Radio Solopos, SOLO – Festival Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 akan kembali digelar di Pura Mangkunegaran pada 10–12 September 2026.
Memasuki penyelenggaraan ke-18, festival seni tersebut mengusung tema Kinetic Kinship: Beyond Boundaries dan menunjuk komposer terkemuka, Gondrong Gunarto, sebagai Ambassador SIPA 2026.
Sebagai ambassador, Gondrong akan menampilkan karya kolaboratif yang memadukan instrumen gamelan dengan musik populer non-gamelan agar lebih dekat dengan generasi muda.
Gamelan
Upaya mengenalkan gamelan ke ruang publik yang lebih luas sejatinya telah dilakoni Gondrong selama kurang lebih 25 tahun.
Ia bertekad membebaskan gamelan dari stigma bahwa instrumen tradisional ini hanya cocok untuk acara pendopo, pesta pernikahan, tari klasik, atau pertunjukan wayang semata.
Pada penampilannya di SIPA 2026 mendatang, Gondrong tidak hanya menggabungkan bunyi gamelan dengan genre musik modern, tetapi juga mengemas lirik berbahasa Indonesia dan Jawa untuk memperkuat pesan karyanya.
“Intinya, saya ingin membuat kalangan yang tidak biasa mendengarkan gamelan berpikir bahwa gamelan itu indah dan keren,” tuturnya dalam Talkshow Selasar di siaran Radio Solopos, Kamis (6/8/2026)..
Proses kreatif karya ini juga melibatkan seniman muda, termasuk putranya yang berprofesi sebagai komposer.
Bagi Gondrong, perbedaan selera antar-generasi justru memperkaya warna musik yang dihasilkan.
Konsep berkaryanya ini berakar pada prinsip karawitan Jawa, Mat Sinamadan, yang menekankan pentingnya meredam ego dan saling mendengarkan.
“Dalam berkarya maupun berinteraksi sosial, toleransi itu berarti menurunkan ego. Kita harus saling mendengar, saling memperindah, dan saling menghidupi,” tambah Gondrong.
Seni Lintas Negara
Humas SIPA 2026, Lisa, menjelaskan bahwa tema Kinetic Kinship mencerminkan energi manusia untuk terus bertumbuh serta menguatkan ikatan antarindividu.
SIPA hadir sebagai panggung bersama bagi seniman lokal, nasional, hingga mancanegara.
Pada gelaran tahun ini, delegasi dari berbagai negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Selandia Baru dipastikan tampil.
Selain itu, seniman Nusantara dari daerah seperti Aceh hingga Kalimantan juga turut menyemarakkan acara.
SIPA 2026 diselenggarakan secara hybrid dan diproyeksikan menarik sekitar 25.000 penonton secara langsung di Pura Mangkunegaran.
Masyarakat yang tidak hadir di lokasi juga dapat menyaksikan pertunjukan melalui live streaming di kanal YouTube SIPA.
Gondrong mengapresiasi konsistensi SIPA yang mampu bertahan hingga memasuki usianya yang ke-18.
Menurutnya, festival ini merupakan wadah penting bagi perkembangan seni pertunjukan.
“SIPA adalah wadah yang sangat penting bagi Kota Solo, Indonesia, dan dunia. Saya berharap SIPA terus bertahan dan menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal seni pertunjukan serta budaya Nusantara,” tutupnya.
