35 campuran kabupaten dan kota.
Lebih tepatnya dengan 29 kabupaten dan 6 kota yang memiliki kondisi geografis dan kebutuhan masyarakat yang pasti berbeda-beda.
Dorong Pemerataan
Subandi menjelaskan keterbatasan anggaran menjadi salah satu tantangan.
Yang muncul dalam proses pemenuhan kebutuhan pembangunan di seluruh wilayah.
Karena itu, masyarakat perlu terlibat mendukung pembangunan yang dirancang pemerintah dan DPRD.
Sementara itu, Anggota Komisi A DPRD Jawa Tengah, Ayuning Sekar Suci, mengatakan pembangunan butuh kolaborasi.
Yang harus terjalin antara pemerintah, swasta, masyarakat, dan dunia pendidikan.
Bagi Ayu, contohnya untuk perguruan tinggi dapat berperan dalam inovasi dan teknologi.
Sedangkan sektor swasta berkontribusi dalam membuka lapangan pekerjaan.
Ayu menambahkan, salah satu prioritas pembangunan Jawa Tengah pada 2026 adalah memperkuat sektor pangan.
Pembangunan sektor pertanian tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani.
Soroti Ketenagakerjaan
Anggota Komisi A DPRD Jawa Tengah, Hafidz Alhaq Fatih, mengatakan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah menunjukkan perkembangan positif.
Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tercatat 5,37 persen pada 2025 dan meningkat menjadi 5,89 persen pada triwulan I 2026.
Namun, peningkatan ekonomi ternyata masih diikuti permasalahan ketenagakerjaan.
Angka PHK yang terjadi pada semester pertama 2026 disebut telah melampaui rekor jumlah PHK sepanjang 2025.
“Walau ada peningkatan-peningkatan yang kita raih, tapi kita juga tidak boleh serta merta bereuforia dalam 81 tahun tanpa menyoroti banyak hal-hal yang lainnya. Tadi dari ekonomi, ketenagakerjaan ternyata masih menjadi PR buat kita bersama,” Jelas Hafidz dalam Talkshow Selasar Radio Solopos Jumat, (21/8/2026).
Hafidz menilai pemerintah harus memperluas kesempatan kerja.
Sehingga sumber daya manusia yang dipersiapkan juga mampu bersaing di luar negeri.
Menurutnya, peluang kerja di Jepang, Korea Selatan, Malta, Australia, dan sejumlah negara lain dapat menjadi salah satu alternatif.
Terutama untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan menambah devisa untuk negara.
Walau baginya, yang menjadi kebutuhan saat ini adalah membuka informasi yang bisa warga peroleh.
Di sisi lain, Anggota Komisi A DPRD Jawa Tengah, Antonius Yoga Prabowo, menilai generasi muda saat ini berani memilih pekerjaan di luar bidang pendidikannya.
Juga banyak generasi sekarang yang memilih pekerjaan berdasarkan keefisienannya bagi masing-masing individu.
Namun, ia mengingatkan pentingnya kemampuan manajerial agar usaha dapat bertahan jangka panjang.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan rekam jejak di media sosial.
Dikarenakan saat ini sejumlah perusahaan turut mempertimbangkan hal tersebut dalam proses rekrutmen.
Prioritas Kebutuhan Dasar
Subandi berharap pembangunan Jawa Tengah lebih banyak diarahkan untuk kebutuhan dasar masyarakat.
Contoh yang ia berikan ialah terkait persoalan kekeringan yang sampai sekarang masih menjadi masalah yang melanda sejumlah wilayah Jateng.
Di dalamnya termasuk wilayah seperti Wonogiri, Sragen, Karanganyar, dan Sukoharjo.
Menurut Bandi, kebutuhan air bersih harusnya menjadi salah satu prioritas awal.
Terutama dengan mempertimbangkan bahwa pembelian air bersih dapat membebani masyarakat jika berpenghasilan rendah.
Sementara itu, Anggota Komisi A DPRD Jawa Tengah, Mukafi Fadli berharap semangat Gumregut Nyawiji dapat diwujudkan melalui kekompakan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
Pembangunan tersebut diharapkan mampu menjawab empat poin yang mereka harapkan.
Yakni memperkuat pertumbuhan ekonomi, infrastruktur dasar, pengentasan kemiskinan, perluasan lapangan kerja, dan transformasi digital hingga ke wilayah pedesaan.
“Jadi sekali lagi kita punya tugas empat poin itu yang akhirnya Jawa Tengah, Nyawiji. Akan terwujud manakala tiga komponen antara masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha bersatu padu.” Tutup Mukafi.
