Radio Solopos, SOLO — Usaha rumah kos di Kota Solo dinilai masih memiliki prospek yang menjanjikan meski membutuhkan modal besar serta pengelolaan yang matang.
Seorang pelaku usaha kos, Andre, bahkan berhasil mengembangkan usahanya hingga puluhan kamar setelah merintis dari lahan sederhana sejak 2017.
Andre mengatakan awalnya ia memiliki sebidang tanah di kawasan Laweyan yang sempat dibiarkan kosong selama beberapa tahun.
Lahan tersebut kemudian dimanfaatkan untuk membangun usaha kos setelah mendapat saran dari rekan kerjanya.
“Awalnya saya hanya menanam pohon pisang di tanah itu karena merasa lokasinya kurang strategis, masuk gang, dan hanya cukup melewati satu mobil. Setelah mendapat saran teman, akhirnya saya memberanikan diri membangun kos,” ujar Andre dalam talkshow Selasar UMKM di Radio Solopos , Senin (9/3/2026).
Pembangunan kos pertama dilakukan dengan memanfaatkan pinjaman bank sekitar Rp190 juta.
Dana tersebut digunakan untuk membangun enam kamar kos, masing-masing tiga kamar di lantai atas dan tiga kamar di lantai bawah.
Namun, pada awal usaha, tingkat perumahan masih belum stabil. Banyak penghuni kos yang hanya bertahan satu hingga dua bulan sebelum akhirnya pindah.
Kondisi tersebut mendorong Andre untuk menyalakan fasilitas yang tersedia di tempat kosnya.
Ia kemudian menambah berbagai fasilitas yang dibutuhkan penghuni, seperti dapur bersama, mesin cuci, kulkas, televisi bersama, hingga jaringan internet atau Wi-Fi.
Berbagai perbaikan fasilitas tersebut terbukti mampu meningkatkan kenyamanan penghuninya.
Bertahap
Seiring berjalannya waktu, Andre terus menambah jumlah kamar secara bertahap setiap kali memiliki dana tambahan. Dari enam kamar awal, kini jumlah kamar kos yang ia kelola di kawasan Laweyan telah berkembang menjadi sekitar 20 kamar.
Selain di Laweyan, Andre juga mengembangkan usaha kos di kawasan Palur sejak 2025 dengan membeli properti baru untuk dijadikan tempat kos.
Menurut Andre, bisnis kos memang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencapai titik impas atau break even point (BEP).
Berdasarkan pengalamannya, usaha kos umumnya baru mencapai BEP setelah berjalan sekitar tujuh hingga delapan tahun.
Ia menilai perencanaan keuangan menjadi faktor penting agar usaha kos dapat berjalan stabil.
Dalam praktiknya, pendapatan dari sewa kamar digunakan untuk membayar cicilan pinjaman bank sekaligus biaya operasional.
Andre juga pentingnya menjaga kenyamanan penghuni kos.
Menurut dia, fasilitas yang memadai serta pengelolaan yang baik dapat membuat penghuni beta sehingga tingkat hunian tetap tinggi.
Selain fasilitas, pemanfaatan platform digital juga membantu mempromosikan usaha kos.
Ia memanfaatkan media sosial dan layanan peta digital untuk memperluas jangkauan informasi kepada calon penghuni.
Dengan pengelolaan tersebut, tingkat hunian kos miliknya relatif stabil bahkan di masa pandemi Covid-19.
Saat ini sebagian besar kamar kos di Laweyan sudah terisi penuh, sementara unit kos di Palur masih memiliki beberapa kamar yang tersedia.
Andre menambahkan, bagi masyarakat yang ingin memulai bisnis kos, perencanaan yang matang menjadi hal yang penting, mulai dari pemilihan lokasi, perhitungan biaya pembangunan, hingga strategi pengelolaan agar usaha dapat bertahan dalam jangka panjang.
Jika dikelola dengan baik, menurutnya, usaha kos tidak hanya menjadi sumber pendapatan tambahan, tetapi juga dapat menjadi investasi jangka panjang.
