• About Us
    • Copyright
    • Pedoman Media Siber
    • Privacy Policy
  • Accor Hotels Solo helat Appreciation Night
  • Besok, Choir Competition 2018 digelar
  • Contact Us
  • Crew
    • Abu Nadzib
    • Ardi Sardjono
    • Avrilia Wahyuana
    • Damar Sri Prakosa
    • Fira Maghfirani
    • Ika Wibowo
    • Indra Saputra
    • Iwan Buwono
    • Noer Atmaja
    • Rachmad Agunanto
    • Senja Kurnia
    • Suwarmin
    • Wahyu Panji
  • Index
  • Jadwal Acara
Radio Solopos FM
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us
No Result
View All Result
Radio Solopos FM
No Result
View All Result
Home Opini

Estafet Kiprah Ulama Nusantara Kelas Dunia

Rosnendya Yudha Wiguna

Abu Nadzib by Abu Nadzib
8 June 2026
in Opini
0
Estafet Kiprah Ulama Nusantara Kelas Dunia

Rosnendya Yudha Wiguna (Facebook)

Radio Solopos, SOLO — Pada tiap musim haji, terasa kembali relasi keakraban bangsa kita dengan tanah suci.

Sejarah mencatat bahwa bangsa kita rutin menyumbangkan jumlah jamaah haji yang relatif besar dari zaman ke zaman.

Namun tak hanya tentang haji, relasi keagamaan antara Nusantara dan Tanah Suci (Haramain-Makkah & Madinah) adalah juga tentang kiprah para ulama yang telah terjalin kuat sejak awal Islamisasi Asia Tenggara.

Masjidil Haram dan Masjid Nabawi tak hanya berfungsi sebagai pusat ibadah haji, ia juga berperan sebagai episentrum intelektual Islam dunia. Di tempat inilah terbentuk jejaring keilmuan yang kokoh.

Yang istimewa bagi bangsa kita, para ulama Nusantara (secara historis kerap disebut sebagai komunitas Ashhab al-Jawiyyin) tak sekadar datang menuntut ilmu.

Mereka berhasil menempati posisi terhormat sebagai guru besar, mufti, bahkan Imam di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Ini tentu mengkonfirmasi tingginya otoritas keilmuan mereka di mata dunia.

Azyumardi Azra, dalam bukunya yang melegenda berjudul “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII: Melacak Akar-akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia” (2004) memaparkan kiprah mendunianya ulama Nusantara mulai terdokumentasi secara masif pada abad ke-17.

Kehadiran para ulama generasi ini dipelopori oleh tokoh-tokoh besar seperti Syekh Abdur Rauf as-Singkili (Aceh) dan Syekh Muhammad Yusuf al-Maqassari (Makassar).

Mereka membangun intens hubungan intelektual dengan ulama-ulama ternama Timur Tengah. Hubungan ini selanjutnya menjadi embrio yang menyelaraskan ruh tasawuf dengan syariat, kemudian dibawa pulang untuk membentuk wajah Islam Nusantara yang damai dan moderat.

Lalu di abad ke-18, kiprah ulama Nusantara di Makkah semakin kokoh. Syekh Abdus Shamad al-Palimbani (Palembang) dan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (Banjar) menjadi poros penting intelektual di Masjidil Haram.

Beliau aktif menulis karya-karya berbahasa Melayu-Jawi yang menyebarkan gagasan pembaruan Islam sekaligus membakar semangat patriotisme melawan kolonialisme Barat yang sedang terjadi di tanah air.

Puncaknya, pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang menjadi tanda era keemasan di mana ulama-ulama Indonesia berkesempatan memegang otoritas tinggi di koridor kegiatan mengajar Masjidil Haram.

Ada nama Syekh Junaid al-Batawi (Betawi), ulama yang sangat dihormati, salah satu pusat rujukan fiqih Mazhab Syafii di Makkah.

Panggung Dunia

Lalu ada Syekh Nawawi al-Bantani (Banten) yang turut memperkokoh posisi Indonesia di panggung dunia.

Beliau Dijuluki Sayyid Ulama al-Hijaz (Pemimpin Ulama Hijaz). Beliau menulis lebih dari 115 kitab lintas disiplin, mulai dari tafsir (Al-Munir) hingga fiqih dan tasawuf yang hingga saat ini menjadi kurikulum wajib di berbagai lembaga pendidikan.

Mengawali abad ke-20, paman Haji Agus Salim (Menteri Luar Negeri Pertama Indonesia) yang bernama Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi mencetak sejarah sebagai ulama Nusantara pertama yang ditunjuk menjadi Imam Besar sekaligus Khatib dan Mufti Mazhab Syafii di Masjidil Haram.

