Radio Solopos, SOLO — Di tengah kesibukan bekerja sebagai pekerja migran di Taiwan, enam anak muda asal Indonesia berhasil menorehkan prestasi luar biasa melalui band metal bernama Jubah Hitam.
Dibentuk pada 2019, band ini bukan hanya menjadi wadah ekspresi seni, tetapi juga menjelma sebagai salah satu band pekerja migran Indonesia yang paling berpengaruh di skena musik Taiwan.
Jubah Hitam beranggotakan Robby (vokal), David (gitar), Andy (gitar), Dion (bass), Feri (drum), dan Haris (synthesizer & vokal).
Seluruh personel merupakan pekerja migran Indonesia (PMI) yang sebelumnya sudah aktif bermusik di Tanah Air, lalu bertemu saat bekerja di Taiwan dan sepakat melanjutkan kecintaan mereka pada musik metal.
Pada Jumat (21/11/2025) malam, Jubah Hitam yang didampingi sang manager Sally Sung hadir di Radio Solopos untuk berbincang bersama penyiar Indra Saputra dalam program Music Fiesta.
“Kebetulan kami hadir di Kota Solo ini juga dalam rangka turut tampil di ajang Rock In Solo 2025. Namun, Jubah Hitam hadir dengan formasi empat personel yaitu Robby, David, Dion, dan Haris. Dua lainnya, Andy dan Feri, tidak dapat bergabung karena aturan ketat pabrik yang melarang cuti,” kata David, di Radio Solopos.

Dalam perbincangan itu, diketahui tak butuh waktu lama bagi Jubah Hitam untuk dikenal publik Taiwan.
Mereka telah tampil di sejumlah acara musik besar dan bergengsi, di antaranya acara perayaan Tahun Baru nasional Taiwan 2025, setara panggung resmi kenegaraan.
Kemudian, tampil di festival seni tahunan populer Nuit Blanche Taipei 2024, festival musik terbesar di Taiwan Megaport Festival 2023, serta tampil rutin di berbagai live house di seluruh penjuru Taiwan.
Kehadiran mereka selalu menarik perhatian komunitas pekerja migran Indonesia yang datang memberikan dukungan, sekaligus mengundang rasa penasaran penonton lokal Taiwan.
Interaksi hangat dengan penonton membuat Jubah Hitam mendapat tempat istimewa dalam skena musik independen di negeri tersebut.
Jubah Hitam mengusung metalcore sebagai identitas musikal utama. Pada tahun 2024, mereka merilis album perdana bertajuk “Tirakat Spiritual” yang berisi 10 lagu orisinal. Karya-karya band ini sarat makna, memadukan unsur spiritual Islam, perjalanan batin, hingga pengalaman personal sebagai perantau.
Beberapa lagu yang menonjol antara lain “Rumah”, ditulis saat pandemi ketika mereka tak bisa kembali ke Indonesia selama bertahun-tahun, “To Become”, yang bercerita tentang pergulatan batin PMI dalam mengambil keputusan hidup, “Kafir” dan “Haram”, yang menggugat kembali cara memahami agama dalam konteks kehidupan modern dan diaspora.
Karya-karya ini lahir melalui proses kreatif yang unik. Di Indonesia, mereka tidak memiliki akses alat rekaman memadai, namun setelah bekerja di Taiwan, mereka mulai membeli peralatan profesional, belajar dari musisi lokal, sekaligus mengasah kemampuan produksi musik.
Prestasi Jubah Hitam menorehkan sejarah baru bagi musik pekerja migran. Mereka adalah band metal PMI pertama yang tampil di acara nasional resmi Taiwan, Band pekerja migran pertama yang tampil di Megaport Festival, festival musik terbesar Taiwan.

Prestasi itu menjadikan band pekerja migran tak lagi dipandang sekadar “hiburan komunitas”, tetapi sebagai bagian integral dari skena musik Taiwan. Energi metal Indonesia mereka perkenalkan kepada lebih banyak pendengar internasional.
Selain bermusik, Jubah Hitam aktif dalam komunitas Indonesian Metalhead Taiwan (IMTW), sebuah kelompok metalhead PMI yang berperan menjembatani budaya metal Indonesia dengan penonton Taiwan melalui penerjemahan informasi konser dan kegiatan komunitas.
Saat ini para personel Jubah Hitam tengah berada di Indonesia untuk beristirahat dan mencari peluang tampil di berbagai kota. Mereka berharap pengalaman panggung kelas internasional yang mereka dapatkan di Taiwan bisa membawa warna baru bagi skena metal Indonesia.
Ke depan, mereka juga berencana kembali ke Taiwan atau negara lain untuk merilis karya-karya terbaru dan memperluas jangkauan pendengar.
