Radio Solopos, KARANGANYAR – Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto, kembali menggelar pertunjukan wayang kulit di kediamannya, Desa Suruh, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar.
Pada pagelaran kali ini, Ki Darmadi dari Paguyuban Dalang Karanganyar tampil membawakan lakon Songsong Tunggul Naga.
Sumanto menegaskan bahwa kegiatan yang rutin ia adakan ini merupakan komitmen nyata untuk merawat dan melestarikan (nguri-uri) budaya Jawa.
Selain menyajikan hiburan bagi warga, acara ini menjadi ruang berkarya sekaligus wadah silaturahmi bagi para dalang dan seniman lokal.
“Wayang ini bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan. Dalam setiap lakon ada cerita, filosofi, dan pesan moral yang bisa kita ambil untuk kehidupan sehari-hari,” ujar Sumanto.
Ia menekankan pentingnya memperkenalkan wayang kepada generasi muda agar kesenian tradisional ini tidak kehilangan penerus.
Pesan Moral Lakon Songsong Tunggul Naga
Dalam aksinya, Ki Darmadi membawakan lakon Songsong Tunggul Naga yang berkisah tentang perebutan pusaka kahyangan.
Pusaka tersebut melambangkan kekuasaan, kewajiban, serta sifat kepemimpinan yang bertugas melindungi rakyat.
Melalui laku spiritual dan perjuangan para ksatria, keseimbangan moral yang sempat kacau akhirnya dapat dipulihkan kembali.
Ki Darmadi menjelaskan bahwa jalan cerita ini memuat pesan mendalam bagi penonton tentang cara bersikap, mengambil keputusan, serta memegang teguh prinsip hidup.
Apresiasi juga datang dari Sekretaris Desa Suruh, Aan Andrianto.
Ia mengajak masyarakat untuk memetik pelajaran dari karakter pewayangan, seperti meneladani sifat positif Arjuna, Werkudara, dan Kresna, serta menjauhi watak buruk seperti Sengkuni.
Bapak Wayang Karanganyar
Konsistensi Sumanto dalam merawat seni pedalangan mendapat apresiasi tinggi dari para seniman.
Ki Waluyo Noto Carito dari Paguyuban Dalang Karanganyar mengungkapkan bahwa Sumanto tercatat telah 34 kali menanggap wayang kulit dengan merangkul para dalang lokal.
Atas kontribusinya, para seniman mendaulat Sumanto sebagai “Bapaknya Wayang Kabupaten Karanganyar”.
Rekor pertunjukan maraton juga pernah digelar di kediamannya, seperti pentas wayang 36 jam nonstop dua tahun lalu dan 28 jam nonstop dalam rangka Hari Wayang Nasional tahun lalu.
Ki Waluyo menambahkan, setiap kali pagelaran diadakan, para dalang se-Kabupaten Karanganyar turut berkumpul dan terlibat langsung, termasuk menjadi penabuh gamelan.
Kebersamaan ini menjadikan ajang tersebut sebagai rumah seni bersama untuk menjaga keberlanjutan tradisi pewayangan di Karanganyar. (NA)
