Radio Solopos, SOLO — Bagi generasi muda, teknologi bukan lagi sesuatu yang datang dari masa depan. Teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari bangun tidur dengan notifikasi ponsel, belajar dan bekerja secara daring, berjualan melalui media sosial, hingga menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk membantu berbagai aktivitas.
Perubahan tersebut berlangsung sangat cepat. DataReportal mencatat terdapat sekitar 230 juta pengguna internet di Indonesia pada akhir 2025, dengan tingkat penetrasi mencapai 80,5% dari total populasi. Pada periode yang sama, terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial, setara 62,9% populasi Indonesia.
Angka tersebut menunjukkan betapa kuatnya posisi ruang digital dalam kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk generasi muda.
Dari Pengguna Menjadi Pencipta
Bagi anak muda, perkembangan teknologi membuka ruang yang jauh lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya.
Media sosial, misalnya, tidak lagi hanya digunakan untuk membagikan foto atau video. Platform digital dapat menjadi ruang membangun personal branding, memasarkan produk, menawarkan jasa, hingga menciptakan sumber pendapatan.
Seorang anak muda yang memiliki kemampuan membuat video dapat menjadi content creator. Mereka yang menguasai desain dapat menawarkan jasa secara daring. Sementara anak muda yang memiliki kemampuan pemrograman dapat mengembangkan aplikasi maupun layanan digital.
Perubahan tersebut juga terjadi di Solo.
Pemerintah Kota Surakarta pernah menggelar program GenMatic atau Generasi Melek Teknologi bersama Kementerian Ekonomi Kreatif, Shopee, dan Universitas Sebelas Maret. Program tersebut diarahkan untuk membekali generasi muda dengan kemampuan kewirausahaan digital, pemanfaatan teknologi untuk UMKM, dan pembuatan konten kreatif.
Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani saat itu menekankan pentingnya kemampuan adaptasi generasi muda terhadap perkembangan teknologi.
“Anak-anak muda inilah yang akan membawa arah bangsa ke depan,” kata Astrid dalam kegiatan GenMatic di UNS, Juni 2025.
Menurut dia, anak muda perlu dibekali kemampuan beradaptasi agar mampu bersaing di dunia kerja sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan baru.
Internet Makin Luas, Kemampuan Digital Jadi Kunci
Besarnya jumlah pengguna internet juga memperlihatkan bahwa transformasi digital bukan lagi fenomena yang terbatas di kota-kota besar.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 72,78% penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024, meningkat dibandingkan 69,21% pada 2023.
Sementara itu, BPS juga terus memasukkan perkembangan teknologi dan kemampuan digital sebagai bagian penting dalam melihat kondisi generasi muda Indonesia. Publikasi Statistik Pemuda Indonesia mencakup berbagai aspek kehidupan pemuda, termasuk pendidikan, ketenagakerjaan, kondisi sosial ekonomi, serta perkembangan kepemudaan.
Artinya, tantangan generasi muda kini bukan semata-mata bagaimana mendapatkan akses internet. Persoalan berikutnya adalah bagaimana akses tersebut digunakan untuk meningkatkan kemampuan dan produktivitas.
Ketika AI Masuk ke Kehidupan Anak Muda
Perubahan semakin cepat setelah teknologi AI generatif menjadi semakin mudah diakses.
Anak muda kini dapat menggunakan AI untuk mencari ide, merangkum materi, menerjemahkan teks, membantu membuat desain, menganalisis data, hingga mendukung pekerjaan.
Namun, kemudahan itu juga memunculkan pertanyaan baru: apakah AI membuat manusia semakin produktif atau justru semakin bergantung?
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menilai literasi digital menjadi salah satu kunci menghadapi perkembangan teknologi, khususnya AI.
Dalam sebuah kegiatan literasi digital, Menteri Komdigi saat itu, Meutya Hafid, menyebut Indonesia membutuhkan 9 juta talenta digital hingga 2030. Pemerintah mendorong agar Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga mampu menghasilkan teknologi dan talenta digital sendiri.
Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria juga mengingatkan pentingnya penggunaan AI secara etis.
“Penggunaan AI harus etis. Kuasailah AI, jangan sampai AI yang menguasai kita,” ujar Nezar.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi anak muda yang semakin sering bersentuhan dengan teknologi AI dalam aktivitas pendidikan maupun pekerjaan.
Ada Hoaks hingga Ancaman Keamanan Digital
Di balik peluang tersebut, ruang digital juga menyimpan sejumlah risiko.
Anak muda berhadapan dengan hoaks, penipuan daring, pencurian data pribadi, perundungan siber, konten manipulatif, hingga penyalahgunaan AI.
Komdigi pada 2026 menyoroti sejumlah risiko yang semakin kompleks di ruang digital, termasuk penyalahgunaan data pribadi dan konten manipulatif berbasis AI. Pemerintah menilai peningkatan kemampuan digital perlu berjalan bersama dengan penguatan etika dan keamanan di ruang siber.
Karena itu, menjadi “melek teknologi” tidak cukup hanya bisa menggunakan aplikasi.
Generasi muda juga perlu memahami cara memeriksa informasi, menjaga data pribadi, mengenali modus penipuan, memahami etika digital, serta mempertanyakan informasi yang dihasilkan teknologi.
Jangan Hanya Jadi Konsumen
Perkembangan teknologi pada akhirnya menghadirkan dua pilihan bagi generasi muda.
Pilihan pertama adalah menjadi konsumen yang terus mengikuti berbagai tren teknologi. Pilihan kedua adalah memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk menciptakan sesuatu.
Pilihan kedua menawarkan peluang yang jauh lebih besar.
Anak muda dapat menggunakan teknologi untuk membangun bisnis, menciptakan lapangan pekerjaan, menghasilkan karya, mengembangkan komunitas, maupun menyelesaikan persoalan sosial di sekitarnya.
Indeks Pembangunan TIK Indonesia 2024 yang dirilis BPS menunjukkan skor Indonesia mencapai 6,02 dari skala 0–10, meningkat dari 5,90 pada 2023. BPS menggunakan indeks tersebut untuk mengukur perkembangan TIK sekaligus melihat kesenjangan digital antarwilayah dan potensi pembangunan teknologi.
Perkembangan itu menjadi peluang sekaligus pekerjaan rumah.
Teknologi akan terus berubah. Platform yang populer hari ini bisa tergantikan beberapa tahun mendatang. Kemampuan yang dibutuhkan dunia kerja juga akan ikut berubah.
Karena itu, modal utama anak muda bukan sekadar menguasai satu aplikasi atau satu teknologi.
Kemampuan belajar, beradaptasi, berpikir kritis, berkreasi, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab justru menjadi bekal yang semakin penting.
Di tengah ledakan teknologi, masa depan bukan hanya milik mereka yang paling cepat mengikuti tren, tetapi juga mereka yang mampu mengubah teknologi menjadi solusi dan menciptakan nilai baru bagi masyarakat.














