Radio Solopos, SOLO — Pelaku usaha jasa properti di Boyolali mulai mengoptimalkan pemasaran digital untuk menjangkau konsumen lebih luas.
Strategi ini terbukti efektif dalam menarik minat pembeli, bahkan hingga menghasilkan transaksi tanpa harus bertatap muka di awal proses.
Owner BP Property, Bayu Pratitis, mengungkapkan dirinya mulai mengembangkan pemasaran berbasis online sejak 2025, meski usaha jual beli tanah telah dirintis sejak 2020.
Menurutnya, perubahan pola pemasaran tersebut dilatarbelakangi kebutuhan calon pembeli yang ingin memperoleh gambaran awal kondisi properti secara praktis.
Melalui konten video, ia menampilkan detail lokasi, batas tanah, hingga kontur lahan agar calon konsumen dapat melakukan seleksi awal.
“Calon pembeli sekarang cukup lihat video dulu. Kalau cocok, baru lanjut survei langsung ke lokasi,” kata Bayu dalam Talkshow Selasar UMKM di Radio Solopos, Rabu (18/3/2026).
Dalam praktiknya, Bayu memanfaatkan berbagai platform media sosial seperti TikTok, YouTube, Facebook, dan Instagram.
Dari seluruh kanal tersebut, TikTok menjadi media paling efektif dalam menjangkau pasar, bahkan telah menghasilkan penjualan dari konten yang diunggah.
Aspek Legalitas
Di tengah maraknya kasus sengketa lahan, Bayu menekankan pentingnya aspek legalitas dalam setiap transaksi.
Ia memastikan seluruh data properti diverifikasi secara menyeluruh, mulai dari sertifikat, luas lahan, hingga status kepemilikan.
Khusus untuk lahan warisan, ia menegaskan seluruh ahli waris harus menyetujui transaksi guna menghindari konflik di kemudian hari.
Selain itu, proses validasi juga melibatkan notaris serta koordinasi dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN).
“Legalitas tidak bisa ditawar. Semua harus jelas sebelum ditawarkan ke konsumen,” ujarnya.
Dari sisi harga, ia menyebutkan nilai tanah di Kota Solo saat ini telah melampaui Rp2 juta per meter persegi.
Sementara itu, harga tanah di Boyolali masih lebih kompetitif, berkisar Rp300.000 hingga Rp2 juta per meter tergantung lokasi.
Kondisi tersebut menjadikan Boyolali sebagai alternatif hunian bagi masyarakat yang menginginkan harga lebih terjangkau dengan lingkungan yang lebih tenang.
Bayu pun mulai membidik wilayah Boyolali Barat sebagai potensi pasar baru.
Ia menilai tren gaya hidup slow living turut mendorong minat masyarakat terhadap kawasan pinggiran yang menawarkan suasana lebih nyaman.
Melalui kombinasi strategi digital dan penekanan pada legalitas, pelaku UMKM properti dinilai mampu meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus memperkuat daya saing di era pemasaran berbasis teknologi.
