Radio Solopos, SOLO — Usaha rumahan Kroket Solo Sinten milik Anik Marliana berkembang menjadi salah satu UMKM kuliner khas Solo yang mampu meraih omzet rata-rata Rp15 juta per bulan.
Berbekal resep warisan keluarga dan strategi penjualan frozen saat pandemi Covid-19, usaha yang dirintis sejak 2018 itu kini melayani pelanggan dari berbagai daerah hingga memasok hotel dan kafe.
Anik menceritakan usaha tersebut berawal dari pesanan snack box yang ia kerjakan secara made by order bersama sejumlah pelaku UMKM lain.
Saat mendapat pesanan acara 17 Agustus, ia memberikan bonus kroket kepada pelanggan.
“Besoknya pelanggan bilang kroketnya enak dan menyarankan saya jualan online. Dari situ saya mulai belajar jualan online,” kata Anik dalam talkshow Selasar UMKM Radio Solopos, Kamis (7/5/2026).
Ia kemudian mulai fokus menjual kroket dengan nama Kroket Solo Sinten. Nama “Sinten” dipilih karena memiliki nuansa khas Jawa sekaligus memancing rasa penasaran pelanggan.
Berbeda dengan kebanyakan kroket di Solo yang menggunakan banyak campuran tepung, Kroket Solo Sinten memakai kentang sebagai bahan utama hingga sekitar 95 persen adonan.
Menurut Anik, penggunaan kentang membuat tekstur kroket tetap lembut meski sudah dingin.
“Kalau kroket kentang saat dingin tetap empuk dan gurih,” ujarnya.
Resep tersebut merupakan warisan sang ibu yang sejak dulu juga memproduksi aneka makanan ringan rumahan. Cita rasa khas Solo yang cenderung manis tetap dipertahankan dalam setiap produk.
Saat pandemi Covid-19, usaha Kroket Solo Sinten sempat terdampak akibat banyak acara dibatalkan. Omzet penjualan bahkan turun hingga sekitar 50 persen.
Namun, kondisi itu justru mendorong Anik mengembangkan produk kroket beku atau frozen food.
“Pelanggan meminta yang frozen untuk stok di rumah. Dari situ penjualan frozen berkembang,” katanya.
Penjualan melalui layanan ojek online membantu usahanya tetap berjalan. Dari yang awalnya hanya memproduksi sekitar 35 pcs per hari, kini Kroket Solo Sinten mampu menyiapkan stok hingga sekitar 4.000 pcs dengan dukungan tiga freezer.
Anik mengatakan pesanan terbesar yang pernah diterima mencapai 800 pcs untuk acara pernikahan di Klaten.
Saat ini Kroket Solo Sinten memiliki tiga varian utama, yakni kroket ayam, kroket sayur, dan bitterballen sapi dengan isian keju mozzarella. Seluruh produk dijual dengan harga Rp5.000 per pcs.
Menurut Anik, varian kroket ayam masih menjadi produk paling diminati pelanggan. Sementara bitterballen banyak dipesan hotel dan kafe.
Selain menjual produk siap santap, Kroket Solo Sinten juga menyediakan produk frozen dengan masa simpan hingga dua bulan dalam freezer.
Usaha yang berlokasi di Kelurahan Ketelan, Banjarsari, Solo, itu juga telah mengantongi Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikasi halal.
Anik mengaku terus berupaya memperluas pasar Kroket Solo Sinten sebagai salah satu oleh-oleh khas Solo. Permintaan pelanggan dari luar kota pun terus meningkat, terutama saat musim libur panjang.
“Target saya sederhana, makanan khas Solo ini bisa dikenal lebih luas di Indonesia,” katanya.
Informasi lebih lanjut melalui nomor WhatsApp 081329707188
