Radio Solopos, SOLO – Nasi Kebuli Den Ayu mengandalkan perpaduan rempah Nusantara dan cita rasa khas Timur Tengah dalam memperluas pasar kuliner di Kota Solo.
Owner Nasi Kebuli Den Ayu, Jono Suryanto dan R.A. Yuni Diponegoro, menceritakan tentang resep nasi kebuli yang mereka sajikan.
Resep tersebut berasal dari trah keluarga dan telah disesuaikan dengan selera masyarakat lokal.
Yuni mengatakan dirinya telah mengenal nasi kebuli sejak kecil.
Hal tersebut dikarenakan nasi kebuli merupakan salah satu kegemaran almarhum ayahnya.
Sehingga keluarganya memiliki kebiasaan makan nasi kebuli bahkan walau tidak sedang acara lebaran maupun tahun baru.
Pengalaman bahwa nasi kebuli bisa dimakan kapanpun, siapapun, dan dimanapun ini yang menginspirasinya membuka usaha.
Usaha Nasi Kebuli Den Ayu mulai mereka berdua rintis pada awal tahun 2025.
Resep keluarga tersebut kemudian dipelajari dan dikembangkan hingga menjadi produk usaha.
“Resepnya juga turun-temurun. Dari dulu saya sudah bisa masak seperti itu,” ujar Yuni dalam Talkshow Selasar UMKM Radio Solopos, Senin (3/8/2026).
Menurutnya, cita rasa nasi kebuli yang dirinya buat di awal cukup kuat atau strong secara rasa.
Namun kemudian disesuaikan agar dapat diterima berbagai kalangan.
Dengan dukungan mertuanya yang berupa orang asli Solo nasi kebuli tersebut disesuaikan dengan selera kalangan soloraya.
Penyesuaian tersebut dilakukan tanpa menghilangkan karakter rempah.
Hal tersebut sudah menjadi ciri khas nasi kebuli Den Ayu.
Ciri khas lain dari nasi kebuli Den Ayu adalah menyediakan kuah. Berbeda dengan nasi kebuli umumnya yang disajikan kering.
Jono mengatakan bahwa pihaknya berupaya untuk menjaga kualitas bahan baku.
Terutama dengan memilih untuk menggunakan daging kambing pilihan.
Daging yang digunakan selalu diusahakan sedikit kandungan lemaknya dan tidak menggunakan jeroan.
“Jeroan pun kita tidak pakai, daging saja. Dan itu daging yang pilihan,” kata Jono.
Harga Ramah
Nasi Kebuli Den Ayu juga mempertahankan harga yang relatif terjangkau.
Hal tersebut sesuai dengan keinginan mereka supaya produknya dapat dinikmati semua kalangan.
Juga sesuai dengan keinginan awal mereka bahwa makan nasi kebuli bisa dilakukan kapanpun, siapapun, dan dimanapun.
Yuni mengatakan dirinya tidak hanya mengejar keuntungan.
Akan tetapi juga memperkenalkan nasi kebuli kepada masyarakat luas.
Saat ini, menu nasi kebuli dengan ayam dan beras lokal dijual mulai Rp16.000.
Sementara nasi kebuli kambing dengan beras lokal mulai Rp23.000.
Untuk varian nasi kebuli basmati, harga dimulai sekitar Rp20.000 untuk ayam dan Rp27.000 untuk kambing.
Menurut Jono, penggunaan beras lokal juga menjadi salah satu upaya menyesuaikan produk dengan selera konsumen yang belum terbiasa dengan nasi kebuli.
Selain nasi dan lauk, setiap porsi dilengkapi acar, sambal, serta bawang goreng.
Konsumen juga dapat menambahkan emping sebagai pelengkap.
Awal Modal Terbatas
Sebelum fokus pada nasi kebuli, usaha tersebut awalnya bernama Wedangan Den Ayu yang dibuka di kawasan Popongan, Karanganyar.
Yuni mengaku memulai usaha nasi kebuli dengan modal terbatas.
Dan menjadi wujud asli dari kalimat ‘the power of kepepet‘.
Bahkan, sejumlah peralatan seperti meja dan perlengkapan usaha pada waktu awal masih meminjam dari keluarga dan lingkungan sekitar.
Modal awal untuk berjualan nasi kebuli disebut hanya sekitar Rp100.000.
Pada awal usaha, mereka masih belum menyediakan menu kambing.
Sehingga masih mengandalkan menu ayam dan telur.
Setelah memperoleh masukan dari pelanggan, Yuni kemudian mulai menghadirkan menu kambing.
Menu kambing tersebut akhirnya kini menjadi salah satu produk yang paling banyak diminati.
Jono mengatakan keberanian untuk memulai dan terus belajar menjadi salah satu faktor yang membantu usaha tersebut berkembang.
“Pertama, keberanian. Tanpa keberanian kita tidak akan eksekusi itu. Sebanyak apapun, sebagus apapun ide-ide, yang ada dalam pikiran kita itu, tanpa keberanian untuk melangkah tidak akan wujud,” ujarnya.
Setelah berkembang di Karanganyar, Nasi Kebuli Den Ayu mulai melakukan ekspansi ke wilayah Solo.
Mereka mulai membuka usaha di sekitar belakang UNS dan mengikuti berbagai kegiatan kuliner.
Usaha tersebut juga pernah mengikuti kegiatan Mangkunegaran Night Market setelah melalui proses kurasi dari Grab.
Menurut Jono, pengembangan usaha dilakukan dengan terus menjaga kualitas.
Selain itu mereka juga terus berinovasi, mengikuti pelatihan, dan meminta masukan dari pelaku usaha yang lebih berpengalaman.
Mereka meyakini bahwa pelaku UMKM tidak boleh berhenti belajar apabila ingin bisnisnya berkembang.
Selain nasi kebuli, Nasi Kebuli Den Ayu juga berniat untuk dalam mengembangkan menu lain.
Menu yang baru ditambahkan seperti sate buntel.
Sate buntel tersebut dipadukan dengan nasi kebuli mereka dan mendapatkan respon yang bagus.
Produk nasi kebuli Den Ayu juga dapat dipesan dalam bentuk nampan untuk berbagai kebutuhan acara.
Bahkan mereka menerima pesanan makanan lain seperti misal nasi tumpeng untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Jono berharap Nasi Kebuli Den Ayu dapat terus berkembang.
Dengan terus mempertahankan kualitas dan harga yang dapat dijangkau oleh seluruh elemen masyarakat.
