Radio Solopos, SOLO — Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional, Radio Solopos menghadirkan program khusus bertajuk “Bincang Spesial Hari Guru” pada Selasa (25/11/2025).
Program yang mengudara pukul 14.00–15.00 WIB tersebut mengangkat tema “Menjadi Guru di Zaman Now” dan menghadirkan Siti Latifah, S.Pd., M.Pd., Kepala SMPN 9 Solo, sebagai narasumber utama.
Acara dipandu oleh penyiar Radio Solopos, Senja Kurnia.
Talkshow ini menjadi ruang dialog bagi dunia pendidikan untuk membahas peran guru yang terus berkembang di era digital.
Sejak awal acara, suasana perbincangan berlangsung hangat. Host membuka dengan ucapan selamat Hari Guru dan mengajak narasumber merefleksikan makna hari besar tersebut bagi pendidik.
Siti Latifah menyampaikan bahwa Hari Guru bukan sekadar seremonial, tetapi momentum untuk kembali menguatkan semangat belajar dan mengajar.
“Hari Guru adalah waktu bagi kita untuk kembali merefleksikan peran besar pendidik dalam membentuk karakter generasi masa depan. Tantangannya semakin kompleks, tetapi semangat guru tidak boleh padam,” ujarnya.
Siti Latifah mengungkapkan bahwa perubahan paling besar yang dialami guru masa kini adalah transformasi digital di ruang kelas. Siswa yang dikenal sebagai generasi digital native membutuhkan pendekatan belajar yang berbeda.
Menurutnya, guru perlu memiliki kompetensi literasi digital, keterampilan berpikir kreatif, kemampuan memanfaatkan teknologi, sekaligus ketajaman dalam menanamkan nilai dan karakter.
“Guru sekarang dituntut lebih dari sekadar mengajar. Mereka harus bisa memfasilitasi, membimbing, dan menjadi inspirasi. Kreativitas menjadi kunci agar pembelajaran tetap relevan bagi siswa,” jelasnya.
Ia juga menyinggung adanya kesenjangan kemampuan digital antara guru dan siswa. Namun, sekolah berupaya mengejar melalui program pelatihan, kolaborasi antarguru, serta integrasi teknologi yang dilakukan secara bertahap.
“Kami beberapa waktu lalu juga menggandeng tim pelatihan dari Radio Solopos untuk melatih guru-guru kami soal kecerdasan buatan (AI). Dengan AI, guru diharapkan bisa memanfaatkannya untuk membuat media kreatif seperti poster, video pendek, dan infografik untuk materi ajar,” kata dia.
Ia menambahkan bahwa inovasi tersebut berjalan karena adanya semangat guru yang ingin terus belajar dan dukungan lingkungan sekolah yang kolaboratif.

Siti Latifah mengakui bahwa AI menjadi fenomena baru yang tidak dapat dihindari. Guru perlu memahami cara memanfaatkan AI secara bijak, bukan sekadar mengikuti tren.
“AI bisa sangat membantu guru, mulai dari penyiapan materi ajar, visualisasi, hingga membuat pembelajaran lebih menarik. Tetapi penggunaannya tetap harus terkontrol agar tidak mengurangi proses berpikir kritis siswa,” katanya.
Ia menegaskan bahwa pendampingan guru merupakan kunci agar siswa dapat menggunakan teknologi secara positif dan bertanggung jawab, termasuk dalam menjaga etika dan keamanan digital.
Guru masa kini, lanjutnya, tidak hanya berurusan dengan akademik dan teknologi, tetapi juga persoalan karakter siswa. Dunia digital membawa dinamika baru—baik peluang maupun risiko bagi perkembangan remaja.
Karena itu, pendekatan pembentukan karakter harus kreatif, humanis, namun tetap tegas. Guru harus mampu membangun kedekatan emosional tanpa kehilangan wibawa.
Menutup talkshow, Siti Latifah memberikan pesan khusus bagi guru, terutama di Kota Solo. Ia mengajak seluruh pendidik untuk terus memperluas wawasan, meningkatkan kompetensi, dan tidak takut berubah.
“Menjadi guru zaman now berarti siap belajar sepanjang hayat. Mari bergerak bersama, saling menguatkan, dan terus berinovasi demi siswa dan masa depan pendidikan Indonesia.”
