Radio Solopos, SOLO — Pelaku usaha fashion dituntut terus berinovasi untuk bertahan di tengah persaingan yang semakin ketat.
Hal itu dilakukan UMKM fashion asal Solo, By Muza, yang mengembangkan batik kontemporer dengan konsep desain eksklusif guna menyasar pasar premium.
Owner By Muza, Zulfa Fitriana, mengatakan usaha yang dirintis sejak 2019 tersebut berawal dari layanan made by order sebelum berkembang menjadi produsen busana muslim dan batik kontemporer dengan karakter desain yang berbeda dari produk massal.
Menurutnya, pasar premium memiliki kebutuhan tersendiri, yakni produk yang tidak pasaran dan memiliki nilai eksklusivitas lebih tinggi dibandingkan produk yang diproduksi dalam jumlah besar.
“Banyak pelanggan yang ingin tampil berbeda. Mereka mencari produk yang tidak mudah ditemukan di pasaran sehingga desain eksklusif menjadi salah satu nilai yang kami tawarkan,” ujarnya dalam Talkshow Selasar UMKM di Radio Solopos, Kamis (11/6/2026).
Untuk menjaga eksklusivitas tersebut, By Muza membatasi jumlah produksi setiap desain.
Produk yang dipasarkan melalui butik mitra hanya diproduksi dalam jumlah terbatas dengan ukuran tertentu sehingga tidak banyak digunakan oleh konsumen lain.
Selain menjual produk siap pakai, By Muza juga tetap melayani pesanan khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan, mulai dari pemilihan bahan, desain, hingga ukuran pakaian.
Ikuti Tren
Dalam mengembangkan produknya, Zulfa aktif mengikuti perkembangan tren fashion dari berbagai sumber. Ia mencari referensi melalui media sosial, platform digital, pusat perbelanjaan, hingga berbagai ajang peragaan busana.
Menurut dia, tren busana muslim saat ini cenderung mengarah pada desain yang sederhana, nyaman digunakan, tetapi tetap memiliki sentuhan elegan sehingga cocok dipakai dalam berbagai kesempatan.
Kondisi tersebut mendorong By Muza menghadirkan produk yang memadukan unsur tradisional dan modern.
Salah satu yang menjadi fokus pengembangan adalah batik kontemporer yang menawarkan kombinasi warna dan desain lebih beragam dibandingkan batik konvensional.
“Generasi muda cenderung menyukai desain yang lebih segar dan fleksibel. Karena itu, batik perlu dikemas dengan pendekatan yang lebih modern agar tetap relevan dengan perkembangan zaman,” katanya.
Selain batik kontemporer, By Muza juga mengembangkan berbagai kreasi berbahan lurik serta perpaduan batik dengan material lain untuk menghasilkan tampilan yang lebih modern dan sesuai kebutuhan pasar.
Perluas Pasar
Strategi tersebut berhasil memperluas jangkauan pasar By Muza hingga berbagai daerah di luar Solo. Produk-produknya telah dikirim ke sejumlah kota di luar Pulau Jawa, termasuk Kalimantan dan Tangerang.
Media sosial menjadi salah satu sarana utama dalam memperluas pasar. Melalui platform digital, pelanggan dari berbagai daerah dapat melihat koleksi produk sekaligus melakukan pemesanan secara langsung.
Untuk menjaga keberlanjutan usaha, Zulfa rutin membuat desain baru setiap pekan. Ia juga memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai salah satu sumber inspirasi dalam pengembangan desain.
Menurutnya, inovasi menjadi kunci penting bagi pelaku UMKM fashion untuk bertahan sekaligus meningkatkan daya saing di tengah perubahan tren yang berlangsung cepat.
Zulfa berharap batik kontemporer dapat semakin diterima masyarakat, khususnya generasi muda, sehingga tidak hanya menjadi produk budaya, tetapi juga bagian dari gaya hidup modern yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
