Radio Solopos, SOLO – Kompetensi dan kemampuan membawa tim mencapai target dinilai jauh lebih krusial dibanding gender dalam dunia kepemimpinan.
Pandangan ini ditegaskan oleh Retno Wulandari sebagai figure of women in leadership dan Rini Yustiningsih sebagai Pemimpin Redaksi sekaligus Chief Operating Officer (COO) Solopos Media Group, dalam talkshow Selasar di Radio Solopos, Senin (3/8/2026).
Retno menyatakan bahwa laki-laki maupun perempuan memiliki peluang yang sama untuk memimpin, selama memiliki kualifikasi yang dibutuhkan.
“Saya lebih melihat kompetensi terlebih dahulu, bukan jenis kelaminnya. Indikator utamanya adalah kompetensi,” ujar Retno.
Ia menambahkan, seorang pemimpin harus adaptif terhadap situasi.
Ada kalanya pendekatan empati diutamakan, namun dalam kondisi tertentu terutama terkait penegakan aturan dan kebijakan maka sikap tegas mutlak diperlukan.
Pandangan senada disampaikan Rini Yustiningsih bahwa kepemimpinan bukanlah tentang mendominasi orang lain, melainkan membangun kemitraan dan kolaborasi bersama tim.
Rini mengaku tak pernah bercita-cita menduduki posisi Pemimpin Redaksi.
Sejak awal berkarir di Solopos, ia hanya fokus menyelesaikan setiap tugas secara optimal.
“Saya bekerja bukan untuk mengejar jabatan. Yang penting pekerjaan ini berdampak dan dipertanggungjawabkan. Soal karier, itu akan mengikuti,” tuturnya.
Kepemimpinan
Sama halnya dengan Rini, Retno menceritakan perjalanan kariernya yang tidak dirancang sejak awal.
Sebagai Lulusan Fakultas Hukum ia justru terjun ke dunia perhotelan, lalu memperdalam ilmu komunikasi setelah sering berinteraksi dengan media.
Menurut Retno, setiap orang sebaiknya berfokus menyelesaikan tugas yang ada di depan mata karena kesempatan memimpin akan datang seiring proses.
Meski demikian, tantangan sebagai pemimpin tidak lepas dari tekanan.
Retno mencontohkan industri hotel yang sempat terpukul akibat pandemi Covid-19 dan kebijakan efisiensi anggaran.
Dalam situasi krisis seperti itu, pemimpin dituntut tetap tenang demi menenangkan tim.
“Yang penting kita menjadi bagian dari solusi, bukan menambah masalah baru,” tegas Retno.
Senada dengan itu, Rini mengakui tanggung jawab akan semakin besar seiring meningkatnya posisi.
Namun, stres harus disikapi dengan mencari solusi, bukan meratapi persoalan.
Work Life Balance
Selain kepemimpinan, kedua narasumber turut menyoroti konsep work-life balance.
Retno mengakui keseimbangan antara pekerjaan, keluarga, pendidikan, dan aktivitas sosial sulit dicapai karena setiap fase kehidupan memiliki prioritas berbeda.
Pandangan serupa disampaikan Rini.
Rini juga menegaskan bagi seorang pemimpin yang sedang membawa perubahan dalam organisasi, hal terpenting bukanlah mengejar keseimbangan sempurna, melainkan membangun kesepahaman dengan keluarga terkait prioritas yang sedang dijalankan.
Diskusi ditutup dengan kesepakatan bahwa intuisi kepemimpinan lahir dari pengalaman, pengetahuan, dan konsistensi.
Semakin sering seseorang menghadapi persoalan di bidangnya, semakin terasah pula instingnya dalam mengambil keputusan.
