Radio Solopos, SOLO — Usaha kuliner khas Palembang, Pempek Cek Neni, terus mempertahankan cita rasa autentik melalui penggunaan bahan baku pilihan yang didatangkan langsung dari Palembang.
Strategi tersebut menjadi salah satu kunci usaha yang dirintis sejak 2019 itu mampu berkembang hingga memiliki outlet sendiri di Kartasura, Sukoharjo.
Owner Pempek Cek Neni, Serni Saputri, mengatakan usaha tersebut berawal dari hobinya memasak sejak masih tinggal di Palembang. Ketertarikannya membuat pempek mendorong dirinya mengikuti kursus khusus pembuatan pempek pada 2009.
“Awalnya saya ikut kursus pempek di Palembang hanya untuk konsumsi keluarga. Tidak menyangka akhirnya keterampilan itu justru menjadi usaha yang berkembang sampai sekarang,” ujar Serni dalam Talkshow Selasar UMKM di Radio Solopos, Rabu (6/5/2026).
Perempuan asli Palembang tersebut kemudian menetap di Solo setelah menikah dengan orang Jawa. Ia mulai merintis usaha secara online melalui layanan pesan antar seperti GoFood, GrabFood, dan ShopeeFood sebelum akhirnya membuka outlet.
Menurutnya, kualitas bahan menjadi perhatian utama dalam menjaga rasa autentik pempek khas Palembang. Pempek Cek Neni menggunakan ikan tenggiri segar pilihan yang digiling sendiri agar kualitas dan rasa tetap terjaga.
“Kalau ikannya tidak segar pasti berpengaruh ke rasa. Jadi kami benar-benar pilih kualitas terbaik,” katanya.
Selain ikan tenggiri, bahan utama lain seperti gula batok untuk cuko juga didatangkan langsung dari Palembang. Serni menyebut penggunaan gula lokal sempat dicoba, tetapi menghasilkan rasa dan tekstur yang berbeda dibanding gula khas Palembang.
“Cuko pempek itu sangat dipengaruhi kualitas gula batoknya. Kami ambil langsung dari daerah Curup supaya rasa dan warnanya tetap khas,” ujarnya.
Tidak hanya menjual pempek, outlet tersebut juga menyediakan berbagai makanan khas Palembang lain seperti tekwan, model, lenggang goreng, martabak har, hingga rujak mi. Untuk varian pempek, tersedia beberapa jenis seperti lenjer, kapal selam, adaan, dan pempek kulit.
Serni mengaku sejak awal sengaja membangun citra produk premium dengan menyasar segmen pasar menengah ke atas. Strategi tersebut dilakukan dengan mempertahankan kualitas bahan sekaligus memperluas relasi pelanggan. Menurut dia, salah satu pengalaman penting selama menjalankan usaha adalah memahami karakter pasar sebelum mengikuti bazar atau membuka stan penjualan.
“Kita harus tahu target pasar. Pernah ikut bazar yang ternyata tidak sesuai segmennya sehingga penjualannya kurang maksimal. Dari situ saya belajar memilih pasar yang cocok dengan produk premium,” katanya.
Seiring meningkatnya permintaan, proses produksi yang awalnya dilakukan manual kini mulai menggunakan mesin penggiling ikan untuk meningkatkan efisiensi.
Meski demikian, proses pengolahan tetap dilakukan sendiri agar kualitas produk tetap konsisten.
Selain melayani konsumsi langsung di outlet, Pempek Cek Neni juga menyediakan produk beku (frozen food) yang dapat dikirim ke berbagai daerah menggunakan kemasan vakum.
Produk tersebut disebut sudah pernah dikirim ke sejumlah kota di Indonesia hingga luar Pulau Jawa.
Saat ini, Pempek Cek Neni melayani pemesanan untuk kebutuhan pribadi maupun acara dalam jumlah besar seperti arisan, gathering, hingga acara instansi.
Harga produk dibanderol mulai Rp5.500 untuk pempek kecil hingga Rp25.000 untuk kapal selam besar.
Outlet Pempek Cek Neni berada di kawasan Kartasura, dekat Rumah Sakit Karima Utama, dan dapat dipesan melalui layanan online maupun WhatsApp.
Dengan mempertahankan kualitas bahan baku dan cita rasa autentik khas Palembang, Pempek Cek Neni membuktikan usaha kuliner tradisional tetap memiliki peluang berkembang di tengah persaingan pasar makanan modern.
