Radio Solopos SOLO — Organisasi Pimpinan Daerah Persaudaraan Musliman (PD Salimah) Surakarta terus mendorong para lanjut usia (lansia) untuk tetap berperan aktif, mandiri, dan produktif melalui program Sekolah Lanjutan Salimah Lansia (SALSA).
Program tersebut dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup lansia melalui pembelajaran tematik.
Ketua Departemen Diklat PD Salimah Surakarta, Yuni Arum Setyaningsari, mengatakan SALSA merupakan unit kegiatan Salimah yang bersifat umum, dengan kurikulum khusus untuk para peserta yang berusia lanjut.
“Tujuan utamanya adalah meningkatkan kualitas hidup peserta agar tetap mandiri, aktif, dan dapat terus berkontribusi bagi keluarga maupun masyarakat,” ujarnya.
Latar belakang SALSA
Menurut Arum, adanya program tersebut dipicu oleh meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia.
Ia berpendapat bahwa lansia bukan kelompok masyarakat yang tersisih, melainkan sosok yang memiliki pengalaman dan peran penting dalam pembangunan bangsa.
“Kami ingin para lansia tetap berdaya dan tidak merasa terabaikan. Mereka masih bisa mandiri, aktif, bahkan memberikan kontribusi serta doa terbaik bagi generasi penerus bangsa,” uangkapnya dalam talkshow Selasar UMKM Radio Solopos, Jumat (26/6/26)
Di Surakarta, SALSA telah memasuki angkatan kedua.
Angkatan pertama berlangsung pada 2023-2024 di Karangasem, Kecamatan Laweyan, sedangkan angkatan kedua diselenggarakan pada 2025-2026 di Kelurahan Bumi, Kecamatan Laweyan.
Setiap peserta menjalani proses pembelajaran selama 12 kali pertemuan yang diadakan satu kali setiap bulan.
Pada akhir masa pembelajaran, peserta yang memenuhi syarat kehadiran akan mengikuti prosesi wisuda sebagai bentuk apresiasi dari penyelenggara.
Arum menjelaskan, angkatan kedua diikuti 42 peserta dan sebanyak 40 peserta berhasil diwisuda.
Sementara pada angkatan pertama, sekitar 80 peserta mengikuti program dan lebih dari 60 peserta mengikuti wisuda.
Materi yang diberikan dalam SALSA meliputi aspek keagamaan, kesehatan, psikologi, ekonomi, hingga keterampilan.
Untuk mendukung kualitas pembelajaran, Salimah menggandeng sejumlah akademisi, psikolog, serta tenaga kesehatan dari berbagai institusi.
Wisudawan
Salah satu wisudawan SALSA, Usman Amirudin, mengaku merasakan dampak positif setelah mengikuti program tersebut.
“Dari segi mental, kami merasa seolah-olah kembali ke masa muda. Kami juga memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan sesama lansia, saling bertukar pengalaman, serta mendapat banyak pengetahuan yang berguna,” ungkapnya.
Ia menambahkan, program tersebut juga memberikan dampak positif terhadap kehidupan keluarga, khususnya dalam meningkatkan keharmonisan hubungan suami dan istri.
“Kami merasakan keharmonisan dalam keluarga menjadi lebih baik setelah mengikuti sekolah lansia ini, saya berharap untuk ” ujarnya.
Usman mengusulkan penambahan durasi pembelajaran serta penyediaan buku pegangan agar materi lebih mudah dipahami dan diingat oleh para lansia.
Adapun peserta SALSA merupakan warga berusia pralansia 45-59 tahun dan lansia berusia 60 tahun ke atas.
Ke depannya, PD Salimah Surakarta berencana memperluas penyelenggaraan sekolah lansia ke wilayah lain sesuai dengan kemampuan dan kapasitas organisasi.
