Radio Solopos – Agus Dwiyanto tampak bersimbah peluh di atas panggung dengan tubuh yang meliuk mengikuti irama musik. Dalam Gelaran International Mask Festival (IMF) 2025, malam itu, Jumat (14/11/2025), ekspesi wajah Agus tertutup topeng abstrak berwarna putih tanpa ekspresi. Namun lompatan tubuh, putaran kaki dan gerakannya membawa imaji penonton akan sosok yang sedang bergolak penuh pemberontakan dalam mencari jati diri.
Malam itu, pemuda 23 tahun ini membawakan tarian topeng berjudul Luruh Wimbo dari Komunitas Among Roso, Semarang. Tariannya bercerita tentang proses pencarian jati diri sang tokoh hingga mencapai suatu kondisi penerimaan atau luruh.
Penonton akan mengetahui momen saat sang tokoh sudah menemukan jati dirinya. Gerakan yang sebelumnya penuh hentakan dan gejolak, pelahan mereda menjadi gerakan halus dan mengalir seolah sang tokoh sudah berdamai dengan hidupnya.
Perpaduan gerakan dan musik yang selaras membuat penonton terhanyut dalam alunan cerita yang tak terucapkan lisan maupun tak terekspresikan wajah. Kedua penari di atas panggung bergerak selaras menemukan kedamaian masing-masing. Hal yang tak mudah tentunya, seperti yang diakui Agus.
Menurut Agus, menari topeng menjadi tantangan tersendiri karena karakter tidak bisa dihidupkan melalui ekspresi wajah.
“Topeng harus bergerak untuk menampilkan karakternya, disertai gerakan badan dan juga kostum pendukung. Ada musik hingga pencahayaan Prosesnya tentu tidak singkat, harus melalui latihan yang rutin dan disiplin,” ungkap pemuda yang mengaku sudah mulai menari sejak kelas 4 SD ini. Butuh dua minggu latihan intensif agar dia dapat menjiwai karakternya dalam tarian topeng berjudul Luruh Wimbo tersebut.
Sementara itu, Naomi Sisilia Anjani mengaku latihan khusus selama satu bulan sebelum datang ke Kota Surakarta untuk tampil di IMF 2025. Bagi siswi kelas 7 SMP ini, menari bukanlah hal yang mudah, namun melalui latihan rutin, dirinya kini sudah terbiasa.
“Papa orang Jawa tapi aku lahir di Bekasi. Orangtua mendukungku untuk menari karena bisa bikin pede (percaya diri) dan agar aku punya talenta. Latihan rutin untuk membawakan tari topeng ini agar hafal gerakan sesuai dengan tokohnya,” ungkap Naomi jelang tampil.
Menurutnya, tokoh yang dia perankan tidaklah mudah, yaitu Topeng Patih dan Greget Pincuk. Apalagi kala dia harus memakai topeng. Melalui latihan yang intens, tokoh dengan karakter gagah dan lincah ini dapat dia ekspresikan dengan baik melalui gerakan-gerakan yang dinamis.
“Tokoh yang kumainkan malam ini laki-laki, jadi menarinya harus gagah dan lincah,” ungkap gadis 12 tahun ini.
Latihan dan disiplin mendobrak batas gender
Sebuah topeng, benda mati yang diam namun harus ditarik sesuai karakternya, menjadi tantangan tersendiri bagi penarinya. Heri Suprayitno, pelatih tari dari Diklat Tari Anjungan Jawa Timur di bawah Binaan Badan Penghubung Propinsi Jawa Timur memaparkan hal tersebut.
Ditemui disela mendampingi anak asuhannya tampil di gelaran International Mask Festival (IMF) 2025, Jumat (14/11/2025), Hari menjelaskan bahwa tarian topeng itu unik dan mensyaratkan konsentrasi tinggi.
“Justru disini permainan yang unik saat menggunakan topeng. Bukan ekspresi wajah yang harus terlihat tapi bagaimana menghidupkan topeng yang diam menjadi hidup. Kunci utamanya harus konsentrasi. Karena penari topeng jika tak hafal gerakan, akan sangat terlihat dari tolehan kepalanya kala dia melirik penari lainnya,” ungkap pelatih dan juga pencipta tari ini.
Ia selalu mendorong para penari topeng didikannya untuk memakai topeng saat latihan, agar terbiasa dan menyatu dengan karakter topeng tersebut.
” Menari dengan hati proses yang cukup lama, Jadi tidak cukup hanya dengan hafal gerakannya, tapi juga teknik kemudian olah rasa. Tantangannya adalah konsentrasi. Topeng itu ada lubangnya kecil tapi karena sudah terbiasa dan hafal gerakan pasti bukan jadi penghalang,” jelasnya lebih lanjut,
Menurut Heri tari topeng juga tidak terbatas gender. Karakter laki-laki bisa dibawakan penari perempuan, pun sebaliknya.
“Karena yang terpenting adalah bagaimana sosok itu ditampilkan sesuai keinginan, bukan gender asli penarinya karena mereka (penari) tertutup topeng dan kostum. Misalnya Tari Remo dari Jawa Timur itu karakternya laki-laki, tapi penarinya perempuan. Ya mereka harus menari dengan gagah!” pungkas Heri.
Diklat Tari Anjungan Jawa Timur di bawah Binaan Badan Penghubung Propinsi Jawa Timur terletak di kompleks Taman Mini Indonesia Indah. Anjungan tersebut juga menjadi lokasi utama Heri melatih tari.
Dengan eksistensi 175 penari dari wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, dan Bekasi), pada gelaran IMF 2025, Heri membawa 9 penari ke Kota Solo. Mereka membawakan tarian Topeng Patih dan Greget Pincuk karyanya.
International Mask Festival (IMF) 2025 digelar di Pendapi Gede Balaikota Surakarta, dan dibuka secara resmi oleh Walikota Surakarta, Respati Ardi pada Jumat (14/11/2025). Mengusung tema “Awesome Mask” atau topeng yang luar biasa, festival ini diselenggarakan hingga 15 November 2025, mulai pukul 19.00–23.00 WIB. Puluhan delegasi dari dalam dan luar negeri tampil dalam gelaran ini untuk menampilkan berbagai tarian topeng.