Dari majelis-majelis pengajarannya di dekat pintu Ibrahim Masjidil Haram, pernah singgah & akhirnya lahir sebagai para pendiri organisasi besar di Indonesia, seperti K.H. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) dan KH. Hasyim Asy’ari (Nahdlatul Ulama).

Terdapat pula nama Syekh Mahfudz At-Tarmasi (Termas-Pacitan), ahli hadis kelas dunia yang menjadi ulama Nusantara satu-satunya yang diizinkan mengajar kitab monumental Shahih Bukhari di Masjidil Haram pada saat itu.

Mata rantai sanad hadis ini lalu diestafetkan kepada Syekh Muhammad Yasin al-Fadani (Minangkabau), yang dijuluki Musnid ad-Dunya (pemegang sanad hadis terbanyak di dunia pada masanya).

Akhirnya tercatat dalam sejarah, pada paruh pertama abad ke-20, hampir 60 persen pengajar Mazhab Syafii di Masjidil Haram diisi oleh para ulama dari Nusantara (Jawiyun).

Sungguh kita berbangga bersama akan goresan tinta sejarah ini. Meski era-era setelahnya mengalami timbul tenggelam, namun di abad 21 ini ternyata terlihat kembali ada sinar harapan akan munculnya estafeta kiprah ulama nusantara yang mendunia.

Di hari rehat tugas pasca pelayanan jamaah Haji di fase puncak Armuzna, penulis berkesempatan diundang ke sebuah majelis ilmu sederhana penuh makna di kawasan Husainiyah dekat kediaman Syaikh Abdurahman As-Sudais.

Beliau yang mengundang adalah seorang ulama muda Indonesia yakni Al Ustadz TGH. Dr. Ahmad Musyaddad, ulama, intelektual, sekaligus tokoh penting asal Nusa Tenggara Barat (NTB) yang memiliki peran krusial di Masjidil Haram.

Beliau dikenal luas sebagai salah satu cendekia yang ditunjuk oleh Kerajaan Arab Saudi untuk menjadi penerjemah resmi Khotbah Wukuf Arafah sejak tahun 2015.

Secara administratif, para penerjemah di Haramain tercatat sebagai dosen di Fakultas Bahasa Dan Terjemahan di Al-Imam Muhammad bin Suud University.

Selain beliau yang di Mekah, ada pula misalnya Ustadz Dr. Ariful Bahri, M.A., salah satu pengisi kajian rutin resmi berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi Madinah di sekitar pintu 19, yang ditunjuk sejak tahun 2019.

Beliau berasal dari Riau, dan menyelesaikan pendidikan dari S1 hingga S3 (doktoral) di bidang akidah di Universitas Islam Madinah.

Kiprah ulama Indonesia di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dari abad ke abad adalah bukti nyata keterlibatan aktif masyarakat Nusantara dalam dinamika intelektual Islam dunia.

Bangsa kita bukan sekadar objek penerima dakwah, melainkan subjek aktif yang turut membentuk arus utama pemikiran keislaman dunia.

Melalui jalur penerjemah, mengajar, menulis kitab, hingga memimpin ibadah di dua masjid suci tersebut, para ulama ini berhasil mengharumkan nama bangsa sekaligus mentransisikan ilmu pengetahuan Islam yang menjadi fondasi hidup penuh keberagamaan di Indonesia hingga hari ini.

Kehadiran sosok seperti Dr. Ahmad Musyaddad dan Dr Ariful Bahri membuktikan bahwa tradisi ulama Indonesia memegang peranan penting di Tanah Suci masih terus berlanjut hingga saat ini, tidak hanya sebagai pengajar di masa lalu, tetapi juga sebagai jembatan ilmu dan syiar di era modern.

Kini kita bertambah yakin akan terus bersinarnya estafeta kiprah ulama nusantara kelas dunia. Harumlah selalu nama bangsa kita, dalam naungan relasi keilmuan dan keislaman antar bangsa.

(Penulis adalah Pegiat di Pusat Studi LONTAR NUSANTARA, juga sedang bertugas sebagai PPIH Angkatan Pertama Kementrian Haji & Umroh Indonesia Tahun 2026)

Tags: opini radio soloposRosnendya Yudha Wigunaulama nusantaraIslam nusantaraulama dunia

Category

  • Lifestyle
  • Opini
  • News
  • Program
  • Event
  • Podcast
  • Galery Foto

Site Links

  • Log in
  • Entries feed
  • Comments feed
  • WordPress.org
  • Copyright
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • About Us

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.