Radio Solopos, SOLO – Cara generasi Z atau Gen Z memandang dunia kerja terus mengalami perubahan. Bagi sebagian generasi muda, kesuksesan dalam karier tidak selalu berarti mendapatkan promosi secepat mungkin atau menduduki posisi pimpinan. Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, kesempatan mengembangkan keterampilan, stabilitas finansial, serta kesejahteraan semakin menjadi pertimbangan dalam menentukan perjalanan karier.
Temuan Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2026 menunjukkan hanya 6 persen Gen Z dan milenial yang menjadikan posisi kepemimpinan sebagai tujuan utama karier. Sementara itu, 44 persen Gen Z memilih perkembangan karier yang bertahap, dibandingkan 25 persen yang menginginkan perkembangan karier dengan promosi cepat. Survei tersebut melibatkan lebih dari 23.000 responden di berbagai negara.
Kondisi tersebut bukan berarti Gen Z tidak memiliki ambisi. Deloitte mencatat bahwa banyak anak muda tetap tertarik pada posisi kepemimpinan, tetapi mereka lebih mempertimbangkan apakah perkembangan karier tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan tanpa mengorbankan kesejahteraan dan kehidupan pribadi.
Pandangan serupa disampaikan Rahmi Damayanti, M.Si., dosen Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University. Dalam artikel IPB University pada September 2026, Rahmi menjelaskan bahwa keputusan sebagian Gen Z untuk tidak mengambil promosi perlu dilihat secara lebih luas dan tidak otomatis berarti mereka tidak ambisius atau tidak ingin berkembang.
Menurut Rahmi, promosi yang selama ini sering dianggap sebagai tanda keberhasilan profesional belum tentu menjadi pilihan utama jika peningkatan jabatan tersebut membuat seseorang kehilangan waktu untuk keluarga, kehidupan pribadi, kesehatan, maupun pengembangan diri.
Perubahan cara pandang tersebut juga terlihat dari semakin pentingnya proses belajar bagi Gen Z. Deloitte mencatat bahwa kesempatan belajar dan pengembangan keterampilan termasuk faktor utama yang dipertimbangkan Gen Z ketika memilih tempat kerja. Di tengah perubahan teknologi, kemampuan beradaptasi dan terus mempelajari keterampilan baru menjadi semakin penting.
Teknologi kecerdasan buatan atau AI juga mulai menjadi bagian dari kehidupan kerja generasi muda. Dalam survei Deloitte 2026, sebanyak 74 persen Gen Z dan 74 persen milenial melaporkan telah menggunakan AI dalam pekerjaan sehari-hari dalam beberapa bentuk. Sebagian besar melihat AI sebagai alat yang dapat membantu meningkatkan hasil kerja, menghemat waktu, serta membuka peluang pengembangan karier.
Di tengah perubahan tersebut, “kerja ala Gen Z” bukan berarti bekerja tanpa target atau menghindari tanggung jawab. Justru, generasi muda sedang membawa definisi baru mengenai bagaimana karier dapat dibangun. Mereka tetap ingin berkembang, tetapi juga mempertimbangkan apakah pekerjaan tersebut memberikan ruang untuk belajar, kehidupan yang seimbang, kondisi finansial yang lebih stabil, dan kesejahteraan dalam jangka panjang.
Bagi perusahaan, perubahan tersebut menjadi tantangan untuk menciptakan lingkungan kerja yang mampu mengakomodasi kebutuhan generasi baru tanpa mengabaikan target organisasi. Sementara bagi Gen Z, dunia kerja menjadi ruang untuk membangun karier sekaligus mengembangkan diri.
Pada akhirnya, perjalanan karier tidak selalu harus berbentuk tangga yang terus naik. Bagi sebagian Gen Z, karier dapat berkembang secara bertahap, berpindah jalur, memperluas keterampilan, atau mengambil kesempatan yang memberikan pengalaman baru.
Di era kerja yang semakin dinamis, ukuran keberhasilan Gen Z bukan hanya seberapa tinggi posisi yang berhasil dicapai, tetapi juga bagaimana mereka dapat terus berkembang tanpa kehilangan keseimbangan dalam menjalani kehidupan.
