Radio Solopos, SOLO — Sosis solo selama ini identik sebagai kudapan yang mudah ditemui di warung makan, wedangan, maupun penjual jajanan tradisional.
Namun di tangan Ridho Taqobalallah, makanan khas Kota Solo tersebut berhasil dikembangkan menjadi produk oleh-oleh yang mampu menjangkau pasar lebih luas.
Melalui usaha Sosis Solo Gajahan, Ridho mengubah konsep penjualan sosis solo yang sebelumnya hanya dititipkan di warung-warung menjadi produk oleh-oleh dengan kemasan yang lebih menarik dan pilihan varian yang lebih beragam.
Owner Sosis Solo Gajahan, Ridho Taqobalallah, mengatakan usaha tersebut berawal dari resep milik almarhum ibunya yang sejak lama berjualan sosis solo secara sederhana tanpa merek maupun kemasan khusus.
“Dulu ibu saya berjualan sosis solo yang dititipkan di warung-warung. Saya melihat sosis solo merupakan makanan khas Solo yang banyak ditemui di berbagai tempat, tetapi belum banyak yang dikemas sebagai oleh-oleh. Dari situ saya mulai mengubah konsepnya,” ujarnya dalam Talkshow Selasar UMKM di Radio Solopos, Senin (8/6/2026).
Menurut dia, ide tersebut muncul setelah melihat kebutuhan wisatawan maupun pelanggan yang ingin membeli sosis solo dalam jumlah banyak untuk dibawa pulang sebagai buah tangan.
Respons pasar yang positif membuat usaha tersebut terus berkembang sejak mulai dirintis pada 2018. Tidak hanya memperbaiki kemasan, Ridho juga terus melakukan inovasi produk berdasarkan masukan pelanggan.
Kembangkan Varian
Pada awal usaha, Sosis Solo Gajahan hanya memiliki satu produk, yakni sosis solo kukus isi ayam. Namun seiring meningkatnya permintaan pasar, berbagai varian baru mulai dikembangkan.
Pelanggan yang menginginkan sosis solo goreng mendorong lahirnya varian goreng. Begitu pula ketika banyak pelanggan meminta produk yang lebih tahan lama, Sosis Solo Gajahan kemudian menghadirkan produk beku (frozen food).
“Awalnya hanya satu menu. Kemudian banyak pelanggan bertanya apakah ada versi goreng dan frozen. Kami tampung masukan itu dan akhirnya menjadi produk baru,” katanya.
Saat ini Sosis Solo Gajahan memiliki 10 varian produk yang terdiri atas sosis solo kukus ayam, sosis solo goreng ayam, sosis solo kukus sapi, sosis solo goreng sapi, produk frozen dari ayam dan sapi, galantin, hingga sup matahari.
Menurut Ridho, inovasi menjadi faktor penting agar produk tetap diminati di tengah persaingan bisnis kuliner yang semakin ketat.
Ia mengaku lebih memilih fokus mengembangkan produk dibandingkan memikirkan kompetitor.
“Kalau terlalu fokus memikirkan pesaing, energi dan waktu akan habis di situ. Lebih baik fokus berinovasi supaya produk semakin dikenal dan dicintai masyarakat,” ujarnya.
Meski harga bahan baku seperti telur dan daging kerap mengalami kenaikan, Ridho berusaha mempertahankan kualitas produk tanpa membebani pelanggan dengan kenaikan harga yang terlalu sering.
Saat ini Sosis Solo Gajahan dipasarkan melalui empat outlet, yakni di depan Soto Gading, samping Serabi Notosuman, Rest Area 456 Salatiga arah Semarang, serta Jalan Kahuripan, Sumber, Solo.

Tembus Mancanegara
Perkembangan usaha tersebut turut memperluas jangkauan pasar Sosis Solo Gajahan. Produk yang awalnya hanya dijual di Solo kini telah dibawa pelanggan ke berbagai daerah bahkan sejumlah negara.
Ridho menyebut sosis solo produksinya pernah dibawa ke Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman, hingga China oleh pelanggan maupun relasi yang bepergian ke luar negeri.
Menurut dia, hal tersebut menunjukkan bahwa makanan khas Solo memiliki peluang untuk diterima pasar yang lebih luas apabila dikemas dan dipasarkan dengan baik.
Ke depan, Sosis Solo Gajahan berencana mengembangkan teknologi pengemasan agar produknya dapat dikirim ke luar Jawa maupun luar negeri dengan daya simpan yang lebih panjang.
Salah satu inovasi yang tengah dijajaki adalah pengembangan produk sosis solo dalam kemasan kaleng melalui kerja sama dengan perguruan tinggi.
“Kami sedang berdiskusi dengan pihak kampus terkait teknologi pangan agar nantinya produk ini bisa dikalengkan sehingga lebih mudah dikirim ke luar Jawa maupun luar negeri,” katanya.
Saat ini varian frozen Sosis Solo Gajahan mampu bertahan hingga tiga bulan dalam freezer sehingga menjadi salah satu alternatif oleh-oleh bagi pelanggan dari luar kota.
Dalam kondisi normal, usaha tersebut memproduksi sekitar 2.000 buah sosis solo per hari. Jumlah produksi dapat meningkat hingga dua atau tiga kali lipat saat musim liburan maupun Lebaran.
Bahkan pada periode puncak permintaan, produksi pernah mencapai 5.000 hingga 6.000 buah dalam sehari.
Ridho menuturkan keberhasilan mengembangkan Sosis Solo Gajahan tidak lepas dari keberanian mengambil keputusan untuk fokus berwirausaha.
Berbekal resep keluarga dan inovasi yang terus dilakukan, ia berharap sosis solo semakin dikenal sebagai salah satu ikon kuliner sekaligus oleh-oleh khas Kota Solo.
